JIMM Bukan Ukuran Kebangkitan Kaum Muda Muhammadiyah

Di tengah hiruk-pikuk berita politik, di lembar Opini berbagai surat kabar juga ramai muncul penulis-penulis muda yang mengaku sebagai intelektual muda Muhammadiyah. Hampir tiap hari, bahkan kadang-kadang sehari bisa dua atau tiga tulisan, koran-koran nasional menampilkan mereka dengan identitatas Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Berbagai macam analisis mereka lontarkan ke publik, bukan hanya analisis keagamaan, tapi juga politik dan sosial.

Fenomena ini, oleh Deliar Noer, ‘Second’ Muhammadiyah (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) (Republika, 8/12), disebut sebagai gejala kebangkitan kaum muda Muhammadiyah, setelah fenomena yang sama terjadi pada NU. NU telah lama diramaikan oleh kebangkitan kaum mudanya. Kaum muda NU itu terlibat dalam berbagai pergolakan pemikiran dan aktivitas. Kebangkitan kaum muda NU terutama terlihat dalam apa yang disebut Jaringan Islam Liberal dan Post Tradisionalisme Islam.

Ada benarnya juga menyebut JIMM sebagai gejala kebangkitan kaum muda Muhammadiyah. Tapi ketika kita sudah masuk pada tataran konsep dan karakter spesifik, JIMM tidak menunjukkan visi dan misi yang jelas. Kebangkitan kaum muda NU nampak jelas mengusung sebuah landasan konsep yang bertanggungjawab. Kaum muda NU membawa satu bentuk pembaharuan pemikiran di tubuh NU yang kadang terpasung dalam penjara suci para ulama. Kaum muda NU pembaharu menawarkan satu pola pikir pembebasan, konstruktif, dan emansipatoris. Sementara itu, JIMM, setidaknya sampai saat ini, belum memberikan sumbangan berarti dalam hal karakter spesifik dari gerakan mereka. JIMM masih nampak sebagai sekumpulan kaum muda Muhammadiyah yang mengidentifikasi diri sebagai intelektual muda. Arah dan tujuan gerakannya belum terkonsep secara jelas.

 

Kesimpulan ini dapat diambil dari pengamatan terhadap tulisan-tulisan kaum muda Muhammadiyah tersebut. Tidak ada arah yang jelas. Kadang-kadang kita temui antara satu tulisan dengan tulisan yang lainnya saling bertentangan. Tulisan-tulisan Ahmad Fuad Fanani, misalnya, sangat kontras dengan tulisan Zainal Muttaqien. Fuad sering mengungkapkan tentang perlunya pembaharuan pemikiran ke arah yang lebih membebaskan. Sementara Zainal justru menulis sebuah pembelaan terhadap fundamentalisme Islam. Demikian pula tulisan-tulisan yang lain.

 

Barangkali juga terlalu pagi untuk menyimpulkan bahwa JIMM hanyalah sekedar pertemuan kalangan muda Muhammadiyah. Tapi itulah kenyataan yang sampai saat ini terlihat. Dalam hal ini, JIMM hanya bagian dari organisasi-oraganisasi pemuda Muhammadiyah yang telah ada saat ini, seperti IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Organisasi-oraganisasi pemuda seperti itu juga banyak dikenal di tubuh NU, seperti Ikatan Putra NU (IPNU), Ikatan Putri-putri NU (IPPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan sebagainya.

 

Tentu saja kebangkitan kaum muda NU tidak ditandai dengan hadirnya oraganisasi-organisasi pemudanya. Sebab organisasi-organisasi seperti itu lebih bersifat organisasi massa, ketimbang sebuah organisasi yang menandai sebuah perubahan mendasar dalam kedua Ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Kebangkitan kaum Muda NU lebih ditandai karena di sana muncul gerakan pemikiran yang lebih maju daripada para orang tua di tubuh NU. Islam Liberal dan Post Tradisionalis Islam dalam NU menandai pergolakan dan gerak maju tersebut.

 

Bukan berarti perkumpulan pemuda secara massif tidak bisa menyumbangkan sebuah gerak pembaharuan dan kemajuan, tapi bukan itu ukurannya. Muhammadiyah dan NU sejak lama telah mempunyai organisasi-oraganisasi pemuda, seperti yang disebut di atas. Melihat dari belum adanya visi dan misi yang jelas, JIMM belum bisa dikategorikan sebagai tanda kebangkitan kaum Muda Muhammadiyah.

