risma-2-140327a

Bila Risma ke DKI

Dimuat Media Indonesia, 12 Agustus 2016

Basuki Cahaya Purnama alias Ahok resmi maju dalam Pilkada DKI tahun 2017. Ia didukung oleh tiga partai: Partai Golongan Karya, Partai Nasional Demokrat, dan Partai Hati Nurani Rakyat. Sementara itu, spekulasi mengenai penantang Ahok masih berlangsung. Belum ada titik terang siapa penantangnya. Satu-satunya partai, di luar pendukung Ahok, yang sudah menyebutkan nama adalah Gerindra. Mereka akan mengusung pengusaha Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur DKI. Persoalannya, suara Gerindra di DPRD DKI tidak mencukupi untuk mengusung calon sendiri. Mereka membutuhkan dukungan partai lain.Karena itu, pencalonan Sandiaga Uno masih berada di wilayah remang-remang.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah satu-satunya partai yang memiliki peluang mendukung calon sendiri. Ada dua nama yang muncul ke permukaan. Pertama adalah Basuki Cahaya Purnama. Persoalannya, PDIP dan Ahok nampaknya masih sangat susah sampai pada satu titik kesepahaman.

Di satu sisi, PDIP adalah partai pemenang pemilu di DKI. Mereka berhak mengajukan satu nama calon tanpa koalisi dengan partai manapun. Karena itu, sulit bagi PDIP sebagai pemenang Pemilu melamar seorang calon dari luar partai.

Sebaliknya, Ahok sudah terlanjur muncul sebagai politikus dengan karakter yang tidak mau tunduk pada partai. Dia menawarkan kinerja dan platform sebagai bargaining politik. Dia berkukuh tidak ingin melamar di partai manapun. Dia memasang harga tinggi dengan mendorong relawan mengumpulkan KTP. Dia memberi pilihan yang tak bisa ditawar: didukung partai atau dia akan maju dengan sejuta KTP yang telah terkumpul.

Berbasis Kinerja

Bila PDIP dan Ahok tidak menemukan kata sepakat, maka alternatif terbesar untuk diusung adalah Tri Rismaharini. Risma adalah kader PDIP yang dinilai berhasil membangun Kota Surabaya. Sedikit banyak, PDIP menuai citra positif dari keberhasilan salah satu kadernya ini.

Profil Risma sebagai kepala daerah yang memperoleh apresiasi tinggi dari publik berdasarkan kinerja dianggap alternatif penantan Ahok yang setara. Menurut survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada akhir Juni 2016, elektabilitas Ahok di Ibukota didukung oleh tingkat kepuasan publik pada kinerjanya. Dari dua kali survei opini publik SMRC mengenai kinerja Gubernur DKI Jakarta, tingkat kepuasan publik pada Ahok meningkat dari 63% (Agustus 2015) ke 69,7% (Juni 2016. Apresiasi publik berdasarkan kinerja inilah yang membuat para penantang Ahok kesulitan mencari lawan tanding. Di antara sedikit pilihan itu, Risma adalah figur yang paling potensial.

Walaupun demikian, ada beberapa persoalan yang perlu dicermati bila Risma benar-benar maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Pertama, Risma nampaknya memiliki profil yang sama dengan petahana, Ahok. Dua tokoh ini memiliki kinerja yang baik di mata publik. Elektabilitas mereka berdasarkan kinerja. Keduanya tidak memiliki modal lain seperti kultur, darah, finansial, dan semacamnya.

Dengan modal yang relatif sama, Ahok diuntungkan sebagai petahana. Walaupun Risma begitu popular dan memiliki tingkat penerimaan yang tinggi di Surabaya, bukan hal yang mudah untuk mentransfer itu semua ke Jakarta. Pada Pilkada serentak tahun lalu, Risma menang telak di angka 86,22%. Tapi itu terjadi pada masyarakat di mana dia bekerja, tempat di mana hasil-hasil kerjanya menjadi alat-alat kampanye yang paling efektif. Di Jakarta, dia tidak memiliki kemewahan memamerkan hasil kerja semacam itu.

