Ketika Dialog Antar-agama Tidak Memadai

The Kingdom

 Majalah Madina, Edisi Perdan, 2007

Terorisme dan kekerasan massa adalah salah satu tema utama dalam wacana global pasca Perang Dingin. Kegiatan teror dan kekerasan itu kerapkali disandingkan dengan peningkatan religiusitas. Singkatnya, religiusitas didakwa sebagai biang terorisme dan kekerasan sosial. Lalu dibuatlah serangkaian dialog antar-agama atau antar-iman (interfaith dialogue).

Para peneliti dan ilmuan sosial mutakhir menemukan fakta berbeda yang menjadikan kesimpulan di atas semakin menjadi kuno dan klasik. Temuan mutakhir yang berkembang dalam ranah penelitian sosial saat ini menyimpulkan bahwa agama bukanlah satu-satunya faktor, bahkan bukan faktor utama, dalam kegiatan teror dan kekerasan sosial. Agama kerapkali hanya menjadi, meminjam istilah Clifford Geertz, primordial sentiment dalam setiap aksi kekerasan. Faktor yang lebih dominan dalam hal ini adalah fenomena atau kondisi sosial itu sendiri.

Renegosiasi Institusional

Kemunculan terorisme dan kekerasan memiliki watak yang cukup berbeda dengan perkembangan religiusitas. Religiusitas berkembang secara luas di semua belahan dunia, sementara terorisme dan kekerasan muncul hanya di wilayah-wilayah dan waktu tertentu. Jika terorisme dan kekerasan adalah ekspresi religiusitas, maka ia akan muncul di semua wilayah dimana religiusitas berkembang pesat.Pengalaman sejarah membuktikan bahwa terorisme dan kekerasan hanya muncul di wilayah-wilayah yang secara sosiologis sedang berada dalam kondisi bergolak. Teror dan kekerasan sosial yang terjadi di Bosnia dan Serbia, 1990-an, adalah buah dari instabilitas sosial di negara-negara pecahan Yugoslavia itu.

Kekerasan sosial yang dilakukan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama di Irak juga buah dari instabilitas sosial yang muncul pasca jatuhnya rezim Saddam Husein. Terorisme dan kerusuhan sosial bernuansa agama mulai marak di Indonesia pasca jatuhnya rezim Orde Baru yang menandai instabilitas sosial.Instabilitas selalu menjadi kata kunci dalam kemunculan kekerasan sosial dan terorisme, setidaknya pada sebagian besar kasus. Ini membuktikan bahwa instabilitas sosiallah yang menjadi faktor utama maraknya kekerasan dan terorisme, bukan karena faktor lain seperti menguatnya semangat religiusitas.

Instabilitas sosial menandai sebuah masa di mana masyarakat mencoba mempertanyakan kembali mengenai bentuk negara. Setelah Yugoslavia dan Uni Soviet pecah, masyarakat di bekas negara itu bergumul dalam perumusan bentuk dan ideologi negara. Demikian pula yang terjadi Irak dan Indonesia. Masalah ideologi dan bentuk negara yang sebelumnya diterima secara taken for granted kini dipertanyakan. Pada saat-saat seperti itulah mobilisasi sosial terbuka lebar. Masyarakat kemudian tertuntut untuk memikirkan kembali arah pembentukan bangsanya. Kekuatan-kekuatan yang sebelumnya tidak bicara kini bangkit menggalang massa. Polarisasi ideologi yang memang selalu potensial ada dalam masyarakat menjadi semakin tajam dan potensial konflik. Inilah yang Jacques Bertrand, Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia, sebut sebagai renegosiasi institusional.

Bertrand menemukan bahwa untuk kasus Indonesia, kekerasan sosial memuncak pada masa-masa transisi. Setidaknya ada tiga masa paling krusial di mana kekerasan sosial memuncak di Indonesia. Pertama, masa kemerdekaan. Pada masa inilah kekerasan itu begitu marak dan berlangsung cukup lama. Pada masa itu pulalah terjadi begitu banyak pemberontakan yang menelan korban yang tak terhitung jumlahnya. Kekerasan terhadap etnis Tionghoa dan minoritas lainnya menemukan titik nadir yang paling memprihatinkan pada saat itu.Kedua, pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Masa ini terkenal dengan pembantaian besar-besaran terhadap mereka yang disebut sebagai massa pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa itu, etnis Tionghoa dan kaum minoritas kembali menjadi sasaran amuk massa yang brutal. Ketiga, kekerasan sosial marak kembali ketika masa reformasi bergulir. Lagi-lagi etnis Tionghoa dan minoritas lainnya menjadi korban kekerasan.

