Opportunity Spaces: Gerakan Sosial Islam di Turki

Program liberalisasi ekonomi di Turki (1980-1993) menciptakan apa yang disebut the new opportunity spaces (disingkat OS). OS terjadi dalam bentuk adanya media independen, institusi finansial, fasilitas-fasilitas pendidikan swasta yang kemudian melahirkan transformasi budaya dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Dalam konteks masyarakat Muslim Turki, hal ini berdampak pada gerakan sosial Islam yang lambat laun menjadi penentang serius bangunan sekularisme Kemalis. Mereka menggunakan institusi-institusi ekonomi dan ruang publik untuk menegaskan identitas mereka. OS yang tercipta tersebut membawa implikasi pada terbentuknya pola gerakan Islam Turki. Ada dua model gerakan Islam yang muncul dari fenomena ini: social-oriented Islamic movement dan state-oriented Islamic movement. Yang pertama merupakan kelompok yang memiliki akses ekonomi yang cukup baik sehingga mereka berhasil membangun gerakan dengan menggunakan fasilitas kemajuan tersebut. Yang kedua adalah kelompok masyarakat yang lahir dari marjinalisasi sosial-ekonomi.Secara umum aktivisme atau gerakan sosial Islam masuk ke dalam kelompok the new social movement. Gerakan sosial baru ditandai oleh munculnya motivasi baru dalam bentuk identitas, kepercayaan, simbol, dan nilai-nilai kehidupan, bukan sekedar ekonomi dan kelas sosial. Dalam hal ini, Islamic social movement menjadi contoh bagaimana gerakan sosial mendobrak batas pembedaan tindakan kolektif dan individual. Term wilayah privat dan publik perlu didefinisikan ulang. Islamic social movement menggerakkan identitas Muslim sebagai yang privat untuk masuk ke dalam ruang publik. Mereka tidak hanya berjuang demi pengakuan identitas melainkan juga “mempublik” melalui identitas pribadi. Di sini, identitas dan lifestyle dipertunjukkan, dikontestasikan, bahkan diimplementasikan.Perkembangan ekonomi di Turki menyebabnya semua aspek kehidupan mengarah kepada interaksi yang sepenuhnya mengikuti alur kompetisi pasar. Dinamika inilah yang kemudian menyuburkan arus diseminasi ide di dalam media: koran, majalah, televisi, radio dan internet. Perkembangan yang seolah tampa batas ini memungkinkan para aktor Muslim membentuk jaringan diskusi publik seluas-luasnya. Hal itu menjadi lahan subur bagi persemaian kelompok-kelompok Islam untuk membangun proses politik dan kultural bagi perubahan sosial yang akhirnya membantu mereka membentuk kesadaran sosio-politik baru.

Tipologi Gerakan Sosial Islam

Sekularisme yang dicanangkan oleh Kemal Attaturk sebetulnya tidak sepenuhnya mengubah masyarakat Turki yang pada dasarnya religius. Ketika sekularisme diterapkan, religiositas tetap hidup dalam masyarakat Turki dan muncul dalam beragam bentuk. Bahkan selama proyek sekularisme, pemerintah Turki selalu berhadapan dengan religiusitas tersebut. Islam pada akhirnya menjadi oposisi abadi bagi pemerintahan Turki yang sekuler.OS memberikan kesempatan bagi muncul gerakan sosial Islam. Karena dilatarbelakangi oleh fenomena kehidupan ekonomi, maka orientasi pasar membuat gerakan Islam muncul dalam beragam bentuk. Ada empat pola yang digambarkan oleh M. Hakan Yavus dengan sangat baik berikut ini:

  Repertoire of Action (Strategies and Means)
Legitimate Illegitimate
G   O   A   L   S VerticalLeninist state-centric-elite-based vanguard movement from above Reformist Partisipasi dengan harapan  bisa mengontrol negara atau membentuk kebijakan-kebijakan melalui pembentukan partai Islam dan membangun aliansi dengan partai lain. Target: pendidikan, sistem legal, dan kesejahteraan sosial Hasil: akomodasi Revolusi Menolak sistem serta menggunakan kekerasan dan intimidasi   Target: negara  Hasil: Konfrontasi
Horizontal Society-centric associational identity-oriented from below Societal (Everyday Life-Based Movement) Kelompok-kelompok menggunakan jaringan media dan komunikasi untuk menciptakan ruang diskursif bagi konstruksi identitas Islam; menggunakan pasar dalam rangka menciptakan surga di bumi; memandang Islam sebagai modal kultral; menggunakan jaringan kelompok untuk memberdayakan komunitas. Target: media, ekonomi, pendidikan (pribadi). Hasil: integrasi Spritual/inward Keluar dari kehidupan politik dan menganjurkan self-purification dan self-consciousness     Target: kesadaran keagamaan  Hasil: penarikan diri dari kehidupan sosial

 Pertama, state-oriented Islamic movement memiliki cenderung otoritarian dan elitis dalam pengambilan keputusan. Mereka percaya bahwa penyakit masyarakat hanya bisa disembuhkan dengan mengontrol negara dan memperkuat keseragaman dan hegemoni ideologi agama. Dialog tidak dimungkinkan. Ia bisa muncul dalam bentuk revolusioner, yakni secara frontal menyerang negara, tetapi juga bisa muncul dalam bentuk reformis dengan mengikuti arus demokrasi atau berkoalisi untuk merebut kekuasaan secara legal, untuk selanjutnya mendesakkan kepentingan-kepentingan ideologisnya.Kedua, society-oriented Islamic movement. Gerakan ini muncul dalam dua pola. (1) everyday life-based. Mereka mempengaruhi masyarakat dan individu dan menggunakan jaringan komunikasi modern dan tradisional untuk mengkonstruksi idealisasi identitas dan pandangan baru. (2) inward-oriented contemplative movements. Gerakan ini muncul dari dalam diri individual untuk memutuskan hubungan atau keluar dari apa yang mereka anggap sebagai sistem sosio-politik illegitimate. Gerakan ini dipraktikkan oleh kaum Sufi Nakhsabandi yang begitu kuat di Turki.

Pengaruh Neo-liberal

Sampai tahun 1990-an, pemerintah Turki masih mengontrol pendidikan dan telekomunikasi. Negara juga menerapkan sistem ekonomi over nasionalistik dengan menerapkan pajak yang begitu tinggi bagi kaum borjuis luar. Kebijakan ini diambil untuk membendung dominasi pengusaha Armenia, Yunani, dan Yahudi yang sangat besar di Turki. Sejak pengambil-alihan kekuasaan oleh militer, 1998, penguasa baru, Turgut Ozal perlahan-lahan mengubah sistem ekonomi dengan membuka pasar dan menetapkan sistem pasar bebas. Kebijakan ini dianggap kontroversial oleh sebagian besar pengusaha. Kebijakan pasar bebas hanya didukung oleh pebisnis-pebisnis kecil dan menengah di pelbagai provinsi dan kota-kota kecil. Dukungan dari pebisnis-pebisnis ini muncul dari sektor pengecer, dealers, builders, restoral pribadi, industrialis kecil dan menengah, pengolah makanan, mereka yang selama ini tidak pernah tergantung kepada pemerintah. Pengusaha-pengusaha Muslim adalah yang paling dominan dalam kelompok borjuis kecil ini. Pasar bebas memberikan keuntungan berlipat dalam usaha ekspor tekstil dan makanan mereka. Kebijakan privatisasi yang dijalankan oleh Ozal langsung menjadi lahan subur bagi kehidupan sosial independen yang tidak tergantung pada negara. Kebijakan ekonomi neo-liberal, dalam kasus Turki, terbukti menciptakan dan memperluas ruang masyarakat untuk dapat membangun kontraktual barunya, baik dalam ekonomi maupun politik. Mereka yang “kalah” dalam proses ini menjadi bibit gerakan sosial yang beriorientasi negara dan mendesakkan klaim keadilan sosial melalui identitas politik. Sementara para “pemenang” membentuk gerakan sosial yang memperkuat civil society melalui pelbagai instrumen sosial.