Sebaliknya, semua hasil pembangunan di Jakarta justru akan diklaim oleh Ahok sebagai petahana. Survei SMRC juga menemukan bahwa 57,4% alasan warga memilih Ahok adalah karena ia dinilai berhasil membuktikan hasil kerjanya.

Kedua, jika Risma maju dan mesin politik pendukungnya bekerja maksimal, sangat mungkin basis pendukung Ahoklah yang akan tergerogoti. Pada survei SMRC (Juni 2016) dengan simulasi tiga nama, elektabilitas Ahok berada di angka 55-58% suara. Mengingat bahwa belum ada satupun nama resmi penantang Ahok yang keluar, angka ini sebetulnya belum terlalu solid. Karena itu, mengingat Ahok dan Risma memiliki kesamaan karakter personal, kemungkinan mereka akan berbagi pendukung. Jangan lupa bahwa 81% pemilih PDIP sekarang ini mengaku akan menjatuhkan pilihan pada Ahok. Jika Risma maju, kemungkinan pendukung PDIP itu akan terbelah. Demikian pula dengan pendukung partai-partai lain.

Kelola Isu

Dalam situasi di mana Ahok dan Risma berebut ceruk suara yang sama, maka calon dengan karakter keunggulan lain bisa menarik manfaat. Katakanlah calon lain itu adalah seorang tokoh agama atau mereka yang menggunakan sentimen agama. Betatapapun rasionalnya pemilih ibu kota, sentimen agama masih memiliki basis pendukung. Jakarta sendiri sejak lama adalah basis partai-partai agama. Jika isu agama dan etnisitas berhasil dimaksimalkan, bukan tidak mungkin baik Ahok maupun Risma akan tumbang di Jakarta. Dan jika itu terjadi, Indonesia akan kehilangan dua pemimpin pekerja dalam satu waktu.

Akhir kata, kehendak untuk memajukan Risma pada Pilkada DKI Jakarta nampaknya perlu dipertimbangkan lebih matang dengan memperhatikan sebesar-besarnya kepentingan publik, baik publik Jakarta, Surabaya, maupun Indonesia secara lebih luas.

2c7fcb00-cb4f-4058-9a74-35be94418293_43

Ahok Belum Tergoyahkan

Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan publik Jakarta masih dominan mengunggulkan Basuki Cahaya Purnama dalam Pilkada 2017 nanti. Pertama, belum ada kandidat lain yang secara serius diusung oleh partai politik, kecuali partai-partai yang mendukung Ahok. Kedua, publik merasakan manfaat langsung kinerja petahana dalam melakukan perbaikan pelayanan publik, reformasi birokrasi, perbaikan ruang-ruang publik, pembangunan infrastruktur, dan akuntabilitas.

Berikut ini talkshow tentang paparan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tentang opini publik Jakarta dan kinerja pemerintah provinsi.

Bagian Pertama

Bagian Kedua

Bagian Ketiga

IMG_3901

Bersepeda

0755a089-6ca4-4900-92be-11d318d282bf

Regenerasi Kakao di Sulawesi Barat

Ini adalah pohon kakao atau coklat. Warna kuning ini menunjukkan bahwa buah ini sudah siap dipetik. Saya hidup bersama pohon-pohon kakao di masa kecil. Saya ikut menanam, memelihara, memetik, mengupas, dan menjemur bijinya.

Kakao sebetulnya memiliki daging. Daging itu meliputi biji seperti pada buah durian. Tapi daging kakao lebih tipis dan lembut. Rasanya manis. Sedikit asam. Tapi manis. Begitulah.

Saya mengalami dan hidup bersama kakao di Mamuju, Sulawesi Barat.

Sulawesi Barat memiliki dua kekayaan: sumber daya alam dan manusia. Dengan luas wilayah 16,787 km2 (setengah Jawa Tengah) dan populasi sebanyak 1,2 juta jiwa (30 kali lebih kecil dari Jawa Tengah), Sulbar memiliki kekayaan alam yang berlimpah-limpah. Selain itu, daerah ini juga dihuni oleh penduduk dengan beragam latar belakang suku dan agama. Keragaman itu mendorong sikap terbuka dan suasana kompetitif antar-warga yang sangat penting bagi pembangunan.

