Landasan Teologis Agama Kerakyatan

Muhammad Ja’far, “Dasar Epistemologis Agama Kerakyatan (Media Indonesia, 12 Desember 2003), telah memberikan sebuah fondasi awal bagi kelahiran konsep “agama kerakyatan.” Gagasan agama kerakyatan maupun dasar epistemologisnya sangat menarik untuk diperdebatkan lebih jauh. Bukan hanya karena masalah ini adalah masalah yang sensitif, melainkan juga karena menawarkan satu cara pandang radikal tentang konsep keberagamaan yang berbeda dari mainstream selama ini.

Argumen yang diajukan oleh Muhammad Ja’far tentu tidak bisa dibantah sepenuhnya, sebagaimana juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Perdebatan tentang landasan epistemologis lahirnya sebuah agama telah berlangsung, barangkali, sejak agama itu lahir. Orang yang mengatakan bahwa agama itu betul diturunkan dari Tuhan dan bersifat absolut transendental adalah satu pendapat. Yang mengatakan agama sebagai hanya hasil proyeksi manusia adalah pendapat yang lain lagi. Keduanya susah untuk dibantah, karena masing-masing tidak bisa memberikan bukti empiris. Tidak ada yang bisa memverifikasi ada atau tidak adanya Tuhan. Ini adalah wilayah perdebatan yang masih abu-abu.

Para pemikir sekuler Barat telah lama mendesakralisasi posisi Tuhan. Ludwig Feuerbach mengatakan, Tuhan dan agama tidak lebih dari hasil proyeksi manusia. Kaum Marxis berpendapat, konsep tentang agama dan Tuhan muncul sebagai bentuk kekalahan manusia berdialektika dengan alam. Alih-alih menghadapi alam dengan kerja, manusia kalah itu malah lari dan menghayalkan kekuatan transenden di luar dirinya. Durkheim mempublikasikan sebuah penemuan, bahwa agama dan Tuhan pada awalnya lahir sebagai bentuk pemujaan terhadap solidaritas. Tapi semua pendapat ini tidak pernah bisa membuktikan secara jelas, bahwa Tuhan itu betul-betul tidak ada. Satu hal yang pasti, hampir seluruh penduduk bumi ini adalah penganut agama dan percaya bahwa Tuhan ada, betatapapun pembuktian tentang Tuhan ada belum dilaksanakan.

 

Yang lebih bijak dilakukan bukanlah larut dalam perdebatan tak berujung di atas, melainkan segera masuk ke wilayah perdebatn yang lebih kontekstual. Yang menjadi persoalan bukan darimana agama itu berasal, tapi apa misi yang dibawa oleh agama tersebut. Gagasan tentang agama kerakyatan adalah gagasan menarik dan patut untuk dilacak sumber teologisnya. Pencarian sumber teologis mutlak dilakukan, karena nantinya ide ini akan berhadapan dengan realitas penganut agama yang sangat fanatik dengan konsep dan landasan keberagamaan mereka. Persoalan ini tidak cukup dijelaskan dengan argumen rasional. Penjelasan yang menggunakan idiom-idiom dan sejarah agama akan sangat membantu.

 

Sejarah kelahiran dan ajaran agama memberikan banyak kontribusi bagi konsep agama kerakyatan. Tidak ada satu agama yang tidak membawa misi kerakyatan. Musa, sebagai pemimpin kaum Yahudi, datang sebagai pembawa risalah kemanusiaan. Ia bukan hanya menunjukkan penyelamatan satu kaum tertindas bernama Yahudi dan mengarahkannya menuju Tanah Yang Dijanjikan, tapi juga mengeluarkan sebuah komitmen kemanusiaan yang sangat terkenal. Salah satu dari Sepuluh Perintah Tuhan yang diberikan kepada Musa di gunung Sinai adalah “janganlah engkau membunuh.” Sebuah perintah yang sangat agung di tengah kultur saling memusnahkan masa itu. Kendatipun akhirnya kaum Yahudi awal itu harus melakukan perebutan atas tanah yang mereka klaim sebagai Tanah Yang Dijanjikan, Yerussalem. Mereka akhirnya harus mengusir dan membunuh kaum Het, Girgasi, Amori, Kanaan, Feris, Hewi, dan kaum Yebus. Tapi toh di dalam dasar ajaran mereka tertancap sebuah prinsip untuk saling melindungi sesama manusia. Sikap Musa yang memperjuangkan kaum Yahudi adalah satu sikpa pemihakan kepada kaum tertindas, Yahudi pada saat itu ditindas oleh kekuasaan Raja Mesir, Ramses II.

