Kontra-Terorisme AS setelah 5 Tahun Tragedi 11/9

Tepat tanggal 11 September, 5 tahun silam, menara kembar World Trade Center (WTC) runtuh oleh sebuah tabrakan pesawat yang diduga dibajak. Pada saat yang hampir bersamaan, pusat militer Amerika Serikat Pentagon juga ditabrak oleh pesawat bajakan. Itulah drama terorisme terdahsyat di awal abad 21, keberhasilan terorisme paling dahsyat sepanjang masa. Lebih dari 3 ribu orang dinyatakan meninggal akibat peristiwa mengerikan itu.

Banyak orang mengajukan pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab: “apa yang sebetulnya terjadi?” Terorisme yang awalnya muncul di Barat dan merupakan produk peradaban Barat telah menyerang peradaban agung Barat itu sendiri. Banyak analis Barat tampak kebingungan menghadapi fenomena ini. Istilah “teror” untuk pertama kalinya dipakai dalam pengertian politik modern menunjuk pada peristiwa yang dijuluki Teror Revolusi Prancis tahun 1793. Hampir semua negara di Barat mengalami peristiwa dan rezim terorisme. Pertanyaan yang muncul adalah apa itu terorisme dan atas maksud apa ia muncul?

David Fromkin ( Forreign Affairs, 1975) mendefinisikan terorisme sebagai sebuah bentuk kekerasan yang digunakan untuk menciptakan ketakutan. Ketakutan yang diciptakan tidak untuk tujuan dalam dirinya sendiri, melainkan untuk menggiring orang lain melakukan tindakan yang agak berbeda yang sebetulnya diinginkan oleh teroris. Dalam kasus tragedi 11 September, tujuan teroris tampaknya bukanlah pembunuhan besar-besaran itu sendiri, melainkan memancing AS untuk melakukan serangkaian tindakan, yang, oleh para teroris, dinilai akan memenuhi sebuah harapan, harapan tentang bersatunya kekuatan dunia untuk melawan AS dan seterusnya. Para teroris memancing pemerintah AS dan sekutunya melakukan tindakan kontra terorisme yang akan ditentang oleh komunitas internasional. Demonstrasi besar-besaran di seluruh penjuru dunia untuk menentang perang ke Afganistan, Irak, Palestina, dan Libanon, juga rencana perang melawan Iran, Suriah, dan Korea Utara mungkin adalah salah satu keberhasilan teroris melakukan provokasi.

Represi Internasional

Tapi di atas segalanya, tragedy 11 September untuk sementara berhasil merubah orientasi kebijakan publik pemerintah Amerika Serikat. Represi internasional yang dilakukan pemerintahan Bush benar-benar menguat menyusul terjadinya tragedi 11 September. Gengsi AS sebagai polisi internasional benar-benar terusik oleh tragedi 11 September. Dalam setiap pidato, Presiden Bush selalu mengobarkan semangat perang terhadap terorisme, yang kerapkali direduksi ke dalam bentuk perang menghancurkan Taliban, menurunkan Saddam Husein, menggagalkan kemenangan HAMMAS di Palestina, melenyapkan Hizbullah, mengancam pemerintahan Iran dan Korut karena program pengayaan uranium nuklir, dan tetap mendukung semua kebijakan politik dan keamanan internasional Israel. Dengan dalih kontra terorisme, Presiden Bush dan sekutunya melancarkan serangan dan menyebar ancaman yang membabi buta ke setiap negara yang “diduga” sebagai pendukung terorisme. Entah atas dasar apa, terorisme telah dihadapi senjata dan penciptaan ketakutan bagi komunitas internasional. Tapi kemudian semua orang tahu, AS dan sekutunya tidak pernah bisa memberantas terorisme dengan meneror.

