Pendidikan Pemilih untuk Pemilih Rasional

Pendidikan pemilih bagi pemilih pemula mutlak dilakukan. Disamping kerumitan proses pemungutan suara, para pemilih juga diharapkan lebih cerdas dalam menentukan pilihan. Hasil-hasil Pemilu yang diharapkan memantapkan perjalanan transisi menuju demokrasi akan sangat bergantung kepada kecerdasan para pemilih. Proyek tidak memilih politisi busuk, atau tidak memilih kekuatan lama, tidak akan punya makna kalau para pemilih tidak cerdas. Yang lebih penting dalam pendidikan pemilih adalah bagaimana ia menentukan pilihan secara tepat.

Masalahnya, proyek pendidikan pemilih seringkali diarahkan kepada kepentingan golongan tertentu, yang itu sama sekali bukan pencerdasan, melainkan penghasutan dan pembodohan. Pendidikan pemilih menjadi ajang mendidik para pemilih bagaimana memilih satu partai tertentu, partai mana yang harus dicoblos; dan bagaiamana cara memilih nomor tertentu; jangan sampai melenceng ke nomor yang lain. Alih-alih pencerdasan, para pemilih malah dipasangi kacamata kuda. Para pemilih bukan semakin rasional dan objektif memilih, melainkan semakin tradisional dan buta terhadap kemungkinan pilihan yang lain.

Tentu saja tidak arif menimpakan kesalahan kepada partai-partai politik yang melakukan pendidikan pemilih untuk kepentingan partainya. Sebab partai politik memang selalu memiliki kepentingan dengan semua warga negara yang punya hak pilih, yaitu bagaimana partainya memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Pendidikan pemilih yang beriorientasi kepentingan suara memang salah satu bentuk kampanye dari partai-partai politik peserta Pemilu. Yang jadi masalah adalah ketika pendidikan pemilih untuk menciptakan pemilih rasional tidak memadai. Sebab ini akan berdampak langsung kepada hasil Pemilu.

Pemilu seyogyanya adalah momentum perubahan dan ajang evaluasi. Pada momentum Pemilulah rakyat bisa melakukan kritik bahkan hukuman kepada kekuatan-kekuatan politik yang bermasalah, yakni dengan cara tidak menyalurkan suara kepadanya. Momentum ini juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pemilih untuk menentukan ke arah mana bangsa ini mau dibawa. Hasil pilihan merupakan bukti kongkrit keinginan masyakarat pemilih. Hasil itu juga akan melegitimasi sebuah kekuasaan. Pemilu merupakan bentuk kekuasaan rakyat atas sebuah negara. kekuasaan itu diwakilkan kepada elit-elit politik yang dipilih dalam Pemilu. Para elit terpilih itu kemudian bisa mengklaim tindakannya sebagai tindakan yang diinginkan oleh rakyat, karena rakyat telah memilihnya.

Oleh karena itu, pemilih yang rasional sangat menentukan masa depan negara. Di tangan para pemilih rasionallah sebuah hukuman bisa dijatuhkan kepada para penguasa yang tidak becus. Sementara para pemilih yang tidak rasional atau pemilih tradisional tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka hanya melegitimasi kekuasaan terpilih, yang kemungkinan besar pilihan itu tidak tepat. Para pemilih tradisional akan dengan mudah diombang-ambing oleh segala bujuk rayu politisi. Mereka akan dengan mudah termakan oleh janji agenda-agenda pendek yang semu. Mereka dengan mudah dibeli tontonan-tontonan gratis, baju kaos, indomie, penampilan artis-artis ibu kota, dan semacamnya. Atau mereka dengan mudah diyakinkan dengan hanya menampilkan beberapa orang ulama yang megumbar ayat-ayat suci yang tidak relevan. Salah satu contoh, misalnya, kecenderungan para pemilih sekarang untuk tetap mempertahankan pilihannya pada Pemilu yang lalu. Padahal para penguasa terpilih yang lalu itu tidak menunjukkan kinerja yang berarti untuk mengartasi berbagai krisis yang melanda, bahkan para politisi tersebut tidak memiliki niat baik untuk melakukan perubahan. Tapi kemudian dipilih lagi. Dan berbagai hasil survey menunjukkan hasil Pemilu sekarang tidak akan banyak perubahan. Ini menjadi satu bukti betapa evaluasi dari masyarakat Pemilih itu sangat minim. Kalaupun ada evaluasi, evaluasi itu tidak berangkat dari sebuah pertimbangan rasional.

Sebuah Pemilu dengan tingkat pemilih tradisional yang mayoritas, tidak akan merubah apa-apa. Betul bahwa serasional apapun pemilih, yang berkuasa tetap golongan elit tertentu; kekuasaan hanya akan berpindah dari satu elit ke tangan elit yang lain. Tapi rasionalitas pemilih akan menjadi satu tekanan bagi para elit politik untuk berbuat yang terbaik bagi rakyat. Mereka akan bersaing melakukan yang terbaik. Para politisi akan berbuat sekehendak hatinya, kalau melihat kenyataan bahwa para pemilih ternyata tidak cerdas dan mudah dikibulin. Mereka akan menggunakan kekuasaan sekehendak hatinya. Munculnya banyak nama yang bermasalah menunjukkan bahwa para politisi kita belum terlalu takut kepada hukuman masyarakat pemilih. Bahkan para politisi busuk itu cenderung memanfaatkan ketidak-rasionalan para pemilih. Dan ini sangat berbahaya bagi kelangsungan demokrasi. Demokrasi muncul dari sebuah rasionalitas kekuasaan. Dan ia bergerak di antara orang-orang rasional.

Pada titik ini, mendidik para pemilih untuk bersikap rasional adalah sesuatu yang mutlak bagi kelangsungan demokratisasi yang sedang merangkak di antara bayang-bayang kekuasaan otoriter masa silam. Agenda-agenda reformasi terutama dikandaskan oleh ketiadaan evaluasi rasional dari para pemberi legitimasi kekuasaan, yaitu para pemilih. Logika para penguasa tentu saja adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan. Kalau para penguasa itu akan tetap bertahan dengan membodohi rakyat, maka itu akan dilakukan oleh mereka. Rakyat harus bisa mandiri dalam menentukan sikap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s