 

Agama Kristen dikenal sebagai agama spritual yang sangat menjunjung tinggi perdamaian dan kemaslahan ummat manusia. Yesus memerintahkan memberikan pipi kiri apabila pipi kanan ditampar. Bahkan ketika Yesus ditangkap oleh Gubernur Romawi, Pontius Pilate, karena dakwahnya yang merugikan pemerintah secara politik, Yesus bahkan tidak memberikan perlawanan dan pembelaan, bahkan secara lisan. Keteladanan seperti ini adalah mutiara dalam kehidupan dunia. Pola hidup saling mengasihi antar sesama akan menjadi pintu masuk bagi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama seluruh ummat manusia.

 

Islam, dalam pengertian bahasanya adalah kedamaian—tentu saja yang dimaksud adalah ada kedamaian ummat manusia. Dalam salah satu konsep utamanya, Islam disebut sebagai rahmatan lil aalamin (rahmat bagi seluruh alam). Islam bukan hanya agama kerakyatan, kemanusiaan, tapi juga agama bagi tumbuh-tumbuhan, bagi bumi, dan bagi seluruh alam. Ajaran Islam sangat mencela perusakan di muka bumi. Tahun 638, ketika pasukan Umar berhasil merebut kota Yerussalem, dengan unta putih ia memasuki kota suci itu. Diantar oleh Uskup Sophronius, Khalifah Umar berjalan-jalan mengamati bangunan-bangunan suci di sana. Lalu ketika tiba waktu salat dan Khalifah Umar sedang berada di Gereja Makam Suci, sang Uskup mempersilahkan Umar salat di tempat mereka berada. Tapi Umar menolak dan ia melakukannya di tempat lain. Bagi Umar, kalau ia saat itu melakukan salat di Gereja Makam Suci, maka gereja itu akan dimusnahkan kaum muslim untuk membangun sebuah mesjid di sana. Dan kini telah berdiri sebuah mesjid di tempat Umar melaksanakan salat saat itu. Betapa mulia penghargaan kemanusiaan yang ditunjukkan salah satu faunding father agama Islam itu.

 

Kendati demikian, tentu saja akan banyak kasus dimana agama kadang-kadang menjdi malapetaka agi kehidupan manusia, yakni ketika agama terseut menjadi alat legitimasi bagi penindasan, pemusnahan, dan keserakahan ummat manusia. Kaum Yahudi telah membantai penduduk Yerussalem dan mengobarkan perang terhadap ummat lain yang dinilai pagan dan kafir, saat ini ia juga meneror Palestina. Pada abad 11, Paus Urban II telah mengobarkan semangat Perang Salib yang sangat bersejarah. Ratusan ribu ummat Kristiani harus bertempur habis-habisan dengan pasukan Muslim. Pada abad pertengahan, bertahun-tahun gereja menjadi alat legitimasi kekuasaan yang menindas rakyat. Sejarah Islam juga menorehkan luka bagi sejarah kehidupan manusia. Pembunuhan dan pembantaian terjadi sepanjang kekaisaran Islam. Islam juga digunakan para penguasa untuk melegitimasi kedudukannya dan untuk menyingkirkan para penentangnya atasnama agama. Rakyat menjadi nomor dua atas nama Tuhan.

Di atas segalanya, agama tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Agama masih bertahta di dalam hati sebagaian besar ummat manusia. Mengembalikan citra agama yang cinta damai dan pro terhadap kesejahteraan ummat manusia adalah sebuah usaha yang patut dilanjutkan. Ruh kerakyatan yang ad dalam setiap agama harus dimunculkan dan mendominasi kehidupan beragama. Sependapat dengan Ja’far, para pemuka agama harus terlibat langsung dalam sosialisasi gagasan ini. Masjid, gereja, dan tempat-tempat ibadah lain harus menjadi corong bagi kebangkitan kemanusiaan di muka bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s