Dengan keberlimpahan sumberdaya alam dan manusia itu, Sulawesi Barat berhak mendapatkan pemimpin yang bisa memanfaatkan potensi daerah menjadi energi pembangunan. Sulbar berhak mendapatkan pemimpin yang mengayomi semua individu sebagai warga yang setara.

Tahun 2017, warga Sulbar akan menentukan pemimpin mereka melalui pemilihan kepala daerah langsung. Ini adalah Pilkada ketiga bagi mereka. Dari calon-calon yang muncul di media massa, sejauh ini rakyat Sulbar belum diberi pilihan alternatif di luar para elit yang memang sudah mapan. Nama-nama bakal calon itu adalah para pejabat, pemimpin politik daerah, anggota DPR, mantan calon gubernur, mantan bupati, jenderal, dan pengusaha.

Di satu sisi, munculnya nama-nama yang telah mapan itu akan mempermudah publik melacak rekam jejak calon kepala daerah. Informasi mengenai mereka relatif tersedia. Namun di sini lain, publik seolah tidak diberi pilihan alternatif, suatu pilihan yang mungkin bisa menyegarkan politik daerah. Di sini terlihat regenarasi politik di Sulbar, sebagaimana daerah lain, belum berjalan ideal.

Baca laporannya di seputarsulawesi…

IMG_9494-3

Eucalyptus

Engkau menceritakan kepadaku tentang kotamu. Suatu lembah yang dikeruk lebih dalam. Menjadi telaga. Gedung-gedung bersama pohon tumbuh di sekitarnya. Di pagi hari dan menjelang senja kakaktua putih berjambul kuning bertengger di reranting eucalyptus. Di bawah pohon-pohon berbatang putih itu berlarian kelinci berwarna kelabu. 
Pada suatu hari, kataku, aku ingin ke kotamu. Berjalan di atas padang ilalang tempat hidup koala dan platypus. Melihat rerumput hijau kuning pembungkus bukit-bukit. Atau sekedar mencium aroma daun kayu putih yang di tangkainya melilit possum dengan mata menyala di malam hari. 
Tapi engkau melarangku. Katamu, kota itu tidak cocok untuk aku kunjungi. Udaranya terlampau panas di musim kering. Terlampau dingin di musim gigil. Aku yang sepanjang umur hidup di udara rata-rata tidak akan tahan. Kulit tropisku akan mengkerut di musim dingin, melepuh di musim panas, dan terkelupas di musim gugur. Adapun musim semi. Ia akan datang teramat singkat untuk penderitaanku sepanjang tahun. 

Baca lengkapnya…

IMG_9490

Menghidupkan Lagi MAPK

Pada akhir tahun 1980an, Menteri Agama Munawir Syadzali membangun Madrasah Aliah Program Khusus (MAPK). Sekolah agama setingkat SMA ini dibuat terbatas dengan seleksi masuk yang sangat ketat. 
Salah satu misi MAPK adalah menghadirkan atau memperkenalkan khazanah keilmuan umum pada dunia santri. Tujuannya jelas agar para santri berprestasi yang berhasil masuk MAPK itu bisa menguasai ilmu-ilmu Islam tradisional dan modern sekaligus. Karena itu mereka bisa fasih bicara keislaman dalam bingkai kemoderenan, demikian sebaliknya. Alumnus-alumnus MAPK tidak gagap menghadapi perubahan, tapi pada saat yang sama memiliki akar pada tradisi keislaman.
Hampir 30 tahun sejak pertama dibuka, sejumlah alumnus MAPK mulai berkiprah di dunia pemikiran Islam maupun aktivisme di Tanah Air. Tidak berlebihan kemudian jika muncul suara-suara untuk menghidupkan kembali MAPK atau sekolah agama dengan pendekatan serupa.
Laporan selengkapnya di seputarsulawesi.com