Bom-bom bunuh diri bahkan semakin trend di kalangan teroris, kendati puluhan ribu korban jiwa telah berjatuhan di kalangan masyarakat sipil dunia. Bukan hanya menambah subur terorisme, represi internasional AS juga mengundang reaksi berbagai komunitas internasional untuk melawan. Perlawanan yang dilakukan komunitas internasional itu adalah dengan memenangkan kandidat-kandidat Presiden yang kontra dengan AS. Berbagai rezim komunis tiba-tiba muncul di Amerika Selatan. Rezim-rezim Islam garis keras juga muncul sebagai kontestan terkuat di Pemilu-pemilu paling demokratis di Timur Tengah. HAMMAS telah memenangkan Pemilu Palestina. Hizbullah menjadi kekuatan politik favorit di Libanon. Kekuatan-kekuatan Ikhwanul Muslimin juga muncul di Mesir. Partai-partai Islam garis keras bermunculan di Irak, Pakistan, Malaysia, dan juga Indonesia.

Anti-AS di Indonesia

Represi Internasional AS juga sangat terasa dampaknya dalam kehidupan publik di Indonesia. Dengan dalih melawan AS, kekuatan-kekuatan Islam dan “kiri” muncul bak jamur di musim hujan. AS tidak hanya dipahami sebagai negara yang telah melakukan serangan terhadap Irak dan Afganistan, tapi juga dipahami sebagai representasi kebejatan moral dan biang kemiskinan global. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), jika boleh merepresentasikan kekuatan Islam Anti-AS, semakin solid dengan meraih 7 % suara pada Pemilu 2004, yang awalnya hanya memiliki 1,3 % suara pada Pemilu 1999. Kekuatan-kekuatan “Islam” juga muncul di parlemen dan memberikan dukungan terhadap peraturan dan undang-undang yang bernuansa syariah.

Maraknya Perda Syariah menjadi semacam acuan, bahwa kekuatan politik Islam memang semakin solid. Jika kekuatan Islam ini terus menuntut penerapan agenda syariat Islam yang theosentris, maka ini adalah alamat buruk bagi kelangsungan demokratisasi di Indonesia. Demokrasi, oleh banyak kekuatan politik Islam, adalah alat idiologi Barat, terutama AS, untuk tetap menjaga kepentingannya di negara-negara berkembang. Hanya demokrasilah yang memungkinkan pihak luar negeri melakukan intervensi terhadap kebijakan dalam negeri. Demokrasi memberikan peluang kepada kekuatan-kekuatan masyarakat sipil dalam mempengaruhi kebijakan publik. Para pemilik modal internasional sangat bisa “membeli” kekuatan-kekuatan sipil, bahkan kekuatan-kekuatan yang tersebar dalam bentuk partai-partai politik. Munculnya berbagai Perda dan rancangan undang-undang “moral” yang berpotensi membelenggu kebebasan demokratis tidak hanya mengancam demokratisasi di Indonesia, tapi juga diandaikan sebagai bentuk perlawanan terhadap AS. Idilogi kebebasan yang coba disebarkan, dianggap sebagai bentuk propaganda AS. Kontra terorisme represip yang dilancarkan AS tidak hanya menjadi senjata yang berpotensi menyerang balik kekuatan-kekuatan AS di seluruh dunia, tapi juga menjadi senjata pemusnah kebebasan di semua negara demokratis. Setelah 5 tahun, nampaknya AS harus mengevaluasi perang melawan terorisme yang mereka lancarkan. Sebab sangat nyata, cara-cara represif yang membabi buta, malah menjadi lahan subur bagi munculnya bibit-bibit terorisme baru. AS harus mampu melihat aspek lain dari munculnya terorisme, yakni ekonomi.

Eksploitasi ekonomi yang berlebihan, yang menyebabkan Dunia Ketiga jatuh ke dalam kemiskinan akut, adalah salah satu faktor munculnya sikap perlawanan. Orang seperti Usamah bin Laden memang bukan orang miskin, tapi solidaritas sebagai kaum tertindas bisa begitu kuat, ketika menyaksikan kaum papa di sekelilingnya. Kemiskinan Dunia Ketiga juga terbukti menjadi amunisi paling ampuh dari para pengkritik AS dan penentang demokrasi. Kampanye dan perang melawan kemiskinan, mungkin lebih baik dan lebih simpatik daripada menyebar teror dengan senjata.

Advertisements

One thought on “Kontra-Terorisme AS setelah 5 Tahun Tragedi 11/9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s