Membaca Peluang Amin Rais

Tim sukses Amin Rais dan Siswono Yudohusodo membuat kejutan pada masa-masa kempanye calon presiden dan wakil presiden beberapa hari terakhir ini. Stadion Gelora Bung Karno menjadi saksi membludaknya massa kampanye Amin-Siswono yang memenuhinya di dalam dan di luar gedung. Kampanye ini bahkan yang terbesar selama masa kampanye Capres dan Cawapres. Bukan hanya Jakarta, tapi dua kampanye sebelumnya, di Yogyakarta dan Surabaya, juga menghadirkan massa yang sangat mencengangkan. Analisis politik yang sebelum masa kampanye nyaris melupakan nama Amin Rais untuk lolos ke putaran kedua, nampaknya harus menunda kesimpulannya. Bahkan data survey terakhir IFES menunjukkan peningkatan suara Amin Rais di mata responden, yakni 9,8 %. Kendatipun perolehan suara pasangan Wiranto-Salahuddin 11,4 % dan Megawati-Hasyim 11 %, tapi dengan margin of error 3 %, Amin Rais, Wiranto, dan Megawati mempunyai peluang yang sama untuk masuk ke putaran kedua.Peluang Amin Rais masuk ke putaran kedua semakin besar, ketika dicermati grafik perolehan suaranya perbulan dalam survey-survey yang menggunakan standar ilmiah. Hampir semua lembaga survey yang menggunakan metodologi ilmiah menunjukkan pola peningkatan yang sama perolehan suara Amin Rais. Pelan tapi pasti, suara Amin Rais semakin meningkat. Dan waktu pencoblosan yang masih tersisa beberapa hari lagi akan semakin memberi peluang kepada Amin Rais yang setiap hari semakin meningkat suaranya, sebaliknya merugikan pasangan Megawati dan Wiranto yang cenderung merosot perolehan suaranya di dalam survey ilmiah. Maka kalau Amin Rais lolos ke putaran kedua, maka hal tersebut adalah prestasi yang luar biasa.Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan suara Amin Rais: pertama, kendatipun mesin politik utamanya adalah PAN, yang pada pemilu legistalif ambruk perolehan suaranya, tapi di belakangkannya bergabung sejumlah partai yang kemudian membikin barisan yang sangat signifikan, yaitu PNI Marhaenisme, PBR, PNBK, PSI, PBB, PPDI, sebagian PPP, dan sebagian besar PKS. Gabungan banyak partai bisa menjadi kekuatan moral bagi pasangan Amin-Siswono untuk memperoleh dukungan masyarakat pemilih yang selama ini masih mengambangkan suaranya. Survey tarakhir IFES menunjukkan massa mengambang atau yang belum memutuskan pilihan dan rahasia mencapai angka 20 %. Kedua, pasangan Amin-Siswono juga diuntungkan oleh kedekatan dia dengan tokoh anak muda progressif seperti Iwan Fals, Franky Sahilatua, dan Slank. Di samping memiliki pendukung fanatik yang sangat banyak, kedekatan dengan tokoh moralis yang dikenal luas akan menambah citra baik kepada Amin-Siswono.Ketiga, bergabungnya massa-massa arus bawah PKS kepada pasangan Amin-Siswono, meskipun elit partainya belum memutuskan secara jelas akan memberikan dukungan kepada siapa, juga cukup signifikan mendongkrak citra baik dan bersih tersebut. Fenomena PKS yang memperoleh suara cukup signifikan pada pemilu legistalif lebih karena PKS dicitrakan sebagai partai yang bersih dan anti KKN. Pada saat itu, kekuatan politik PKS terletak pada kekuatan moral. Kalau kekuatan moral ini kemudian mendukung Amin-Siswono, dan masyarakat luas menyaksikannya di media massa, Amin-Siswono akan memperoleh kekuatan moral tersebut. Amin-Siswono kemudian memperoleh peluang paling besar untuk mengganti posisi PKS yang dipilih karena moral.Keempat, mobilisasi massa dalam kampanye yang demikian hebat dan diliput media massa juga