 

Oleh karenanya, mengharapkan sesuatu yang terlalu banyak, sebagaimana Deliar Noer harapkan, dari JIMM adalah tindakan yang sedikit berlebihan. JIMM masih sebuah komunitas yang belum jelas arah tujuannya. Memberikan arah dan tujuan kepada JIMM juga bermasalah. Sebab pola pikir dan pola prilaku tidak mungkin dipaksakan kepada seseorang, apalagi itu sebuah komunitas yang pembentukannya tidak berdasar atas satu komitmen yang sama. Melihat dari tulisan-tulisan anggota JIMM, sekali lagi, kesamaan visi itu tidak ada.

 

Hal ini juga sangat bisa dimaklumi, karena dalam tubuh Muhammadiyah pun sebenarnya tidak ada kesatuan visi. Apa yang terjadi di kalangan elit sangat jauh berbeda dengan kenyataan di kalangan bawah. Orang-orang seperti Amin Rais, Syafii Ma’arif, Kuntowijoyo, Amin Abdullah, Muslim Abdurrahman, dll. sangat langka di kalangan Muhammadiyah lapisan bawah dan sebagian besar warga Muhammadiyah. Hal seperti ini juga terjadi dalam tubuh NU.

 

Yang membedakan kaum muda  NU yang bangkit dengan JIMM adalah bahwa kaum muda NU itu tidak lagi mengidentifikasi diri sebagai NU, sebaliknya dengan JIMM. Dan yang paling utama, kalangan muda NU yang bangkit itu bukanlah kumpulan orang yang massif. Mereka berkumpul karena ada satu misi dan pola pendirian yang sama, bahwa mereka harus membebaskan diri dari kungkungan pemikiran yang tidak membebaskan. Sementara JIMM, sekali lagi melihat beberapa tulisannya, tidak pada posisi yang sama.

 

Tentu saja kita tidak menampik adanya tanda kebangkitan kaum muda Muhammadiyah. Tapi JIMM, saya kira, bukan ukuran kebangkitan itu. Kalangan muda Muhammadiyah yang aktif menulis dan menawarkan ide-ide segar ke publik adalah fenomena kebangkitan itu. Kaum muda Muhammadiyah seperti Ahmad Najib Burhani, Sukidi, Piet Hizbullah Khaidir, Ahmad Fuad Fanani, Izza Rohman Nahrowi, Abdul Muid Nawawi, Zainal Muttaqin, Seif el-Jihadi dan sebagainya adalah figur-figur masa depan kebangkitan Muhammadiyah. Dan tentu saja mereka telah bangkit jauh sebelum JIMM terbentuk.

 

Adalah naif kalau menilai sebuah kebangkitan organisasi besar dari massifitas anggotanya. JIMM, sejauh ia tidak memperlihatkan sebuah pergolakan intelektual, masih jauh dari prinsip-prinsip kebangkitan. JIMM, selauh ia merupakan organisasi yang memawahi kaum muda Muhammadiyah secara massif, maka tidak ada salahnya menyimpulkan JIMM sebagai wadah alumni IMM, IRM, dan organisasi pemuda Muhammadiyah lainnya. Akibatnya, JIMM hanyalh merupakan perkumpulan massa. Betul bahwa di tubuh JIMM banyak terdapat kaum muda Muhammadiyah yang mengagumkan, tapi mereka tidak lahir dari JIMM. JIMM satu hal, dan kaum muda Muhammadiyah yangbangkit itu juga lain hal.

Barangkali pada titik inilah Pak Deliar Noer melihat peluang politik dari organisasi JIMM. Karena JIMM masih erupa organisasi massa, bagi Deliar Noer, JIMM bisa melakukan gerakan yang sifatnya politis, misalnya bergabung dengan salah satu kekuatan politik dan bergerak melakukan perubahan sosial. Ini mungkin rasional melihat dari massifnya anggota JIMM. Namun ini juga memprihatinkan, belum apa-apa, JIMM sudah ingin dilibatkan dalam gerakan politik. Alih-alih melakukan pembaharuan, kalau JIMM terlibat dalam gerakan politik, ia akan jatuh ke dalam kubangan lumpur pragmatisme politik. Akibatnya, beberapa kum muda yang sebetulnya memiliki potensi pembaharuan juga akan terjerumus ke dalam kubangan lumpur tersebut. Dan, pupuslah sudah harapan kebangkitan kaum muda Muhammadiyah.

 

Di atas segalanya, kerja JIMM belum selesai. Kita masih akan menunggu, apa yang bisa dilakukan kaum muhammadiyah ini dengan JIMMnya. Apakah mereka akan melakukan gerakan progresif yang mencerahkan, ataukah mereka akan berkumpul sekedar sebagai wahana primordialitas yang membodohkan? Kerja belum selesai: selamat berjuang!

Advertisements

9 thoughts on “JIMM Bukan Ukuran Kebangkitan Kaum Muda Muhammadiyah

  1. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Untuk kebangkitan kaum muda Muhammadiyah, jawbannya adalah kami anjurkan membaca buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 macam lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakiistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Like

  2. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi

    UNTUK SELURUH ANGGAUTA JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah).

