Ketika Ulama Melampaui Batas

Persoalan paling mendasar bagi penegakan supremasi demokrasi di dunia dimana pengakuan terhadap kekuatan supra-natural masih begitu mendominasi adalah bagaimana mengkombinasikan antara keyakinan terhadap kekuatan supra-natural tersebut dengan pengakuan terhadap potensi kemanusiaan. Demokrasi lahir sebagai bentuk penemuan potensi subjektif kemanusiaan dalam sistem kekuasaan politik dunia. Yaitu manusia mengakui kemampuannya untuk mengatur sendiri pola hidup sistem kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Ketika demokrasi ditemukan, dalam berbagai variannya, lambat laun dominasi kekuatan supra-natural (teologis) semakin menjadi kuno dalam ranah politik. Bukan hanya pada ranah politik, idiom-idiom teologis juga semakin terpinggirkan dalam ranah kehidupan publik yang lebih luas. Argumentasi-argumentasi teologis, pada akhirnya, hanya berkuasa di wilayah privat, hubungan personal dengan kekuatan supra-natural di atas. Di negara-negara modern, pola hidup menghilangkan peran kekuatan supra-natural baik dalam kehidupan publik maupun kehidupan privat juga mulai menjadi trend. Kehampaan supra-natural kemudian manjadi hantu yang amat menakutkan bagi kaum pemuja supra-natural. Betapa tidak, filsuf eksitensialis Perancis, Jean Paul Sartre, memberikan gambaran mengerikan tentang sebuah rongga berbentuk Tuhan dalam kesadaran manusia modern. Di rongga yang kini hampa itulah, Tuhan pernah bertahta, kini hanya menjadi rongga yang kosong dan sunyi. Ada sejumlah argumentasi kenapa spritualisme lambat laun ditinggalkan banyak orang. Argumentasi tersebut terutama didasarkan pada fakta bahwa spritualisme telah gagal menjawab perkembangan peradaban ummat manusia yang demikian pesat. Keberhasilan dunia ilmu pengetahuan dan tekhnologi demikian brilian, sementara spritualisme berjalan lamban, bahkan kerap kali kontradiktif dengan berbagai pencapain kemanusiaan ini. Bukan hanya pada tataran pembangunan fisik, melainkan juga pada spirit kemanusiaan, spritualisme terbukti gagal. Kegagalan spritualisme itu, dibuktikan dengan serangkaian tragedi kemanusiaan yang disebabkan spirit spritualisme. Tragedi kemanusiaan legendaris, Perang Salib, telah menjadi simbol pembantaian ummat manusia sampai sekarang (tragedi WTC, bom Bali, Perang agama di India, Tragedi Bosnia, Perang Iran-Irak, Perang Irak I dan II, berbagai perang agama di Indonesia, dan lain sebagainya), atas nama spirit spritualisme. Berbagai peristiwa tersebut telah membuat argumentasi teologis begitu rapuh menjawab tantangan zaman, bahkan kontra produktif di dunia nyata. Itulah sebabnya, kasus penarikan film Buruan Cium Gue dari peredaran karena alasan moral teologis belum bisa diterima. Argumentasi teologis tidak mempunyai hak untuk semena-mena melakukan penetrasi ke dalam kehidupan publik. Sebab argumentasi teologis melampaui nalar rasional. Sementara kehidupan publik tidak bisa tidak harus berada di atas jalur rasionalisme kemanusiaan. Standar-standar moral, dengan demikian, juga harus melewati nalar rasionalisme tersebut. Aa Gym dan kawan-kawan tidak mengklaim memiliki otoritas kebenaran di dunia publik, hanya karena mereka dikenal sebagai pemuka agama. Kebenaran dan moralitas bukan hanya milik mereka. setiap kebenaran dan moralitas harus melewati seleksi rasionalitas. Sebab jika tidak, bangsa ini tetap akan berada di bawah tirani teologis, yang kerap kali tidak rasional, dan penindasan ulama. Tentu saja artikel ini tidak menafikan standar moralitas agama, yang dipersoalkan adalah standar moralitas publik. Agama adalah persoalan personal dengan Yang Supra-natural, sementara publik adalah hubungan antar manusia. Tentu saja hubungan antar manusia bisa diklaim oleh kaum agamawan sebagai satu bagian dari hubungan personal dengan Tuhan, yang oleh karenanya menerapkan standar pola hidup di dalamnya. Tapi hal itu tetap berada dalam rambu-rambu personal, dan tidak bisa dipaksakan kepada kehidupan publik. Kaum agamawan bisa menilai sebuah tindakan publik tidak sesuai dengan prinsip agama, tapi ia tidak bisa memaksa untuk merubahnya dengan argumentasi agama. Kehidupan publik hanya bisa dirubah dengan argumentasi publik. Berbeda dengan agama, di ruang publik terdapat interaksi berbagai kepentingan. Tidak pernah ada standar tunggal bagi semua kepentingan tersebut. Oleh karenanya, satu-satunya kebenaran dalam kehidupan publik adalah kebebasan untuk mengeksplorasi masing-masing kepentingan. Oleh karena semua orang punya kepentingan, maka kebebasana mengeksplorasi kepentingan hanya akan dibatasi oleh kebebasan orang lain. Standar kebenaran, dengan demikian, hanyalah kebebasan. Filsuf raksasa Jerman, Martin Heidegger, mengatakan: kebenaran telah mewahyukan dirinya sebagai kebebasan (The essence of truth has revealed it self as freedom). Sebab kalau kebenaran didasarkan hanya kepada satu kepentingan, maka akan terjadi eksklusi besar-besaran terhadap berbagai standar kepentingan dan kebenaran tertentu masing-masing kepentingan.

