Munir & Ulil

Pada setiap masa, selalu ada pionir yang memulai sebuah tradisi baru yang berbeda dengan apa yang terjadi pada masa lalu. Para pionir itu tampil dengan semangat baru dan berusaha mendobrak sejarah masa lalu. Merekalah yang menjadi penanda bagi sebuah perubahan dan pergeseran sejarah. Tanpa mereka, nampaknya sejarah akan berjalan di tempat. Sebab proses dialektis memang selalu bermula dari negasi terhadap sesuatu yang dianggap mapan. Negasi bukan berarti meniadakan masa lalu, tapi mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Demianlah proses peradaban manusia berjalan dan terus bergulir.

 

Mendobrak dominasi masa lalu bukan pekerjaan yang mudah, sebab kekuatan status quo itu demikian tak terperi. Sehingga kadangkala memang harus ada yang menjadi martil, rela berkorban untuk sebuah idealisme masa depan, kendatipun barangkali masa depan itu akan berakhir di suatu saat dan akan digantikan oleh masa depan yang lain. Sebagai gernerasi baru, biasanya kaum mudalah yang melakukan pendobrakan sejarah. Secara psikologis, kaum tua kerapkali cepat merasa mapan dan merasa cukup dengan keadaan yang sudah ada. Barangkali kondisi seperti itu dipicu oleh perasaan kaum tua yang juga pernah melakukan pendobrakan sejarah, atau mungkin juga karena tingkat kedewasaan tertentu. Entah.

Untuk kasus spesifik Indonesia, ada banyak pemuda yang sekarang sedang getol-getolnya melakukan pendobrakan sejarah, jumlahnya tidak terhitung. Tapi setidaknya ada dua orang yang cukup fenomenal dan perjuangannya terus berlanjut, yaitu Alm. Munir dan Ulil. Kedua orang ini berjuang pada garis perjuangan yang berbeda tapi memiliki tujuan yang sama. Alm. Munir berusaha mendobrak sejarah struktural kenegaraan Indonesia, sementara Ulil mencoba mendobrak sejarah kultural. Melalui KontraS, Munir terus melakukan gugatan terhadap ketidakberesan penyelenggaraan negara. Perjuangan politis ini sangat tidak mudah, sebab ia akan berhadapan langsung dengan para penguasa struktural yang memiliki uang dan senjata. Sehingga, berjuang di jalur ini sangat tidak aman bagi keselamatan pribadi maupun keluarga dan kelompok. Munir dengan semangat muda yang berapi-api berdiri di garda depan menantang segala ancaman demi sebuah cita-cita ideal sampai akhir hayatnya. Pilihan hidup menjadi seorang aktivis yang selalu berdiri berhadap-hadapan dengan pemerintah bukanlah pilihan yang menyenangkan, sehingga orang seperti Munir akan sangat sulit ditemukan, sekalipun mungkin ada.

 

Pemuda yang kedua, yang berjuang dari jalur kultural adalah Ulil Abshar Abdalah. Perjuangan mendobrak sejarah tidak selalu harus dilakukan secara struktural, sebab yang paling menentukan adalah kondisi-kondisi riil di masyarakat kultural. Sekalipun telah terjadi perubahan pada tingkat elit politik struktural, kalau pada masyarakat riil tidak terjadi apa-apa, maka sebuah negara akan sangat rentan kembali ke masa lalu yang suram. Perjuangan Ulil juga tidak tanpa bahaya, sebab ia berhadapan langsung dengan realitas masyarakat yang mungkin tidak biasa dengan ide-ide barunya. Sehingga sangat mudah dipahami kalau Ulil senantiasa mendapat ancaman dari masyarakt itu sendiri yang ingin dirubahnya. Perubahan yang dicita-citakan Ulil terutama pada masalah relasi masyarakat dalam kehidupan keberagamaan. Di sebuah negara yang memiliki penduduk dengan budaya agamis yang sangat kental, perjuangan Ulil sangat menemukan momentumnya. Sebagaimana Munir, pilihan hidup Ulil juga sangat sulit. Sehingga hanya sedikit orang yang menjalani hidup seperti itu.

 

Proses demokratisasi yang sedang terjadi di Indonesia merupakan momentum bagi sebuah perubahan sejarah, dari totalitarianisme menuju demokrasi. Banyak aktor dan pahlawan yang terlibat dalam perubahan ini, dan tidak sedikit korban yang berjatuhan. Perubahan, sebagaimana lazimnya, mengandaikan gesekan-gesekan sosial yang kadang tidak mengenakkan. Seringkali perubahan juga diawali dengan pertumpahan darah. Perubahan yang terjadi di Indonesia juga tidak lepas dari ekses buruk tersebut. Menurut Samuel P. Huntington, pakar ilmu politik asal Amerika Serikat, gesekan sosial yang terjadi dalam sebuah masyarakat yang sedang berubah memang sangat lazim di hampir semua negara. Gesekan tersebut menandai adanya transformasi sosial. Menurut Huntington, riak-riak sosial itu tidak bisa dipandang dari sudut negatifnya saja, melainkan juga dari segi positifnya, yaitu bahwa hal itu akan melahirkan proses pendewasaan masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang sedang tidak berubah biasanya akan mengalami hidup yang stabil, sementara masyarakat yang sedang berubah relatif labil. Pada akhirnya, ketidak-stabilan akan menguak dimensi pluralitas dalam sebuah masyarakat, bahwa ternyata dalam struktur masyarakat terdapat berbagai kepentingan yang semuanya harus diakomodir tanpa pilih kasih. Kesadaran semacam inilah yang diharapkan dari sebuah masyarakat yang sedang bergolak dalam perubahan.

 

Kendati demikian, pergolakan dalam sebuah masyarakat yang sedang berubah juga harus tetap diwaspadai. Sebab pergolakan yang terlalu lama akan memancing berkuasanya kembali kekuatan pro status quo atau yang pro terhadap kemapanan dan anti perubahan, mereka diwakili oleh golongan militer, komunis,dan fundamentalisme agama. Pergolakan dalam rangka pendobrakan status quo dan sebagai proses pendewasaan masyarakat harus terus terjadi, tapi ia juga harus dijaga agar jangan anarkhis dan terlalu lama. Posisi inilah yang diperankan dengan sangat baik oleh dua tokoh pemuda kita, Munir dan Ulil. Munir melakukan dobrakan-dobrakan pendewasaan dengan mengkritisi pemerintah terus-menerus, sementara Ulil mengkampanyekan semangat pluralisme dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat masyarakat Indonesia.

Ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal dari Nabi Muhammad S.A.W, “laisa al-fata man qaala haadza abii (bukanlah pemuda yang mengatakan ini bapak saya), walakin al-fata man qaala haa ana dza (akan tetapi seorang pemuda adalah yang berani berkata inilah saya). ungkapan pendek tersebut menyiratkan pengetahuan Muhammad tentang keunikan antar masa. Kejayaan orang tua bukan berarti kejayaan buat si anak. Sebab anak dan orang tua memiliki dunianya sendiri-sendiri. Apa yang digungkan oleh orang tua, barangkali tidak berarti apa-apa buat dunia para anak. Apa yang dilakukan Munir dan Ulil barangkali tidak menarik bagi para orang tua, tapi itulah kenyataan dan keyakinan hidup yang ideal bagi masyarakat muda Indonesia, yang nantinya akan memegang kendali di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s