Dialog Antar-agama

Berangkat dari pandangan di atas, menjadi lebih jelas bahwa dialog antar-agama tidak cukup memadai bagi penyelesaian kekerasan dan terorisme yang marak di lingkungan agama. Bukan berarti dialog antar-agama tidak penting dilanjutkan, tetapi jangan terlalu banyak berharap kepada pendekatan semacam ini. Setidaknya ada dua cacat konseptual yang muncul dari pengandaian bahwa dialog antar-agama akan mampu meredam kekerasan dan terorisme.Pertama, dialog antar-agama, pada praktiknya, selalu dilakukan oleh para pemimpin agama.

Dalam hal ini, persoalan agama diandaikan bisa diselesaikan secara politis-elitis. Yang terlibat dalam dialog hanyalah pemimpin organisasi agama tertentu, paling tidak tokoh agama di wilayah-wilayah konflik. Nyatanya, konflik yang bernuansa agama tidak dilakukan oleh para elit, melainkan masyarakat bawah yang kadang-kadang tidak bisa dikatakan cukup religius. Konflik yang terjadi di Ambon dan Poso, misalnya, sebetulnya tidak dilatarbelakangi oleh persoalan agama, melainkan persoalan sosial kemasyarakatan yang sangat “duniawi,” seperti kesenjangan ekonomi dan kekerasan umum biasa.Kedua, dialog antar-agama merupakan refleksi dari pemahaman monistik yang mengandaikan bahwa kebenaran agama-agama adalah satu, yang oleh karenanya bisa dicari titik temunya.

Pandangan ini sungguh semacam pelecehan terhadap agama-agama, sebab klaim kebenaran mereka tidak diakui. Agama-agama diandaikan masih terjebak dalam batas-batas kebenaran tampakan yang relatif (eksoterik), mereka belum sampai pada kebenaran hakiki (esoterik).Pandangan seperti itu menentang pluralitas nilai dalam semua agama. Setiap agama memiliki nilai yang berbeda. Dialog antar-agama, jikapun harus dilakukan, seharusnya tidak dengan tendensi penyatuan, melainkan pengakuan terhadap perbeda-bedaan tersebut. Upaya mencari titik temu agama-agama bahkan bisa menimbulkan bahaya totalitarian.

Pendekatan Holistik

Dalam hal ini, semua pendekatan harus coba dilakukan. Yang lebih penting adalah penegakan hukum harus dijalankan. Tegaknya hukum akan berdampak positif terhadap adanya rasa aman setiap kelompok masyarakat. Kerapkali konflik dan kekerasan muncul karena adanya rasa tidak aman dan tidak adanya kepastian hukum. Mereka tidak percaya kepada aparat hukum untuk menyelesaikan persoalan yang muncul di masyarakat. Akibatnya, mereka menyelesaikan sendiri persoalan sosialnya dengan cara yang kerapkali melanggar hukum itu sendiri.

Kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi juga harus diatasi. Bukan berarti harus membatasi ruang aktivitas bagi sebagian kelompok masyarakat, melainkan memberi ruang aktivitas ekonomi bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, baik oleh sistem maupun kapabilitas individual. Negara harus bertanggungjawab menjaga kebebasan setiap individu dalam beraktivitas dan memberi dukungan bagi mereka yang tidak mampu.Jika pendekatan yang bersifat holistik ini tidak dilakukan, maka kekerasan bahkan terorisme tetap akan menjadi pemandangan sehari-hari. Kekerasan dan terorisme tidak pernah ada dalam kamus agama. Tetapi ia bisa muncul berpayung agama, jika kondisi sosial memberinya kesempatan.

Advertisements

3 thoughts on “Ketika Dialog Antar-agama Tidak Memadai

  1. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Untuk menyelesaikan perselisihan persepsi antara agama-agama dan didalam agama 73 firqah sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 dan Yudas 1:18-21, maka kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 macam lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Waslam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Pesepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Like

  2. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi

    Buku Panduan kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema.

    I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA, (Islam), Ahli Peneliti Utama Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai ada keputusan menerima atau menolak dengan hujjah sebagaimana buku itu sendiri berhujjah.

    II. Telah dibedah oleh:

    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, (Islam) Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2001.

    B. Prof. DR. Boedya Pradipta, Penghayat Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FS Universitas Indonesia.

    C. Prof DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Filsafat Universitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagagai moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaomana Soegana Gandakoesoema, peneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sejajar Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza umur 94 tahun, anak paman Siti Hadijah umur 40 tahun, isteri Muhammad umur 25 tahun sebelum menerima wahyu Allah 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ).

    E. Disaksikan oleh 500 para perserta seminar dan Bedah Buku dengan diakhiri oleh sesi dialog tanya jawab, dan apabila tidak dibatasi waktunya akan berlarut disebabkan banyaknya para hadirin yang bergairah bertanya.

    Pada Hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitan agama-agama satu abad (1301-1401 hijrah)(1901-2001 masehi), diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal Selasa tanggal 27 Mei – Kamis tanggal 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri jiwa Bhinneka Tunggal Ika Panca Sila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s