BCG hanya bisa divonis bersalah dalam kehidupan publik hanya jika ia terbukti mengganggu atau menghalangi kebebasan orang lain. Faktanya, BCG sama sekali tidak membatasi kebebasan orang untuk meraih berbagai kepentingannya, baik kepentingan teologis, politik, budaya, ekonomi,dan lain sebagainya. Kalau ada agamawan yang terusik kepentingan teologisnya dengan film tersebut, maka hal itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan film, melainkan menyangkut kualitas keagamaan orang itu sendiri. Bukan filmnya yang harus ditarik, melainkan orang-orang yang menganggapnya salah (kaum agamawan) yang harus menahan diri. Sebab toh BCG adalah satu kreasi manusia yang juga banyak diminati.

BCG mungkin bisa ditarik dari peredaran, tapi bukan karena alasan teologis, melainkan dengan alasan-alasan rasional yang menyangkut hubungan antar manusia dalam sebuah komunitas. Film, pada hakikatnya, adalah parodi kehidupan nyata. Sebagaimana karya seni lainnya, film berusaha membingkai realitas menjadi sebuah hiburan bagi dunia realitas. Di dalam pembingkaian, tentu saja selalu ada reduksi, mungkin besar-besaran. Tapi itu kemudian tidak menjadi masalah, karena hal itu memang tidak ditujukan sebagai pengungkap fakta yang sebenarnya, melainkan hanya sebagai permainan realitas yang membuat orang tertawa, menangis, terharu, atau kagum.

Sah-sah saja bila ada beberapa pihak yang menginginkan muatan moral dalam sebuah film. Masalahnya, standar moral tidak bisa dipaksakan. Sebab moralitas tidak bisa dipaksakan dalam dunia yang beragam. Pembantaian, pemerkosaan, perampokan,dan semacamnya, dalam dunia realitas, tentu adalah perbuatan yang sangat tidak bermoral. Tapi dalam dunia film, drama, sastra, atau teater, perbuatan-perbuatan seperti itu menjadi sangat sah atau bahkan menjadi unsur utama.

Pada titik ini, diperlukan dua sudut pandang untuk mengungkap moralitas dalam film, yakni aktor di dalam film dan penonton di luar film. Pelanggaran moral yang ada di dalam film hanya bisa dicegah atau diselesaikan oleh aktor yang bermain di dalam film itu sendiri, jalan cerita film itu sendirilah yang paling berhak menyelesaikan persoalannya. Sementara penonton di luar, sama sekali tidak punya kekuatan untuk memaksakan kehendaknya ke dalam film. Sebab kejahatan di dalam film, ketika disaksikan oleh dunia penonton akan menjadi hiburan. Kalau pun film dihentikan dengan paksa lalu kasetnya dibakar, rentetan peristiwa dan cerita dalam film akan tetap berjalan, mungkin di dalam imajinasi. Kalau dunia penonton saja tidak punya hak untuk mengintervensi jalannya cerita dalam film yang sedang ditonton, apatah lagi pihak agamawan yang tidak punya sangkut pautnya dengan film dan penonton.

BCG adalah salah satu kasus intervensi agama ke dalam wilayah publik. Kalau hal seperti ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin kaum agamawan akan semakin berulah mengintervensi semua sendi kehidupan publik. Cara berpakaian akan terkontrol, cara bertutur sapa diawasi, ide-ide baru dibatasi, bahkan bagaimana mengedipkan mata pun akan diperhatikan. Kalau pola kehidupan diterapkan seperti ini, alangkah nerakanya kehidupan kita. Tidak ada nuansa di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s