Memaksimalisasi Fungsi Pengawasan

Demokrasi adalah capaian tertinggi dari upaya rasionalisasi distribusi kekuasaan. Demokrasi mengandaikan adanya proses perebutan kekuasaan yang berdasar kepada akal dan nurani yang sehat. Dari sana kemudian lahir apa yang disebut reward and punishment. Tanpa adanya reward and punishment, demokrasi tampak hanya sebagai selubung semu hasrat kekuasaan yang tak terperi. Akal sehat akan muncul dari demokrasi apabila terjadi reward and punisment terhadap para politisi yang ingin kekuasaan. Masyarakat pemilih bukan barang mati yang bisa diombang-ambing begitu saja, melainkan mereka memiliki otonomi khusus untuk melakukan evaluasi terhadap para politisi. Tanpa otonomi, rakyat akan bergerak layaknya sebuah robot yang dikendalikan. Maka demokrasi hanya akan menjadi bentuk lain dari otoritarianisme dan kediktatoran.Untuk memastikan adanya proses reward and punisment dalam demokrasi prosedural, maka fungsi pengawasan tidak bisa tidak harus berjalan secara maksimal. Tentu saja tidak bisa dipungkiri, bahwa kekuasaan telah menjadi perebutan dan angan-angan setiap manusia; bahwa setiap manusia memiliki hasrat kekuasaan—bahkan Nietzsche memaklumatkan bahwa inti kehidupan manusia adalah untuk memperoleh kekuasaan. Hasrat untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan segala upaya adalah seusuatu yang lumrah dalam kehidupan manusia. Dan untuk terciptakanya sebuah distribusi kekuasaan yang baik, maka terciptalah demokrasi sebagai sebuah prosedur fair dan adil untuk perebutan kekuasaan tersebut. Demokrasi tidak bisa dibuarkan berjalan sendiri, seluruh elemen masyarakat harus menjadi pengawalnya.Dalam demokrasi, semua orang tidak berangkat dari titik yang sama. Robert Dahl, A Prefase to Democracy Theory, menjelaskan bagaimana ketimpangan titik berangkat dalam politik demokrasi tersebut. Ada orang yang diuntungkan oleh latar belakangnya, baik latar belakang kekayaan,letak geografis,pendidikan, maupun kekuasaan. Tapi ada juga yang dirugikan oleh latar belakangnya, sehingga pada akhirnya ia harus bersusah payah untuk mengejar mereka yang sejak lahir diuntungkan dan telah mengambil star lebih awal dalam kehidupan politik. Dan pada akhirnya, demokrasi hanya akan menjadi milik para elit yang secara turun-temurun diuntungkan oleh posisi latar belakang mereka. Mereka yang lahir dari keluarga kaya, berkuasa, dan berpendidikan akan memperoleh kesempatan menjadi anak yang cerdas karena sejak kecil ditunjang oleh gizi, dan pada akhirnya sangat mudah belajar di sekolah-sekolah unggulan dengan biaya mahal,kemudian mereka cepat bisa memasuki dunia kekuasaan, disamping mereka memiliki koneksi, mungkin juga karena mereka berpendidikan luar negeri, sehat pula. Sementara yang sejak lahir berada pada kondisi kemiskinan mungkin tidak bisa tumbuh secara normal karena kekurangan gizi, otaknya tidak encer, dan orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya ke sekolah-sekolah unggulan, mungkin juga mereka putus sekolah, sehingga wawasannya dan pergaulannya tidak luas, maka bagaimana mungkin ia bisa bersaing. Robert Dahl akhirnya menyimpulkan, bahwa demokrasi sesungguhnya hanya milik para elit, dimana kekuasaan hanya berputar di kalangan mereka. Untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan oleh para elit tersebut, maka seluruh rakyat harus menjalankan fungsi pengawasan. Rakyat harus mengawasi jalannya demokrasi, mulai dari pemilihan umum, sampai kepada menagih janji-janji politik para elit. Sebab hanya dengan demikianlah, demokrasi bisa menjadi alternatif proses distribusi kekuasaan yang berguna bagi kehidupan ummat manusia. Banyak kasus dimana rakyat tidak melakukan fungsi pengawasan dan evaluasi, negara-negara yang menjalankan demokrasi malah melahirkan para pemimpin korup dan diktator. Tidak tertutupkemungkinan, bahwa demokrasi hanya menjadi alat bagi penguasa tiran untuk melegitimasi kelanggengan kekuasaannya. Karena adanya partisipasi dan kontestasi dalam demokrasi, maka seolah-olah para elit tiran tersebut telah menjalani proses demokrasi secara baik, yang oleh karenanya kekuasaan mereka legitimate, kendatipun pada kenyataannya demokrasi yang tercipta hanya demokrasi semu, sebab ia tidak menjalankan aspirasi rakyat. Kalau pemimpin seperti ini masih terpilih dalam sebuah proses demokratis, maka mungkin ada beberapa kemungkinan: pertama, apakah rakyatnya tidak menjalankan atau tidak memaksimalisasi fungsi evaluatifnya. Tidak adanya evaluasi dalam masyarakat mungkin disebabkan oleh kurangnya informasi atau karena tingkat kecerdasan yang tidak memadai. Kedua, proses demokrasinya tidak berjalan secara fair dan adil, sementara rakyat kurang menjalankan fung pengawasannya terhadap Pemilu. Dua hal tersebutlah yang menjadi penghambat berjalannya demokrasi yang baik. Demokrasi bukan hanya menuntut prosedur yang adil dan fair, tapi juga memperhatikan hasil dari demokrasi itu sendiri. Demokrasi bukan hanya ada dalam Pemilu, tapi juga kehidupan setelah Pemilu. Jika Pemilu melahirkan pemimpin yang otoriter, maka demokrasi setelah Pemilu itu telah gagal, bahkan Pemilu itu sendiri gagal melahirkan sosok pemimpin yang demokratis.Oleh karena itu, maksimalisasi fungsi pengawasan menjadi mutlak dalam demokrasi prosedural. Kerapkali persoalan ini tidak terlalu menarik perhatian dan cenderung diabaikan, padahal hal inilah yang akan menjadi titik tolak kehidupan bermasyarakat yang adil dan makmur. Kalau funsi pengawasan sedikit kendor, maka proses evaluasi, reward and punisment, dan mencari pemimpin yang ideal tidak akan berjalan. Dan kalau itu tidak berjalan, maka demokrasi prosedural kita hanya tinggal prosedural tanpa substansi. Ia akan menjadi kaleng kosong yang nyaring bunyinya,tapi tiada arti, seperti masturbasi yang terus-menerus tanpa pernah membuahkan anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s