Negeri Bencana

Bersamaan dengan suksesi kepemimpinan nasional, tahun 2004 menjadi tahun di mana berbagai mala-bencana bertubi-tubi mendera Indonesia. Belum sempat bangsa ini merefleksikan penyebab sebuah bencana, apalagi menanggulanginya, bencana berikutnya menyusul dan terus tumbuh berkembang bak jamur di musim hujan. Kita belum selesai menghitung kerugian gempa bumi Alor Nusa Tenggara Timur, Nabire telah berguncang dengan bencana serupa. Pada saat yang sama, musim hujan menghantarkan sejumlah daerah ke dalam ritual tahunan bencana banjir dan tanah longsor. Belum lagi berbagai kasus demam berdarah, ancaman flu burung dan Aids. Murka alam yang membuat Indonesia berduka itu lebih diperparah oleh kecelakaan beruntun yang lagi-lagi tidak memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir: kecelakaan tol Jagorawi Bogor, kecelakaan pesawat Lion Air di Solo, dan sejumlah kecelakaan kereta api di pulau Jawa. Kasus Buyat yang sampai sekarang belum ada penyelesaian juga sangat memprihatinkan, demikian pula bergelimpangannya jutaan ikan di pantai Jakarta akibat pembuangan limbah industri yang membuat nelayan-nelayan di sekitarnya kehilangan mata pencaharian. Dan yang paling membuat bangsa ini menjadi nista sampai ke titik terendah adalah berbagai tragedi berdarah yang didesain oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab dari negeri ini sendiri: konflik berdarah di Aralle Sulawesi Barat, konflik Poso yang belum bisa benar-benar aman, juga tragedi Bojong yang melibatkan para aparat keamanan, belum lagi kasus kematian pejuang hak asasi manusia, Munir, yang diduga kuat diracun, dan seterusnya.

Alih-alih mengkonsolidasikan kekuatan untuk memulihkan krisis ekonomi yang berkepanjangan, negeri ini seperti terus saja dikepung oleh berbagai bencana dan tragedi berdarah. Dan kita tidak mungkin melakukan apa yang diusulkan oleh Ebit G. Ade dengan mempertanyakannya kepada rumput bergoyang atau menyatakan bahwa Tuhan telah bosan. Sebab berbagai bencana beruntun itu tidak bisa dilepaskan dari campur tangan manusia Indonesia, yang begitu rakus mengeksploitasi alam tanpa pernah mempertimbangkan keseimbangan alam itu sendiri. Hutan-hutan digunduli tanpa ampun, bangunan-bangungan didirikan tanpa peduli terhadap harmonisasi dengan pembuangan dan penampungan air, pabrik-pabrik industri dibangun di berbagai tempat begitu saja tanpa peduli terhadap pembuangan limbah yang merusak ekosistem dan menyebabkan polusi udara. Satu-satunya alasan berbagai proyek raksasa itu hanyalah kerakusan dan egoisme. Hidup diandaikan hanya ada saat ini, sementara masa depan diabaikan begitu saja, seakan mereka tidak akan beranak pinak lagi.Berbagai bencana beruntun tersebut menyisakan tanya yang begitu besar, benarkah negeri ini serius ingin keluar dari krisis multi dimensi? Sebuah negara di belahan dunia manapun memang tidak akan pernah ada yang luput dari bencana, tapi bencana yang melanda Indonesia telah demikian tak terperi dan melampaui batas kewajaran. Bencana tidak akan separah ini jika ada keseriusan untuk menanganinya. Berbagai penyebab bencana telah sangat populer dibicarakan banyak kalangan, yang tidak kita lakukan adalah memutus mata rantai penyebab bencana, malah dibiarkan dan menyebut akibatnya sebagai kutukan dan takdir Penguasa Alam.Menangkap penebang liar bukanlah pekerjaan yang terlalu sulit bagi aparat penegak hukum kita, sebab penebang-penebang liar itu selalu ada di hampir semua pinggiran hutan yang tersisa di Indonesia. Mencegah proyek pembangunan pabrik industri yang tidak pro terhadap kelestarian alam juga sangat mungkin dicegah oleh aparat hukum kita yang perkasa. Yang sulit dilakukan adalah bila para pelanggar tersebut identik dengan aparat keamanan dan hukum itu sendiri. Artinya, para penebang liar adalah aparat itu sendiri, atau setidaknya keluarga, teman, tetangga, atau rekan bisnis penebang liar itu sendiri. Demikian pula jika para penegak hukum adalah perpanjangan tangan dari pemilik modal industri itu sendiri.Apa yang dilakukan mantan presiden Megawati Soekarnoputri, para pejabat, dan tokoh masyarakat yang mengunjungi pusat-pusat bencana alam baru-baru ini adalah perbuatan mulia. Semua masyarakat memang harus peduli terhadap bencana yang menimpa saudara-saudara sebangsa dan setanah air tersebut. Tapi, sekedar peduli, mengunjungi, dan memberi bantuan kepada para korban bencana tidaklah memadai untuk menyelesaikan problem bencana yang telah menjadi ritual tahunan di negeri ini. Melainkan, sekali lagi, yang sangat penting dilakukan secepatnya adalah meminimalisir terjadinya bencana di masa depan.Yang terjadi selama ini, bencana banyak dibicarakan ketika ia telah hadir di hadapan dan menimpa banyak korban. Setelah musim bencana usai, maka usai pula pembicaraan tentangnya, seakan-akan sebuah bencana berdiri sendiri tanpa berkaiatan dengan banyak hal. Akibatnya, tidak pernah muncul sebuah usaha sistematis untuk menanggulangi kemungkinan munculnya bencana alam. Kendatipun kebanyakan bencana alam datang dengan tiba-tiba, tapi melalui sebuah usaha sistematis yang didukung oleh semua elemen masyarakat, setidaknya meminimalisir terjadinya bencana, atau meminimalisir jumlah korban.Negara memiliki Badan Metereologi dan Geofisika yang selalu bisa memprediksi curah hujan di seluruh Indonesia. Kalau ini dimanfaatkan dengan baik, korban banjir tidak akan terlalu banyak. Sebab mengungsikan para korban tentu bisa dilakukan lebih awal. Dengan itu pula, antisipasi terhadap saluran mampet dan lain sebagainya juga bisa dilakukan lebih awal. Sebetulnya, prediksi tentang akan terjadinya sebuah bencana alam selalu terdeteksi, yang tidak dilakukan adalah koordinasi sungguh-sungguh untuk menanggulangi segala macam bencana alam tersebut. Pendeknya, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi segala bentuk bencana alam, apalagi bencana-bencana yang direkayasa secara langsung oleh berbagai oknum yang tidak bertanggungjawab. Persoalannya dibebankan ke pundak bangsa Indonesia sendiri, sungguhkah kita mau keluar dari bencana dan krisis?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s