Revolusi Dunia Entertainment

Indo Pos, 30 Agustus 2004

Maraknya acara akademi yang menawari berbagai mimpi bagi pemuda-pemudi Indonesia yang diselenggarakan stasiun-stasiun televisi swasta benar-benar telah menegaskan revolusi dunia entertainment, yang sebetulnya secara diam-diam telah berlangsung lama di negeri ini. Revolusi yang dimaksud adalah masuknya penetrasi unsur-unsur demokratis dalam dunia hiburan, demokrasi bukan lagi hanya milik dunia politik, tapi juga telah dibagi dengan dunia hiburan. Betapa tidak, metode jajak pendapat melalui SMS untuk menentukan akademia atau peserta kontes yang berhak menyandang predikat juara, tanpa alasan kenapa seseorang menjatuhkan pilihan, adalah sama dengan sistem pemilihan penguasa dalam politik demokratis. Unsur kualitas yang sebelumnya mendominasi dunia seni dan hiburan kini tergeser oleh unsur kuantitas. Sekarang, sukses tidaknya seseorang dalam dunia seni dn hiburan tidak lagi ditentukan oleh bagus tidaknya ia berkesenian, tapi seberapa banyak ia mendapat dukungan dari dunia publik. Pada akhirnya, pasar akan menjadi panglima dunia seni dan hiburan.

