Menjaga Profesionalisme Penelitian Ilmiah

Di tengah gencarnya perubahan eskalasi politik nasional menjelang pemilihan umum presiden tahap II, sensitifitas para politisi meningkat tajam. Salah satu hal yang menjadi sangat sensitif adalah publikasi hasil penelitian ilmiah menyangkut perkembangan suara dukungan terhadap masing-masing kontestan pemilu. Beberapa waktu yang lalu, PDI-P menuding IFES telah mempublikasikan penelitian yang tidak akurat dan cenderung mendukung salah satu pasangan Capres kontestan pemilu. Bahkan PDI-P juga mencurigai lembaga penelitian yang lain, seperti LSI, telah melakukan tindakan yang sama.  Sejak runtuhnya kekuasaan otoriter Orde baru, masyarakat intelektual Indonesia serta-merta bergeliat dan terus melakukan perubahan di sana-sini sebagai bentuk perayaan atas runtuhnya belenggu dan terbitnya fajar baru kebebasan. Kalau pada masa Orde Baru, para intelektual dibiarkan terpenjara dalam idealisme yang mandul, maka pada masa kebebasan ini, para intelektual memaksimalkan eksplorasi daya nalar mereka bagi kepentingan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu perkembangan yang sangat mencolok adalah apa yang terjadi di dunia ilmu politik (political science).           

Perubahan mencolok di bidang ilmu politik tersebut, terutama sekali,disebabkan oleh pilihan reformasi politik untuk mengatasi krisis tahun 1997. Seandainya pertama kali krisis dihadapi dengan reformasi ekonomi, sebagaimana di Mexiko tahun 1980-an, atau di Cina dan Singapura saat ini, barangkali perubahan dunia ilmu politik tidak akan sedrastis saat ini. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat pada antusiasnya para pengamat politik yang dengan enteng merambah jauh memasuki wilayah-wilayah yang dulu disakralkan Orde Baru, melainkan juga pada masalah yang sangat mendasar berkenaan dengan metode dan titik pandang pengambilan teori. Kalau pada masa Orde Baru dan awal reformasi, pada pemilu pertama tahun 1999, dunia pengamat politik politik masih dikuasai oleh para pengamat spekulatif yang bersandar kepada garis filsafat rasionalisme-idealisme, maka saat ini dunia pengamat politik dikuasi oleh para pengamat empiris yang mendasarkan diri kepada data penelitian empiris.           

Yang terakhir di atas adalah perwujudan langsung dari usaha para filsuf selama berpuluh tahun, bahkan beratus tahun, untuk merumuskan kemungkinan metode ilmu alam diterapkan dalam bidang ilmu sosial. Selama berabad-abad, ilmu alam dikelompokkan dalam jenis ilmu yang empiris dan bebas nilai karena ia menjaga objektivitas, sementara ilmu sosial dikatakan ilmu yang rasional-spekulatif karena ia lebih banyak menggunakan analisa subjektif. Perkembangan sains dan teknologi di Barat membuktikan keunggulan ilmu alam jauh melampaui ilmu sosial. Bahkan untuk mengejar ketertinggalannya, ilmu sosial mulai rela meninggalkan metode rasional-spekulatifnya, dan mencoba menggunakan metode ilmiah-empiris dalam penelitian sosial. Penelitian ilmiah dalam ilmu politik adalah salah satu imbas dari perubahan paradigma tersebut.            

Terlepas dari perdebatan filosofis yang masih menghantui perjalanan ilmu politik dan sosial tersebut dalam menjalankan metode ilmiahnya, perkembangan ilmu politik dan sosial melaju terus tanpa bisa dihentikan lagi. Bagaimana mungkin menolak metodologi ilmiah dalam ilmu politik dan sosial, ketika analisa-analisa yang lahir dari sana semakin mempertipis jaraknya dengan realitas politik dan sosial yang sesungguhnya ada, dibanding analisa-analisa subjektif-spekulatif yang belum tentu kebenarannya. Pengambilan kebijakan negara bisa semakin didekatkan dengan aspirasi rakyat melalui penjaringan opini publik dalam penelitian ilmiah. Para pialang politik juga menjadi bisa mengatur strategi jitu untuk memenangkan pemilu, karena jauh sebelum hari pencoblosan, para pengamat dan peneliti telah mengetahui perkiraan perolehan suara masing-masing partai.            

Tentu saja penelitian ilmiah yang dilakukan oleh lembaga-lembaga penelitian harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat, metode penelitian ilmiah harus semakin merapatkan margine of error penelitiannya, dan untuk itu lembaga penelitian harus mengambil sample lebih banyak, mungkin 2 ribu, 3 ribu, 4 ribu responden, dan seterusnya. Dan untuk mengamati perkembangan prilaku pemilih atau pola perubahan sosial, misalnya, lembaga penelitian harus melakukan penelitian berkala, setahun sekali, pertiga bulan, satu bulan, per-tiga minggu, atau setiap setelah terjadi peristiwa politik atau sosial tertentu, misalnya suksesi kepemimpinan nasional.           

Selama ini, lembaga-lembaga penelitian dengan standar metodologi ilmiah telah membuktikan hasilnya dengan berhasil memprediksi perolehan suara partai-partai politik pada pemilu legislatif dan pemilu presiden tahap I 2004 lalu yang sangat mendekati hasil sebenarnya dengan yang diumumkan KPU. Oleh karena itu, tingkat akurasi yang tinggi dari pola penelitian ilmiah tersebut telah memberi peluang dan pancingan bagi banyak kepentingan untuk memanfaatkannya: pemerintah untuk mendekatkan aspirasi rakyat dengan kebijakannya; politisi untuk mencari strategi politik yang jitu; pelaku ekonomi untuk mencari peluang pasar; kaum intelektual untuk menambah khazanah intelektualismenya; individu untuk mencari celah pemenuhan kepentingan individunya; dan lain sebagainya. Dengan demikian, tentu saja proyek ini menarik minat para funding, lembaga donor, institusi politik, pemerintah, universitas, lembaga keagamaan, individu, baik dari dalam maupun dari luar negeri, untuk mendanai proyek penelitian tersebut.           

Bagi para peneliti profesional, darimanapun sumber dana yang mereka peroleh untuk menjalankan proyeknya, dan kepentingan apapun yang ada di baliknya, sama sekali bukan persoalan dan mereka tidak ambil peduli, sepanjang hal tersebut tidak mempengaruhi tingkat akurasi, objektivitas, dan metodologi ilmiah yang mereka terapkan. Sebab sadar atau tidak, hasil penelitian ilmiah memang menjadi lahan empuk bagi siapapun untuk memanfaatkannya, baik oleh yang mendanai maupun yang hanya sekedar mengetahuinya melalui media massa.            

Profesionalisme seperti ini harus dipertahankan dan bahkan dikembangkan, sebab landasan utama sebuah lembaga penelitian adalah tingkat akurasi dan objektivitas. Jika sebuah lembaga penelitian telah mengabaikan kedua hal tersebut, maka ia pasti ditinggalkan. Yang dikonsumsi publik dari sebuah hasil penelitian adalah objektivitasnya, bukan kepentingan yang ada di baliknya. Sebab semua hal tentu tidak bisa lepas dari kepentingan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s