akan memberi citra baru kepada Amin-Siswono sebagai pasangan yang memiliki massa yang sangat besar. Tidak bisa dilupakan, bahwa para pemilih kita masih menyimpan tradisi solidaritas mekanik yang suka pada keramaian dan gerombolan. Masyarakat Indonesia bukan tipe masyarakat perenung dan pemikir, melainkan mereka sangat mudah terprovokasi oleh penampakan gerombolan massa yang akan mempengaruhi cara pikir dan pola tingkahnya. Fenomena AFI dan Inul memberi gambaran yang jelas tentang bagaimana sebagian masyarakat Indonesia sangat senang kepada keramaian dan cenderung melupakan refleksi kesendirian. Tampilnya mobilisasi massa yang luar biasa besar akan menjadi jualan yang cukuplaku kepada massa pemilih yang suka massa gerombolan dan keramaian.Kelima, kesediaan Amin Rais menghadiri banyak dialog dan debat Capres juga mendongkrak pencitraan dia sebagai calon yang memiliki visi dan misi yang bertanggungjawab dan jelas. Amin bukan hanya hadir dalam debat yang diadakan oleh stasiun-stasiun televisi, tapi juga rajin memenuhi undangan debat yang diadakan oleh perguruan tinggi dan lembaga kesenian. Tentu saja yang ditembak bukan massa yang hadir pada debat tersebut, melainkan massa pemirsa televisi yang selalu meliput kegiatan debat Capres di manapun. Kesediaan untuk melakukan dialog, menguji konsep, sharing ide tentang persoalan apapun dengan masyarakat adalah poin penting bagi pemilih yang cenderung kritis dan rasional pada pemilihan kali ini. Keenam, Amin Rais yang cukup iseng mengunjungi peristiwa-peristiwa yang melibatkan masyarakat banyak seperti AFI, pertandingan sepakbola, Book Fair, dan lain-lain yang dilakukan jauh sebelum masa kampanye juga ternyata cukup menguntungkan. Hal tersebut membangun citra kedekatan dia dengan rakyat. Dan yang ketujuh, sebagai mantan ketua Muhammadiyah, Amin Rais juga bisa memperoleh predikat calon presiden yang mewakili kepentingan Islam. Gagalnya politisi NU menjadi calon presiden dan hanya bertahan pada posisi kedua sebagai calon presiden, Salahuddin Wahid dan Hasyim Muzadi, menjadikan Amin Rais sebagai alternatif suara pemilih Islam. Kemungkinan besar ia akan berbagi suara dengan Hamzah Has. Tapi melihat massa PKS, PBR, dan sebagian PPP yang ternyata banyak menghadiri kampanye Amin-Siswono, kecil kemungkinan massa pemilih Islam akan menjatuhkan pilihan kepada Hamzah, dan kemungkinan cenderung pilihan pemilih Islam tersebut akan jatuh kepada Amin. Lalu bagaimana dengan PKB dan NU? Hasil survey terakhir IFES yang menunjukkan suara Wiranto-Wahid (11,4 %) dan Megawati-Hasyim (11 %) membuktikan suara PKB dan NU tidak solid mendukung kedua pasangan tersebut,meskipun berkali-kali para elitnya menyerukan massanya untuk memilih kedua pasangan itu. Skenario terbesar menyimpulkan bahwa suara PKB dan NU liar kepada semua pasangan Capres-Cawapres. Sekalipun suara PKB dan NU cenderung tidak akan ke Amin Rais, tapi dengan tidak solidnya suara tersebut ke Wiranto dan Megawati, hal itu sudah menguntungkan Amin Rais untuk lolos ke putaran kedua dan menyisihkan Wiranto dan Mega. Pertarungan saat ini bukan lagi siapa yang akan menduduki posisi pertama pada putaran pertama, sebab hampir semua survey, baik yang ilmiah maupun yang hanya menggunakan metologi sms dan telepon, mengunggulkan SBY-JK di posisi pertama dengan angka telak di atas 40 %. Pertarungannya ada pada posisi kedua, antara Wiranto, Megawati, atau Amin Rais.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s