Simak saja bagaimana Very bisa menjuarai Akademi Fantasi Indosiar (AFI) I dengan kualitas suara yang “pas-pasan” jika dibandingkan dengan Kia yang menempati posisi kedua. Kesuksesan Very bukan karena ia berhasil memukau penenton dengan pertunjukan seni tarik suaranya, melainkan karena ia berhasil menampilkan sisi lain latar belakang kehidupan pribadinya yang sama sekali tidak terkait dengan aksi panggungnya. Kemudian orang merasa iba dan simpatik. Maka jadilah ia idola remaja di bidang tarik suara. Pada AFI II, nampaknya para pengirim SMS mulai sedikit rasional ketika Tia muncul sebagai pemenang. Tia memang memiliki suara dan kemampuan menyanyi yang luar biasa. Di media-media entertainment, Haykal sempat diangkat latar belakang kehidupannya yang suram, sebagaimana Very yang sama-sama dari Medan. Kendati hal itu mendongkrak perolehan SMS Haykal, tapi itu belum cukup membendung arus besar pendukung Tia. Berkali-kali para komentator gagap dan tidak mampu memberikan komentar selain pujian kepada Tia, bahkan Erwin Gutawa, salah satu komentator, hanya berkata, bahwa ia menyangka Tia telah mengeluarkan 5 album sebelum tampil di AFI. Tia di posisi pertama dan Haykal di posisi kedua. Apakah AFI II telah membuktikan bahwa dukungan massa telah rasional dan kualitas kembali menduduki posisi puncak dunia seni dan hiburan? Tunggu dulu, mari mengamati fenomena yang terjadi di Indonesian Idol yang diselenggarakan oleh Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Joy yang memiliki daya tarik suara yang sama dahsyatnya dengan Tia di AFI II tidak diragukan lagi haknya untuk tampil di Grand Final Indonesian Idol, tapi yang perlu dipertanyakan adalah lawannya, Delon. Indra Lesmana, salah satu komentator pada malam Grand Final, mengatakan bahwa Delon harus maju sepuluh kali lipat lagi untuk bisa bersaing dengan Joy. Pada saat yang lain, semua komentator yang biasanya sadis itu berdiri untuk memberikan applaus penghormatan dan kekaguman kepada Joy ketika Joy mengakhiri sebuah lagunya. Titi DJ secara eksplisit mengatakan belum pernah merinding menyaksikan orang bernyanyi dan berkali-kali berteriak “gila, gila” sebagaimana yang dia alami ketika menyaksikan Joy bernyanyi. Tapi kenyataan pada perolehan suara SMS, Joy dan Dilon bersaing ketat memperebutkan posisi pertama yang hanya terpaut 0,06 %. Joy memang luar biasa daya tarik suaranya, tapi Dilon memiliki wajah tampan yang memukau banyak orang. Di samping itu, serangan bertubi-tubi dari para komentator kepada Dilon, yang kerapkali membuat mata Dilon berkaca-kaca, mungkin menjadi unsur lain yang mengalirkan simpati kepada Dilon. Joy memang luar biasa dan mungkin sepuluh kali lipat di atas Dilon, tapi Joy belum tentu menjadi pemenang.Berbeda dengan AFI dan Indonesian Idol, KDI menampilkan fenomena yang lain. Posisi Siti (wakil Bandung) dan Safaruddin (wakil Makassar) yang sampai saat ini belum terkalahkan kompatibel dengan komentar-komentar para komentator yang kerap memuji penampilan dua kandidat juara KDI terkuat ini. Persoalan yang butuh pemecahan adalah latar belakang pemirsa KDI dan publikasi media terhadap kandidat-kandidat KDI. Praktis praktis latar belakang kehidupan peserta tidak menjadi wacana populer di media massa. Kalaupun ada di media massa, media massa hanya merupakan konsumsi masyarakat menengah ke atas, sementara musik dangdut, kalau kesimpulan ini benar, banyak dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah. Sehingga kehidupan di luar panggung para peserta KDI tidak banyak berpengaruh. Pada akhirnya para peserta lebih banyak berkompetisi secara objektif di atas panggung.Tiga kontes hiburan yang banyak diminati para remaja di atas, disamping kontes yang lain seperti Cantik Indonesia, SCTV Road to Campus, Lomba Akting RCTI, dan lain-lain, masing-masing memberikan gambaran yang hampir utuh tentang dunia seni dan hiburan kita yang sesungguhnya. Revolusi tekhnologi tidak hanya melakukan percepatan informasi, tapi juga merubah cara produksi dunia seni dan hiburan. Kalau pada tahun 60-an, dunia seni mengalami konflik internal antara seni politis (seni untuk rakyat atau realisme sosialis) melawan seni untuk seni. Maka perjuangan seni membebaskan diri dari belenggu muatan moral sosialis kini telah terjerumus kembali ke dalam kutub ekstrim yang lain, yaitu dunia kapitalisme. Seorang seniman di suatu tempat tidak akan mungkin diakui publik, kalau ia tidak didukung oleh modalyang kuat untuk mempromosikan atau mengkampanyekan karya dan kemampuan berkeseniannya. Sebaliknya, seorang penguasa dan pemilik modal sebuah perusahaan hiburan dan kesenian, begitu mudah mengorbitkan seseorang yang sebelumnya tidak dikenal melalui kampanye di media massa dan polesan di luar seni dan hiburan itu sendiri. Untuk menjadi tenar,seseorang tidak hanya bisa mengandalkan aksi panggung, tapi ia juga dituntut untuk bisa melobi, berkampanye, licin, cerdas memanfaatkan moment, dan barangkali sedikit curang.Salah satu cerita dalam novel paling populer Mario Puzo, yang kemudian difilmkan dengan judul The God Father, menggambarkan bagaimana uang dan mafia kejahatan juga menjadi penentu dalam kesuksesan dunia seni dan hiburan di kehidupan pasar (publik) Amerika bahkan dunia. Pada titik ini, tesis Marx tentang alienasi mungkin mencapai kebenarannya, ketika ummat manusia semakin termesinkan dan kehilangan otentisitas untuk menentukan sendiri nilai bagi dirinya. Nilai seseorang telah terkonstruksi sedemikian rupa dalam rumus-rumus kapitalis yang hanya bisa dirubah oleh para pemilik modal kapitalisme itu sendiri, dimana nilai obejektif seorang individu telah terjual habis. Sementara kesempatan memperjuangkannya semakin tidak relevan ketika akhir sejarah memang dimenangkan oleh kapitalis. Very, Kia, Tia, Haykal, Joy, Dilon, Siti, Safaruddin, dan tentu juga kita tidak berkutik menolaknya. Maka mari kita rayakan!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s