Ber-Islam ala Turki

Koran Tempo, 29 September 200

Ada yang menarik dari gejolak politik Turki belakangan ini. Kekuatan “Islam” mulai muncul di Turki menyusul kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Recep Tayyep Erdogan kemudian disusul oleh terpilihnya tokoh Islamis Abdullah Gul sebagai presiden menggantikan Ahmed Necdet Sezer. Naiknya kelompok Islamis disebut-sebut akan menggerus tradisi sekuler yang telah dirintis oleh Mustafa Kemal Ataturk sejak mula pendirian Turki modern.

Turki adalah sebuah kasus yang sangat unik dalam studi politik dunia. Sejak didirikan tahun 1923, Turki menyatakan diri sebagai negara sekuler. Pilihan untuk menjadi negara sekuler ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa unik di tengah hegemoni konservatifisme agama masyarakat Muslim dunia. Turki, bekas pusat pemerintahan dunia Islam, adalah satu-satunya negara berpenduduk mayoritas Islam yang menyatakan diri sebagai negara sekuler.

Tidak hanya unik di tengah dunia Islam lain, model sekularisme Turki juga sangat berbeda dengan model sekularisme di negara-negara sekuler lain di manapun di dunia ini. Turki menerapkan sekulerisme secara ketat dengan menerapkan larangan penggunaan simbol-simbol agama di ruang publik. Pada tataran yang paling ekstrem pemerintah Turki seringkali tampak sebagai rezim anti-agama.

Penerapan sekulerisme Turki yang sangat ketat kemudian diperparah oleh terlibat aktifnya militer dalam pemerintahan dengan alasan untuk mengawal sekularisme. Keterlibatan militer dalam politik akhirnya membawa Turki menjadi negara sekuler-otoriter. Berkali-kali politik Turki harus berhadapan dengan arogansi militer. Selama kekuasaan kaum sekuler-otoriter, interaksi sosial seperti ekonomi, pendidikan, dan politik dikontrol secara ketat.

Dari semua kontrol yang diterapkan oleh pemerintah sekuler Turki, yang paling merasakan akibat buruknya adalah masyarakat Islamis, yakni mereka yang masih menjaga budaya Islam tradisional. Namun sekalipun secara struktural Turki dikuasai oleh rezim sekuler, tetapi masyarakat dengan ideologi Islam tidak pernah benar-benar hilang. Mereka bergerak di bawah tanah menjadi kekuatan kultural yang setiap saat bisa muncul.

Satu-satunya persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Islam Turki adalah kalangan militer yang kerapkali bertindak brutal terhadap semua gerakan sosial yang berbau Islam. Tapi hal tersebut hanya berlangsung sampai tahun 1990-an. Berubahnya sistem ekonomi Turki, yang tadinya tertutup dan dikontrol oleh militer menjadi sedikit terbuka, membuka kesempatan bagi kalangan Islam untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi secara luas. Pemerintahan Turgot Ozal yang kemudian benar-benar mengambil kebijakan ekonomi baru bagi Turki membuat masyarakat yang awalnya tertindas secara ekonomi kemudian bangkit secara massif.

Kelompok-kelompok sosial yang bangkit tersebut adalah kalangan Islam. Dengan sistem ekonomi bebas, mereka berhasil masuk ke dalam kancah pertarungan ekonomi tanpa harus khawatir didiskriminasi oleh kekuatan ekonomi terpimpin yang dikuasai oleh kalangan sekuler-militer. Menurut M. Hakan Yavuz, Opportunity Spaces, Identity, and Islamic Meaning in Turkey, para pendukung pasar bebas di Turki tidak datang dari kalangan sekuler, melainkan dari kalangan Islam yang secara tradisional masih menjaga seluruh stradisi ritual agama. Kalangan sekuler tidak mendukung gagasan ekonomi liberal (bebas) karena mereka adalah pemegang kekuasaan kontrol ekonomi melalui militer. Itulah sebabnya, di Turki, kalangan Islamlah yang sangat getol memperjuangkan bergabungnya Turki dengan Uni-Eropa.

Para pelaku ekonomi Muslim Turki masuk ke kancah pasar bebas dengan tidak meninggalkan tradisi Islam itu sendiri. Bahkan mereka kerapkali menggunakan simbol-simbol “Islam” dalam pelbagai transaksi ekonomi liberal atau kapitalis tersebut. Mereka menjadikan segala ritual dan simbol-simbol Islam sebagai komoditas yang sangat penting. Busana Muslim bahkan menjadi salah satu komoditas penting di kalangan masyarakat Islam Turki. Dalam hal ini, Islam tidak hanya menjadi agama, melainkan juga menjadi komoditas ekonomi.

Prinsip seperti ini didukung sepenuhnya oleh kalangan agamawan. Bahkan mereka menetapkan bahwa prinsip ekonomi Islam sangat sesuai dengan prinsip ekonomi kapitalis, yakni perdagangan bebas. Muhammad bahkan dijadikan rujukan utama dalam aktivitas perdagangan bebas tersebut. Muhammadlah yang memberi contoh bahwa perdagangan harus dilakukan antar negara secara bebas. Hakan Yafuz menyebut fenomena ini dengan istilah The Islamic Ethics and The Spirit of Capitalism (sebagai perbandingan dengan karya klasik Max Weber, The Protestan Ethics and The Spirit of Capitalism).

Berangkat dari penerapan sekularisme secara brutal dan unik, masyarakat Muslim Turki tumbuh secara unik pula. Mereka tidak sepenuhnya membenci sekularisme, melainkan menawarkan cara pandang baru, baik terhadap sekularisme ala Turki maupun terhadap tradisi keislaman itu sendiri. Mereka mengusung sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam (agama atau tradisi) tetapi pada saat yang sama tidak melupakan prinsip kebebasan. Kebebasan bahkan dimaknai secara teologis sebagai sebuah perintah yang esensial di dalam agama itu sendiri. Jika banyak kelangan Islam merindukan terbentuknya sebuah masyarakat Islam tetapi sekaligus modern, barangkali Turki bisa menjadi salah satu contoh yang cukup baik.

 

Advertisements

2 thoughts on “Ber-Islam ala Turki

  1. Na2

    Yg penting ttp slg menjg perdamaian.jdlah islami cinta damai,hindari hal2 yg berbau kekerasan yg memakai simbol2 agama islam.hal itu sgt memalukan,agar islam bkn menjd sesuatu yg ditakutkan,dimusuhi dan ditahlukan,ttp menjd sahbt.sesuai tauladan nb muhammad.islamic go to succes economic and all study in the world.mdh2n allah mengabulkan doa dan hrpn kt.amin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s