Dicari, Wanita Ideal Indonesia!

Pelaksanaan Pemilihan Putri Indonesia yang telah menjadi rutinitas setiap tahun masih menjadi ajang yang penuh kontroversial. Kontroversialitas Pemilihan Putri Indonesia tersebut muncul dari argumen kultural masyarakat Indonesia yang masih sangat selektif terhadap penetrasi budaya luar yang dinilai “a-susila.” Standar moral budaya dan agama nampaknya masih terlalu mendominasi state of mind masyarakat Indonesia, termasuk dalam hal Pemilihan Putri Indonesia. Di atas segalanya, kontroversial seperti ini tentu membawa nuansa lain, tidak semata kontroversial an sich, tapi di baliknya tersirat sebuah pergulatan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri.

Analisa Kultural

Penolakan terhadap Pemilihan Putri Indonesia terutama harus diamati dari faktor budaya. Emile Durkheim, salah satu founding father bidang ilmu sosiologi, membagi pola budaya sosial masyarakat ke dalam dua bagian: pertama, solidaritas mekanik. Pola interaksi sosial masyarakat seperti ini didasarkan pada hubungan primordilitas, seperti agama, suku, ras, dan pertalian darah. Solidaritas mekanik bergerak di atas prinsip kebersamaan emosional. Di dalamnya terbentuk norma-norma yang sangat ketat dan mengikat. Pelanggaran terhadap norma akan sangat mengusik sensitifitas solidaritas, sehingga pelanggarnya akan dikenakan sangsi yang bersifat represif, pelanggar akan dikucilkan, dibuang, bahkan dihukum mati. Pola interaksi sosial seperti ini banyak terdapat di dalam masyarakat tradisional.

Kedua, solidaritas organik. Berbeda dengan solidaritas mekanik, solidaritas organik dibangun di atas prinsip pembagian kerja, dimana antara satu individu dengan individu lainnya masing-masing memiliki fungsi sosial yang saling menutupi. Komunitas tidak terbangun berdasarkan primordialitas, tapi berdasarkan kepentingan dari masing-masing anggotanya. Solidaritas ini juga memiliki aturan dan norma tersendiri, tapi pelanggarnya tidak direpresi, melainkan diberikan sangsi yang bersifat restitutif, membangun, yakni memulihkan solidaritas organik itu sendiri. Solidaritas seperti ini muncul dalam pola interaksi sosial masyarakat industri modern dan perkotaan.

 

Dan rupa-rupanya masyarakat Indonesia masih bergerak tidak stabil di antara dua pola solidaritas di atas. Mempersoalkan Pemilihan Putri Indonesia dengan alasan budaya adalah salah satu pola sikap yang biasanya muncul dalam masyarakat dengan solidaritas mekanik atau tradisional, yaitu bahwa setiap sesuatu diukur dengan standar-standar kaku yang terdapat dalam norma budaya tradisional, dan bukan dengan penalaran rasional. Sementara antusiasme sebagian masyarakat yang lain untuk ikut atau sekedar memberi apresiasi positif terhadap ajang Pemilihan Putri Indonesia tersebut adalah bentuk pemberontakan terhadap norma-norma tradisional yang kaku, yang sekaligus menandai pergerakan menuju masyarakat solidaris organik yang mengedepankan rasionalitas dan kebebasan untuk mengekspresikan pilihan hidup, selama hal tersebut tidak mengganggu kebebesan orang lain.

Bagi masyarakat organik, Pemilihan Putri Indonesia tidak akan cacat moral, selama itu tidak mengganggu dan melanggar hak orang lain untuk berekspresi. Sebaliknya dengan kalangan solidaritas mekanik, mereka menganggap hal tersebut tabu berdasarkan norma-norma absolut yang terdapat dalam budaya dan agama tradisional Indonesia. Tetap terlaksananya Pemilihan Putri Indonesia menjadi tanda bagi pergerakan masyarakat menuju tatanan yang lebih modern.

Misunderstanding

Komentar dan penolakan terhadap ajang Pemilihan Putri Indonesia kerap kali juga muncul karena kesahalan konsepsi dan kecurigaan yang berlebih terhadap kontes tersebut. Pemilihan Putri Indonesia kerapkali diidentikkan dengan perlombaan yang hanya menonjolkan keindahan fisik dari semua peserta. Bahkan, kenyataan bahwa asumsi seperti itu lebih banyak mengandung kekeliruan daripada kebenaran sering kali diabaikan—alias tidak menyebut tidak mau menerima kenyataan. Bahwa kecantikan fisik adalah salah satu faktor penilian, betul, tapi bukan berarti itu adalah faktor tunggal. Kecantikan dari dalam, inner beauty, juga adalah faktor utama—kalau bukan yang terpenting. Pemilihan Putri Indonesia adalah ajang bagi pencarian putrid atau wanita ideal bagi bangsa Indonesia. Wanita ideal Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecantikan fisik (ragawi), tapi yang lebih utama adalah bagaimana kecantikan muncul dari dalam yang mengejawantah melalui kecerdasan, skill, dan kepiawaian menggunakan naluri kewanitaan. Oleh karenanya, setiap kali Pemilihan Putri Indonesia dilaksanakan, para finalis atau peserta tidak hanya berdiri di depan dewan juri dan memamerkan pesona fisik mereka, tapi juga harus tanggap mengomentari berbagai masalah yang diajukan para penguji. Bahkan sebetulnya kecantikan yang nampak juga tidak lepas dari kepiawaian dan kecerdasan seorang wanita merawat fisiknya, memilih model rambutnya, atau menentukan corak pakaian yang pas buat penampilannya. Tugas seperti ini tentu tidak terlalu mudah diejawantahkan.

 

Dan hadirnya seorang finalis Pemilihan Putri Indonesia tahun ini dari Nanggro Aceh Darussalam yang ternyata mengenakan jilbab, semakin meluluhlantakkan berbagai komentar miring yang meliputi ajang Pemilihan Putri Indonesia, bahwa ternyata penilaian dewan juri tidak didominasi penilaian “syahwat.” Bahkan, sebetulnya, ajang seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi wanita Indoensia, bagaimana seharusnya menjadi wanita ideal. Di tengah budaya masyarakat Indonesia yang masih begitu terpukau oleh penampilan luar, Pemilihan Putri Indonesia mendobraknya dengan menghadirkan nuansa lain dari sebuah keterpukauan, yakni keterpukauan terhadap kemampuan objektif dari seorang manusia. Kecantikan seorang wanita tidak hanya diukur dari fisik yang bersifat natural, tapi juga oleh pola sikap, inner beauty, skill, dan kecerdasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s