Proses Fragmentasi Pluralis

Kebangkitan ekonomi Islam Turki yang dipicu oleh pasar bebas membuat konstelasi sosial, politik, dan budaya berubah drastis. Kelompok pengusaha Islam, yang merasa diuntungkan oleh sistem ini, membentuk MUSIAD (Association of Independent Industrialists and Businessmen) sebagai perlawanan terhadap TUSIAD (The Association of Turkish Industrialists and Businessmen). MUSIAD terutama muncul dari kelompok Nurcu dan Nakhsabandi. Tarekat Nakhsanadi sendiri telah lama memiliki kelompok-kelompok bisnis. MUSIAD dengan tegas menggunakan jaringan Islam untuk kepentingan ekonominya. MUSIAD mendukung sepenuhnya integrasi ekonomi Turki ke dalam ekonomi global. Mereka meyakini sistem itulah yang mewakili semangat keislaman mereka. Muhammad bahkan dipercaya menjadi contoh ideal bagi diterapkannya sistem ekonomi kapitalis. Hakan Yavuz menyebut fenomena ini sebagai “Islamic Ethics in the Spirit of Capitalism.” Kelompok ini bahkan mempublikasikan sejumlah buku, salah satunya berjudul Homo Islamicus, sebagai padanan bagi Homo Economicus.Keterbukaan ekonomi juga membuka ruang perubahan yang lain: seni, sastra, fashion, dan makanan. Interaksi antar kultur begitu kuat sehingga tercipta selera musik atau kehidupan lain tercipta secara tak terduga di pelbagai tempat. Fenomena ini tepat digambarkan oleh Gellner: “modernitas menciptakan high culture-nya sendiri.”Terciptanya ruang kesempatan baru dalam kebangkitan ekonomi Islam ini juga membawa perubahan dalam pendefinisian keislaman itu sendiri. Hubungan antara kebiasaan konsumsi dan kelompok agama ditransformasikan ke dalam pola konsumsi borjuis. Integrasi agama ke dalam budaya konsumen menciptakan beberapa implikasi: identitas agama didefinisikan ke dalam produksi barang-barang massa yang menguasai imej tentang Islam; ruang media, pendidikan, pasar, dan fashion diislamisasi melalui pola konsumen; kepatuhan dan ketundukan religious ditransformasikan ke dalam komoditi modern melalui restylization.  Hakan Yavuz memberi contoh menarik bagaimana Caprice Hotel dan fashion membuat nyaman konsumennya: konsumen menikmati produk modern tanpa kehilangan identitas keislamannya. Islam dikapitalisasi.

Homogenisasi

Jika kaum Muslim di banyak wilayah Turki lain menikmati berkah pasar bebas, maka tidak demikian halnya di wilayah Sultanbeidy. Masyarakat Sultanbeidi sangat miskin, bahkan sebagian warganya hidup dari pekerjaan di jalanan. Sistem dirasakan sangat tidak menguntungkan mereka. Negara tidak memberikan kepastian dan jaminan hidup, sementara pasar bebas semakin memarginalkan mereka. Akhirnya, Islam menjadi pelarian yang paling rasional dari sikap apatis mereka.Identitas keislaman mereka menguat semata-mata sebagai identitas oposisional terhadap negara dan sistem. Mereka meyakini bahwa negaralah yang bisa menolong. Di wilayah inilah gerakan sosial Islam yang beriorientasi negara tumbuh subur.


[1] Disarikan dari tulisan M. Hakan Yavuz, Opportunity Spaces, Identity, and Islamic Meaning in Turkey.

Advertisements

One thought on “Opportunity Spaces: Gerakan Sosial Islam di Turki

  1. fibri pakdene luthfan

    Menarik sekali kalau setiap kali kita membicarakan masalah mengenai interesst group, kalau boleh saya mo nanya. kira2 ada nggaak hubungan antara perubahan prientasi kebijakan luar negeri turki sekarang dengan pengaruh dari nur movement. please, ane butuh soale buwat ngerjakan skripsi, n itu rumusan masalahnya. Bantu ane ya bro?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s