Menghargai Orang yang Tidak Puasa

Dalam perjalanan pulang dari perang Badar yang menjadi momentum kemenangan ummat Islam melawan kaum kafir, Rasulullah SAW mengatakan kepada para sahabatnya, bahwa sesungguhnya mereka baru selesai melakukan perang kecil dan akan menuju perang yang lebih besar. Seorang sahabat bertanya: “perang yang seperti apakah itu ya Rasulullah?” Serta merta Nabi menjawab: “puasa.” Perang Badar, dalam sejarah Nabi Muhammad, merupakan perang yang paling besar dan juga merupakan kemenangan yang paling besar. Perang itu dikenang sepanjang masa. Lalu, kenapa Rasul mengatakan bahwa perang yang sesungguhnya bukanlah perang Badar, melainkan puasa? Jawaban sederhananya adalah bahwa Rasul maupun konsepsi Islam secara umum memberikan porsi yang jauh lebih besar kepada dunia spritual dibanding kepada dunia fisik. Berperang dengan emosi atau dengan hasrat-hasrat terpendam di dalam diri yang abstrak jauh lebih sulit daripada berperang dengan musuh-musuh kongkrit di dunia fisik.           

Pengutamaan dunia spritual atau jiwa memang merupakan ciri khas dalam kehidupan spritual. Bahkan konsep seperti ini memperoleh landasan filosofis dalam sejarang panjang perjalanan filsafat. Plato adalah tokoh penting yang merumuskan bagaimana dunia spritual tersebut lebih nyata dari dunia fisik. Bahkan dunia fisik sebetulnya tidak pernah benar-benar ada, yang ada hanyalah dunia spritual. Adapun dunia fisik hanyalah bayang-bayang dunia spritual. Dalam terminologi filsafat Islam dikatakan, bahwa dunia yang nampak ini hanyalah hasil refleksi dari dunia yang sesungguhnya (emanasi). Apa yang sebenarnya ada hanya bisa ditemukan dalam dunia spritual. Itulah sebabnya, dalam ajaran agama, penekanan kepada dunia spritual selalu mendapat porsi yang jauh lebih banyak dari dunia fisik. Dengan kata lain, dunia hanya fatamorgana.           

Munculnya satu bulan, Ramadhan, yang disakralkan dan yang sedapat mungkin dijauhkan dari praktek-praktek kebohongan duniawi yang fana merupakan bukti betapa susahnya hidupdalam kehidupan spritual. Puasa adalah sebuah sistem proses menuju kehidupan spritual dengan berusaha menekan hasrat-hasrat duniawi, seperti makan, minum, berhubungan seks, berbohong, mencuri, korupsi, manipulasi, bergunjing, dan seterusnya. Orientasi puasa adalah untuk menghadirkan dunia yang lain dalam kehidupan manusia, yaitu dunia yang sunyi, spritual, dan kontemplatif. Ketika orang berhasil melakukan puasa dengan sebenar-benarnya, maka ia akan merasakan kelahiran kembali (fitrah); ia akan merasakan seperti baru melakukan perjalanan kesunyian dengan atribut keduniaan yang sangat minim. Pada tingkatan yang lebih tinggi, kehidupan kesunyian di dalam puasa akan merasuk ke dalam jiwa orang yang melakoninya, dan boleh jadi ia enggan untuk berpisah dengan kegiatan seperti itu, maka jadilah ia orang suci atau sufi (atau seperti Sidharta Gautama dalam tradisi Budha) yang mengabaikan dunia sebagai sesuatu yang tidak penting. Atau mungkin pada tingkatan yang lebih tinggi lagi, ia akan menjadi orang yang seakan-akan menjalani kehidupan dunia sebagaimana manusia pada umumnya, tapi ia tidak merasakan kehidupan dunia, melainkan hanya kehidupan sprituallah yang ia rasakan. Dalam tradisi kaum sufi di Islam, pola spritualitas seperti ini kerapkali muncul.           

Oleh karena puasa identik dengan spritualitas, maka ia juga identik dengan kesunyiaan dan individualisme, dan sama sekali tidak identik dengan hingar-bingar, pesta-pesta, dan interaksi yang berlebihan dengan dunia. Puasa adalah kerja individu. Itulah sebabnya, dalam ajaran Islam, puasa disebut media ibadah yang paling minim dari riya’, karena puasa menjadi sarana interaksi langsung antara hamba dan Tuhannya. Interaksi langsung ini diwujudkan dalam usaha menahan segala godaan dunia yang dilakukan secara pribadi, dan juga diketahui kualitas perjuangannya oleh pribadi itu sendiri. Pada titik ini, pra-kondisi bagi pelaksanaan ibadah puasa tidak diperlukan, sebab puasa itu sendiri adalah sebuah ujian. Islam tidak pernah mengajarkan pemaksaan kehendak kepada orang lain. Oleh karena puasa adalah hajat per-individu, maka seorang individu tidak perlu melibatkan masyarakat umum untuk membantu kerja individunya.           

