Ciputat Sepeninggal Cak Nur

Buletin Bingkai, 2006

Satu simbol kebangkitan intelektual Ciputat yang diakui banyak orang adalah almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Kehadiran Cak Nur (panggilan akrab Nurcholish Madjid) telah merubah Ciputat dari satu wilayah pinggiran pergerakan intelektual Indonesia dan kemudian bergerak ke tengah. Ciputat kemudian semakin menjadi salah satu sentra produsen intelektual dengan hadirnya puluhan intelektual “pengikut” Cak Nur. Berita gembira datang sebab kebesaran Cak Nur ternyata tidak dinikmatinya sendiri, melainkan telah menginkarnasi ke dalam garis gerakan intelektual Ciputat secara umum. Nama-nama besar seakan tak kunjung pupus setelah Cak Nur meninggal dunia. Sebagai seorang pemikir besar, gagasan Cak Nur tidak menjadi “Tuhan” bagi pemikir setelahnya, melainkan menjadi batu loncatan untuk mengembangkan dan meradikalkannya. Diakui memang pelbagai disiplin pemikiran berseliweran dalam ekspresi gagasan-gagasan Cak Nur. Tentu saja bukan hal yang mudah mencari bandingnya. Cak Nur membahas semua hal dan berupaya melakukan sintesa. Kelebihan Cak Nur yang sulit tertandingi adalah bahwa dia melanglang-buana dalam aras pemikiran modern dan kontemporer, tapi juga sangat kuat mengakar pada tradisi pemikiran tradisional. Ia menatap masa depan, tapi tak pernah mau melepas masa lalu. Berkali-kali Cak Nur menekankan bahwa para Indonesianis harus mengetahui Bahasa Arab dan tradisi Islam. Belajar Indonesia tidak hanya belajar teori-teori modern, tapi juga harus mengetahui dasar budaya dan pemikiran tradisional yang melandasi masyarakat Indonesia berinteraksi. Di akhir hayatnya, Cak Nur tetap menekankan agar putra-putrinya belajar Bahasa Arab. Penguasaan disiplin ilmu tradisionallah yang membuat intelektual Ciputat tampil beda. Mereka begitu fasih berbicara tradisi dengan menggunakan pisau analisa ilmu sosial modern.

Celah Cak Nur

Cak Nur memang seorang pemikir besar, tapi bukan berarti ia tanpa celah. Intelektual-intelektual Ciputat penerus Cak Nur tampil lebih progressif dan terfokus. Pada salah sebuah diskusi tentang pemikiran Cak Nur di Universitas Paramadina, pemikir muda, Ulil Abshar-Abdalla, menyatakan bahwa era pasca Cak Nur bukan lagi era di mana ilmu pengetahuan berada di tangan satu tokoh secara komperehensif. Intelektual pasca Cak Nur adalah intelektual yang terspesialisasi dan lebih progressif. Apa yang dikemukakan oleh Ulil memperoleh pembenaran pada fragmentasi intelektual Ciputat saat ini. Intelektual Ciputat, saat ini, tidak lagi tampil untuk menjawab semua persoalan, melainkan sudah mulai masuk ke dalam spesialisasi disiplin keilmuan. Pada masa Cak Nur, setiap persoalan, mulai dari politik, ekonomi, kalam, filsafat, seni, dan masalah sosial lainnya, bisa ditanya kepada dan dijawab oleh Cak Nur. Saat ini, intelektual Ciputat memiliki otoritasnya masing-masing dalam menjawab pelbagai persoalan berbeda. Bicara teologi, maka Zainun Kamal adalah ahli di bidang itu. Zainun Kamal tidak akan bicara mengenai perpolitikan atau konsolidasi demokrasi, itu adalah otoritas Saiful Mujani atau Bachtiar Effendi. Bicara filsafat Islam, maka Mulyadi Karnegara-lah yang memiliki otoritas untuk menjawab persoalan itu, bukan Saiful Mujani atau Bachtiar Effendi. Bicara teori atau perkembangan teori feminisme, di Ciputat ada Siti Musdah Mulia atau Neng Dara Affiah. Membahas mistik Islam atau tasawwuf, Kautsar Azhari Noer yang akan menjawab.Pada ranah progresifitas, intelektual Ciputat pasca Cak Nur tidak lagi, misalnya, terpaku pada debat teologis mengenai bagaimana mengkomparasikan atau mengkombinasikan antara doktrin keislaman dan masalah kekinian. Yang lebih diperhatikan oleh intelektual Ciputat pasca Cak Nur adalah bagaimana membangun dunia. Debat kompatibilitas antara demokrasi dan Islam sudah usai, yang lebih penting adalah bagaimana hidup berdemokrasi. Jika pada masa Cak Nur, intelektual sibuk menjawabdan mengais serpihan doktrin agama untuk dijadikan landasan teologis bagi pembangunan dunia, maka saat ini dunia sedang dibangun. Capaian lain yang tidak atau jarang ditemukan di masa Cak Nur adalah lompatan intelektual Ciputat untuk tidak lagi bertarung pada level perdebatan teologis dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Para intelektual Ciputat, saat ini, mencoba melepaskan beban teologis dalam pergerakan intelektualnya. Saiful Mujani atau Bachtiar Effendi, misalnya, mencoba tidak lagi terjebak pada debat-debat teologis dalam membahas persoalan politik. Bukan hanya pada disiplin ilmu “sekuler”, ilmuan Islamic studies juga mencoba hal yang sama, yakni menjadikan kajian Islam sebagai kajian objektif yang tanpa perlu sibuk dengan beban teologis. Itulah sebabnya intelektual Ciputat kerapkali tampil bicara dalam forum lintas teologi. Kondisi ini, misalnya, dibangun oleh Kautsar Azhari Noer dalam mempelajari tradisi mistik Islam dan agama yang lain. Dengan mengambil posisi seperti ini, para intelektual Ciputat kerapkali harus menghadapi golongan Islam garis keras karena pernyataannya yang tanpa beban teologis tadi. Zainun Kamal adalah intelektual Ciputat yang paling sering mendapat sorotan dari kalangan Islam radikal karena sering “melanggar tabu” tersebut. Pada titik ini, intelektual Ciputat tampaknya juga lebih “berani” daripada intelektual masa Cak Nur. Cak Nur masih mengaku bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk kebesaran Islam. Sementara intelektual pasca Cak Nur tidak memiliki tendensi untuk kebesaran Islam atau untuk apapun, selain untuk kebesaran ilmu pengetahuan itu sendiri. Tentu saja pernyataan tadi terlalu simpilistis. Tapi tidak bisa dinafikan, gelombang besar ke arah model pemikiran tersebut diatas sedang mewabah di kalangan intelektual Ciputat, terutama pada kalangan mudanya. Yang lebih belakangan, calon-calon intelektual Ciputat telah tersebar di berbagai perguruan tinggi luar negeri dengan beragam disiplin ilmu, bahkan yang sama sekali jauh dari kesan Islamic studies.