    Mengikut Nabi Muhammad saw. bukan berarti mengikuti bangsa Arab (yang radikal) setelah beliau wafat sampai hari ini.

    Pembuktiannya dari hujjah Allah, hujjah Nabi saw. dan hujjah Kitab Suci-Nya sesuai:

    AT TAUBAH (9) AYAT 97: Orang-orang ARAB itu lebih sangat kekafirannaya dan (lebih sangat) kemunafikannya, dan lebih wajar bahwa mereka (orang-orang ARAB itu) tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya (cara baik sesuai An Nahl (16) ayat 125, Al Isro (17) ayat 28, Al Ankabuut (29) ayat 46, seperti budi luhur pribumi asli bangsa Indonesia). Dan Allah Maha Mengetahui (budi luhur bangsa pribumi asli Indonesia) lagi Maha Bijaksana (tidak menghukum budi luhur bangsa Indonesia).

    Nurani kami sangat tersentak mengherankan, tidak habis berfikir, tidak masuk diakal sesuai Yunus (10) ayat 100, bahwa budi luhur bangsa Indonesia dapat diperbudak oleh orang-orang ARAB yang licik dan jelas-jelas telah divonis Allah, Nabi saw. dan Kitab Sucinya.
    Ayat 9:97 tersebut diatas hari ini sampai kiamat masih berlaku.

    KASIAN DEH LOOOOOOOOOOOOOOOOOOO !!!

    Tentara Pelajar Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 – 1950 !

    Like

  3. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi

    Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE

    I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama (APU) Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai kepada kesimpulan menerima atau menolak dengan hujjah, sebagaimana hujjah yang terdapat didalam buku itu sendiri.

    II. Telah dibedah oleh:

    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2001.

    B. Prof. DR. Budya Pradiptanagoro, Penghayat Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FIPB Universitas Indonesia.

    C. Prof DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Fisafat Universitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr. Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza, 94 tahun, anak paman Siti Khadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ).
    Pertanyaanya yang sulit untuk dijawab akan tetapi sangat logis dan wajar untuk dipertanyakan ialah Siti Khadijah dan Muhammad, seorang yang baik, patonah, sidik, amin dan lain sebagainya sebelum turun wahyu mengadakan pernikahan dengan cara ritual agama apa dan mereka beragama apa ?

    E. Disaksikan oleh 500 peserta seminar dan bedah buku yang diakhiri dengan dialog tanya-jawab. Apabila waktunya tidak dibatasi, maka akan mengulur panjang sekali, disebabkan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan oleh para hadirin yang terdiri dari berbagai penganut agama dan kepercayaan/keyakinan.

    F. Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00 – 14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta 10002, diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal: Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitab agama-agama (1301-1401 hijrah) (1901-2001 masehi), dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Pancasila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Like

  4. Wahid Muslim

    Kebangkitan kaum muda muhamadiyah adalah:

    1. Progresif, berani tampil percaya diri dengan jati diri keislaman dan produk karya bersyariat. Tidak regres merusak akidah.

    2. Partisipatis, sangat peduli dengan tantangan jaman mengingat semakin mewabah penyakit akal yang dapat memutus syaraf keimanan seperti SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme agama, dan Liberalisme), neo MMKJ (murjiah, mutazilah, Kawarij, dan Jabariah), neo TBC (tahayul, Bid’ah, dan churafat), Chauvinisme, neo komunisme, dan farian lainnya.

    Harus memahami pesoalan ini secara keseluruhan, sehingga tidak sekedar menyelamatkan diri dari sampah pemikiran tetapi juga mampu membangkitkan daya kritis masyarakat atas bahaya sampah-sampah pemikiran kaum liberal yang najis lagi menjijikan.

    Diwujudkan dengan sikap responsif dalam menghadapi permasalahan kontempor. baik dalam perkara perang pemikiran, penjajahan ekonomi dan budaya, maupun masalah inflitrasi kristenisasi.

    2. Pembebasan, berdiri diatas kaki sendiri membebaskan diri dari berhala lama maupun modrn. Dan merapatkan barisan membebaskan akhlak umat dari perusak Islam yang datang dari dalam maupun luar.

    4. Idealis, konsisten dengan keimanananya, berani mengaktualisasikan Al Quran dan Sunnah.

    Kader Idealis harus memiliki landasan berpikir yang kuat, metodologi yang jelas, dan penyelasan berpikir dan bertindak.

    5. Mitansi gerakan, bukan kader cengeng yang paranoit dengan musuh umat, silau dengan budaya barat, banyak alasan untuk menolak memperjuangkan Islam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s