Dalam hal ini, logika masyarakat kita kerapkali terbalik. Pra-kondisi sosial dilakukan secara terencana untuk menyambut bulan puasa. Warung-warung makan dan tempat-tempat hiburan ditutup, hotel-hotel dan tempat-tempat pelacuran kerapkali diserbu dan dihancurkan, cakrawala dipenuhi suara masjid bersahut-sahutan, tayangan televisi didominasi wanita berjilbab dan ayat-ayat suci, dan seterusnya. Semua pra-kondisi itu dilakukan hanya dengan alasan untuk “menghormati” bulan suci dan orang yang berpuasa. Orang-orang yang berpuasa itu dimanja betul, seakan-akan dunia adalah milik mereka. Sementara bulan puasa menjadi malapetaka bagi mereka yang tidak puasa. Apa ia membatasi hak orang lain yang tidak puasa adalah bagian dari proses menahan diri (puasa) itu sendiri? Kalau puasa masih konsisten dengan misi spritualitas, kesunyian, dan individualisme, maka ia juga harus toleran bahkan menyayangi semua entitas yang berbeda di permukaan bumi.           

Berpuasa sebagaimana tidak puasa adalah hak semua orang. Warung-warung makan, tempat-tempat hiburan, hotel-hotel, pelacuran-pelacuran, sama sekali bukan penghalang bagi mereka yang ingin berpuasa. Sementara menutup tempat-tempat tersebut secara langsung telah menghalangi aktivitas orang lain yang tidak berpuasa. Bukan orang yang tidak berpuasa yang dituntut untuk menghormati orang yang berpuasa, melainkan orang yang berpuasalah yang menuntut dirinya sendiri untuk menghargai dan memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada semua orang, termasuk orang yang tidak berpuasa. Kalau perlu orang yang berpuasa memberikan makan kepada orang yang tidak berpuasa pada waktu-waktu makan. Mereka yang benar-benar ingin lulus ujian bukan lari dari tantangan, melainkan menghadapi tantangan itu dengan gagah berani. Itulah hakikat berpuasa yang sejati.           

Sejatinya, Islam selalu menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Kehadirannya selalu dinantikan oleh semua entitas dunia. Dan bukan malah menjadi bencana bagi seluruh alam. Seharusnya bulan puasa menjadi momentum aktualisasi konsepsi rahmatan lil alamin. Kalau bulan puasa ternyata menciptakan ketakutan bagi sebagian orang, maka sebetulnya ia jauh dari esensi Islam dan puasa itu sendiri. Bulan puasa selayaknya menjadi perayaan spritualitas Islam dan bukan perayaan duniawi. Perayaan spritualitas Islam tersebut harus terejawantah dalam pola prilaku yang konstruktif dalam masyarakat, bukan dekonstruktif.            

Kalau bulan puasa bisa menjadi momentum Islam mengaktualisasikan kesejatian dirinya, maka hal ini akan sangat membantu penghapusan stigma “teroris” bagi ummat Islam. Selama ini, beberapa tindakan terorisme memang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya Muslim. Akibat dari perbuatan mereka merembet kepada Islam secara keseluruhan, baik secara personal maupun secara konsepsional. Islam kemudian diidentikkan dengan terorisme, bahkan terorisme itu sendiri kadang-kadang dikatakan memiliki landasan konsepsional dalam teks-teks teologis Islam itu sendiri. Stigma seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi ummat Islam, seakan-akan agama ini memang haus darah dan kematian. Konsep-konsep kasih sayang dan toleransi tidak muncul ke permukaan hanya karena ulah segelintir orang. Usaha untuk menepis stigma tersebut sebetulnya dilakukan secara serius, baik oleh orang Islam itu sendiri, maupun oleh mereka yang mau secara objektif melihat Islam. Salah satu alasan paling populer untuk melawan stigma tersebut adalah dengan mengatakan bahwa Islam pada dirinya (an sich) bukanlah teroris, atau bahwa ummat Islam sesungguhnya sangat toleran dan yang melakukan tindakan terorisme itu hanyalah oknum yang tidak bisa merepresentasikan ummat Islam secara umum. Seribu satu macam alasan untuk menolak stigma teroris bagi ummat Islam kemudian terbantah ketika setiap tahun ummat Islam secara kolektif melakukan tindakan semena-mena menutup dan merusak tempat-tempat hiburan, warung-warung makan, dan tatanan sosial secara umum. Tindakan kolektif ummat Islam tersebut memperlihatkan kesombongan yang luar biasa dan dilakukan secara berkala pula, setiap tahun.Sementara itu, para ulama Islam nampak mendiamkan hal itu terjadi, bahkan kerapkali memberi lampu hijau bagi tindakan-tindakan seperti itu. Kalau ummat Islam tetap seperti ini, maka sangat wajar memang ummat Islam disebut sebagai ummat teroris lil alamin.Kendati demikian, selalu ada harapan untuk menampilkan kesejatian Islam ke permukaan. Toh kesejatian Islam tersebut secara eksplisit terdapat dalam teks-teks teologis (al-Qur’an dan al-Sunnah). Tinggal bagaimana merumuskan strategi untuk mengangkatnya ke permukaan. Gerakan itu harus dimulai. Dan momentum bulan puasa bisa dijadikan landasan bagi gerakan wajah Islam yang lain, yang tidak berlumuran darah, melainkan yang spritualis dan yang penuh kasih sayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s