Melampaui Inklusifisme

Jika kategori kebergamaan eksklusifisme, inklusifisme, ilberalisme, dan pluralisme cukup valid untuk memotret fenomena tradisi intelektual Ciputat, maka akan didapati bahwa intelektual pasca Cak Nur juga melangkah maju dalam kategori ini. Cak Nur adalah pelopor tradisi pemikiran dan kebaragamaan inklusif, yang oleh karenanya ia mendobrak tradisi eksklusifisme. Sementara intelektual Ciputat pasca Cak Nur cenderung melangkah lebih jauh dengan menjadi lebih liberal dan pluralis, bahkan multikulturalis. Sikap keberagamaan eklklusif adalah satu sikap di mana terjadi monopoli kebenaran. Kaum eklusif selalu menutup diri terhadap “yang lain.” Bagi kaum eksklusif, kebenaran hanya dimiliki oleh dia dan kelompoknya, yang lain tidak lebih dari iblis, setan, sampah, sesat, dan perlu diluruskan atau dimusnahkan.Sepanjang pengembaraan intelektual Cak Nur, paham eklusif seperti di atas ditentang mati-matian. Bagi Cak Nur, Kebenaran memang berada di tangan “kita.” Tapi bukan berarti dengan itu kita harus memberangus “yang lain.” Kebenaran kita justru akan melindungi keberadaan yang lain. Inklusifisme masih mengakui kebenaran tunggal, kendati ia tidak menafikan keberadaan yang lain. Kebenaran tunggal yang kita miliki tidak mengahalangi kita untuk “bergaul” dengan yang lain.Intelektual Ciputat pasca Cak Nur melampaui pandangan kebenaran ala kaum inklusif. Mereka tidak hanya membiarkan “yang lain” untuk eksis, tapi juga mengakui bahwa kebenaran tidak hanya satu, melainkan banyak. Kebenaran berserak di berbagai tempat. Oleh karena itu, tidak ada yang berhak mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, dan yang lain itu sesat. Kaum pluralis, mengakui bahwa kebenaran pada masing-masing orang dan kelompok itu akan selalu ada, selalu beragam, dan tidak akan pernah dapat disatukan. Kebenaran akan selalu banyak. Berbeda dengan Cak Nur yang mengemukakan teori bahwa hanya ada satu Tuhan atau kebenaran, yang berbeda adalah cara setiap orang mendekati-Nya. Oleh karena itu, bagi Cak Nur, semakin jauh dari pusat kebenaran, maka akan semakin terlihat perbedaan. Pada titik ini, Cak Nur berada pada garis pemikiran monistik, pemikiran yang mengandaikan universalisme kebenaran. Kaum pluralis tidak percaya pada universalisme. Satu-satu yang universal adalah keberserakan perbeda-bedaan itu sendiri. Paham seperti inilah yang cenderung muncul di kalangan intelektual Ciputat pasca Cak Nur, disadari atau tidak. Ahli tasawwuf seperti Kautsar Azhari Noer, misalnya, tidak pernah lagi, sejauh yang penulis amati, menyatakan tentang kebenaran tunggal Islam. Kautsar kini selalu bicara tentang kebenaran agama-agama menurut masing-masing agama itu sendiri. Pemikiran yang sama di anut oleh banyak intelektual di Ciputat.Di samping pluralisme, yang melampaui pemikiran Cak Nur, di Ciputat juga mulai berkembang pemikiran liberal. Meskipun istilah ini cenderung beragam di banyak tempat. Tapi dalam konteks ini, liberalisme bisa dipahami sebagai sebentuk gerakan intelektual yang “tidak peduli” pada apakah kebenaran itu ada atau tidak, posisinya di mana, dan seterusnya. Kaum liberal hanya berdiri pada satu prinsip bahwa hidup ini beragam, baik kepentingan, ekonomi, sistem kepercayaan, gender, strata sosial, dan seterusnya. Oleh karena itu, diperlukan satu sistem tata kehidupan yang bisa menjamin kebebasan keberagaman itu ada dan eksis. Bagi kaum liberal, semua orang bebas berkompetisi dalam kehidupan publik, apapun latar belakang sosial dan kepercayaannya. Dalam perjalanan selanjutnya, kaum liberal Ciputat inilah yang banyak mendapat soroton. Mereka kerapkali dianggap sebagai kaum yang “liar” dan “serba boleh”. Padahal kaum liberal justru menginginkan tatanan kehidupan yang baik bagi tumbuhnya sikap saling menghormati dan menjaga kebebasan orang untuk mengaktualisasikan kepentingan hidupnya. Bagi orang liberal, kebebasan justru menjadi tameng bagi terbentuknya kehidupan sosial yang tertata. Ke”liar”an justru akan mereda di dalam sistem kehidupan liberal.