IMG_9489-1

Merawat Kebebasan dari Radikalisme

Sejak Reformasi, radikalisme agama bangkit. Ini terkait dengan ruang kebebasan yang semakin lebar bagi semua ideologi dan pemikiran. Sebelumnya, di masa Orde Baru, gerakan Islamis hanya ada di bawah permukaan, menjadi gerakan bawah tanah, dan hanya aktif di masjid-masjid kampus. Demokrasi memberi ruang bagi mereka untuk eksis.
Sekalipun begitu, ruang keterbukaan ini menjadi wadah pertarungan banyak ide dan gagasan. Radikalisme biasanya subur pada masyarakat tertutup. Sifatnya doktrinal. Karena itu, ruang keterbukaan di era demokrasi ini adalah peluang bagi mereka untuk eksis, tapi pada saat yang sama juga adalah tantangan terbesar bagi mereka.
Anak-anak muda yang menerima beragam dan memiliki akses yang luas pada informasi tidak akan tertarik pada gagasan yang justru ingin membatasi kebebasan. Itu yang menjelaskan kenapa gerakaan radikalisme marak di awal reformasi, tetapi semakin riuh ditentang oleh anak-anak muda sekarang ini. Gagasan ketertutupan mereka tidak hanya ditolak, tapi semakin ditertawakan.
Kuncinya adalah kebebasan. Jika ruang kebebasan ini berhasil dijaga, secara alamiah gagasan radikalisme agama akan tersingkir dan semakin tidak menarik.

Read more…

df4acfd8-2805-4470-84de-9ab841548c2c_mw1024_mh1024_s

Tergerusnya Demokrasi

Dunia sedang mengalami resesi demokrasi. Jurnal of Democracy (Januari 2015) mengangkat tema besar tentang fenomena mundurnya demokrasi secara global. Transisi demokrasi yang muncul di negara-negara Timur Tengah ternyata tak kunjung selesai. Libya, Irak, Yaman dan Syiria jatuh ke dalam instabilitas politik berkepanjangan dalam bentuk perang sipil. Mesir yang berhasil menggulingkan rezim diktator militer Husni Mubarak melalui gerakan massa fenomenal justru kembali terjungkal ke dalam kediktatoran militer baru di bawah pimpinan Jenderal al-Sisi.

Continue reading “Tergerusnya Demokrasi”

1432982047613400240

Poros Jakarta-Beijing II

Sebelumnya dimuat di Kompas, 15 Desember 2014

Tidak kurang dari 27 miliar dollar AS komitmen investasi Tiongkok di Indonesia setelah kunjungan Joko Widodo ke Beijing. Ini adalah bukti penting tentang semakin merekatnya hubungan kedua negara.

Beijing adalah kota pertama yang dikunjungi Jokowi setelah resmi menjadi Presiden Republik Indonesia. Selain menghadiri forum ekonomi dunia, APEC, kunjungan ini sesungguhnya juga memiliki makna simbolis tentang hubungan Indonesia dan Tiongkok. Meski Jokowi menyatakan hubungan Indonesia dan Tiongkok telah berlangsung ratusan tahun, sebagai negara modern hubungan ini naik-turun, bahkan putus-sambung.

Continue reading “Poros Jakarta-Beijing II”

new_south_china_mall_by_uberpicklemonkey-d68gobu

Kota Hantu: Paradoks Pembangunan Cina

Panji-panji dengan dominasi merah berkibar di dalam mall. Papan-papan reklame telah lama terpasang. Gerai-gerai belanja berjejer pada koridor yang panjang. Lift dan tangga berjalan siap digunakan. Bangunan super besar ini berdiri di atas lahan lebih dari 17 hektar. Inilah Mall New South China. Ini adalah mall terbesar di planet bumi. Satu-satunya yang membedakan mall ini dengan mall-mall lain di seluruh dunia adalah orang. Mall ini hampir kosong dari hiruk pikuk orang. Hampir tidak ada orang yang berbelanja. Gerai-gerai yang diperuntukkan bagi para penjual juga kosong. Ini lebih menyerupai mall untuk para hantu, di mana penjual dan pembeli adalah hantu yang tak nampak oleh mata manusia.

Continue reading “Kota Hantu: Paradoks Pembangunan Cina”