Dialog

Sadar atau tidak, terjadi dialektika pada dua model pemikiran keberagamaan terakhir, antara pluralisme dan liberalisme, di Ciputat. Kaum pluralis—sekali lagi ini simplifikasi—mengkritik kaum liberal pada aspek keinginan kuat kaum liberal untuk menciptakan tata dunia yang lebih baik. Pada titik ini, kaum liberal, diakui atau tidak, masih mengandaikan kebenaran universal, yakni kehidupan yang tertata dalam bingkai kebebasan. Kekurangan besar liberalisme adalah memberi ruang bagi munculnya otoritarianisme baru dengan dalih kebebasan. Ketika kebebasan menjadi ukuran kebenaran, maka harus ditentukan siapa yang paling berhak mengatasnamakan kebebasan? Sementara kaum liberal juga melancarkan kritik kepada kaum pluralis, pada aspek ketiadaan pegangan yang ditawarkannya. Jika kebenaran itu berserak, dan tidak ada yang bisa mengklaim satu kebenaran, maka bagaimana dunia harus dibangun? Pluralisme, meskipun tidak pernah diakui, tidak lain dari doktrin yang melegalkan keterpecahan dan kehidupan yang chaotic. Bagi kaum liberal, pemaksaan yang dilakukan oleh lembaga otoritas yang legal harus tetap ada untuk menjamin kebebasan dan keragaman. Sementara kaum pluralis, hanya mengakui keragaman, tanpa memberikan solusi apa-apa bagi bahaya keterpecahan dan bentrok antar kebenaran. Bahkan pluralisme kerapkali membenarkan “bentrok” antar kebenaran itu dengan mengatakan bahwa kebenaran yang banyak itu tidak akan pernah menyatu, dan selamanya akan bertentangan. Perdebatan ini terus berlanjut dan menjadi wacana yang paling menarik di kalangan intelektual Ciputat saat ini. Perdebatan ini hilir mudik dalam dialog-dialog teologis, filsafat, mistisisme, politik, dan seterusnya. Tentu saja selalu ada kesimpulan yang dicapai pada setiap dialog. Tapi kesimpulan itu tidak ada sempurna. Semuanya rapuh. Tapi dengan itulah kaum intelektual Ciputat memperlihatkan bahwa mereka adalah manusia, bukan Tuhan, atau wakil Tuhan, atau pemegang kunci kebenaran.

Advertisements

One thought on “Ciputat Sepeninggal Cak Nur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s