Pertarungan Dua Diva dan Masa Suram Politik Perempuan

Bursa calon presiden yang semakin menghangat menjelang pemilu tiba-tiba digemparkan oleh sikap tegas Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pimpinan mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Jendral (Purn) R. Hartono, untuk mencalonkan anak sulung mantan Presiden Soeharto, Mbak Tutut atau Siti Hardiyanti Rukmana, sebagai persiden RI dalam Pemilu 2004.

Pencalonan Tutut secara langsung menambah daftar calon presiden dari kalangan perempuan. Selama ini Megawati lebih mendominasi sebagai representasi perempuan dalam bursa calon presiden. Beberapa kalangan aktivis perempuan menyebut Megawati sebagai representasi perempuan dalam kancah politik nasional. Gagal tidaknya Megawati dalam memimpin bangsa ini menjadi taruhan bagi eksistensi perempuan dalam dunia politik. Megawati dianggap sebagi representasi perempuan, setidaknya, karena ia berhasil lolos dari banyak fatwa ulama yang mengharamkan kepemimipinan perempuan, dan saat itu berdampak psikologis terhadap karir politik Megawati.

Tapi ketika Megawati ternyata tidak cukup mampu membawa bangsa ini keluar dari krisis yang berkepanjangan, aktivis-aktivis perempuan perlahan-lahan menarik dukungan. Megawati kemudian dikatakan tidak merepresentasikan perempuan. Megawati bukanlah ukuran bagi gagal tidaknya kepemimpinan perempuan di Indonesia.

Di atas semua perdebatan itu, munculnya nama Tutut akan sedikit mengurangi dominasi pembicaraan tentang kepemimpinan perempuan yang selama ini bermuara kepada Megawati, terlepas dari pro kontranya.

Tentu saja para aktivis perempuan tidak akan serta merta menempatkan Tutut sebagai representasi politik perempuan. Orde Baru dan Soeharto akan menjadi latar belakang dan cacat cela mendasar Tutut di mata para aktivis, meskipun di kalangan pemilih bawah Tutut mungkin adalah Diva.

Di masa pemerintahan Soeharto, Tutut di kenal luas di masyarakat. Hampir tiap hari masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Tutut di layar kaca sedang melakukan kegiatan yang bersifat sosial, berpidato, dan menebar berjuta pesona. Setidaknya ada tiga poin yang menguntungkan posisi Tutut: pertama, Tutut pernah populer di masa Soeharto. Ia mengeluarkan berbagai terobosan yang membuat namanya dikenal dan dikenang oleh rakyat bawah. Kedua, ia adalah anak mantan Presiden Soeharto. Krisis yang berkepanjangan membuat banyak orang mulai jenuh dan membayangkan sebuah ingatan kolektif tentang pemerintahan Soeharto yang aman dan sejahtera. Setidaknya beberapa penelitian membuktikan, bahwa rakyat bawah cenderung rindu pemerintahan Soeharto. Kalau Tutut mampu memainkan peran sebagai anak Soeharto, sebagaimana Megawati memerankan sebagai anak Soekarno, maka itu adalah peluang besar. Ketiga, tidak sebagaimana Mega, Tutut memiliki kemampuan personal yang lumayan. Setidaknya Tutut memiliki kemampuan tampil berpidato di depan umum tanpa menggunakan teks. Tutut juga tidak menolak wartawan yang ingin mewawancarainya.

Kemampuan-kemampuan seperti ini tidak dimiliki oleh Megawati. Megawati tidak mampu berbicara di depan umum tanpa dipandu oleh sebuah teks sistematis. Megawati juga seringkali menghindari debat publik. Beberapa kali Megawati terpaksa berkomentar lepas terhadap beberapa masalah, komentar tersebut selalu mengundang kontroversi, bahkan malah Megawati, melalaui komentarnya, terlihat begitu lugu terhadap persoalan kebangsaan yang sangat kompleks.

Kendati demikian, masih terlalu panjang untuk kemudian mengambil kesimpulan bahwa Megawati akan dikalahkan oleh Diva yang satu ini, Siti Hardiyanti Rukmana. Pencalonan Tutut boleh jadi menjadi angin segar bagi Megawati. Munculnya Tutut sebagai lambang bangkitnya Orde Baru akan memecah suara Orde Baru yang selama ini mulai menyolidkan kekuatan di Partai Golkar. Bagaimanapun, Orde Baru bukan hanya Soeharto dan Cendana, tapi di sana juga ada Golkar.

Pada posisi elit mungkin Soehartolah yang memegang kekuasaan, tapi pada tingkat yang lebih struktural, Golkarlah yang memegang peran kunci. Selama ini Golkar dan Soeharto adalah dua pilar yang tidak dapat dipisahkan untuk mendukung Orde Baru. Simbol Soeharto dan Golkar melekat sama kuatnya di kalangan masyarakat pemuja Orde Baru. Ketika dihadapkan pada pilihan, masyarakat pemuja Orde Baru akan kebingungan menentukan pilihan. Suara mereka akan menyebar kepada dua kekuatan itu, Soeharto (Tutut dan PKPB) dan Golkar.

Akibatnya sudah dapat diduga, sementara kekuatan Orde Baru terpecah, Megawati kembali akan melangkah mulus ke kursi presiden. Pada banyak penelitian selama ini, ancaman terbesar bagi Megawati adalah Golkar. Suara Golkar semakin meninggi menyusul beberapa kebijakan pemerintahan Megawati yang tidak mengena di hati rakyat. Para pendukung Megawati banyak yang lari, dan mereka lari kepada kekuatan lama yang lebih mensejahterakan. Tapi melihat fenomena musuh besar yang terpecah, Megawati kembali punya peluang.Apakah dengan begitu masa depan politik perempuan tetap suram? Barangkali itu kesimpulan yang cukup rasional, sebab Tutut juga bukan wakil ideal bagi perjuangan perempuan.

Terlalu banyak cacat yang melingkupi dua diva ini, sehingga perempuan Indonesia cukup risih kalau menganggapnya merepresentasikan aspirasi perjuangan mereka. Belum lagi, mereka terlihat lebih sebagai simbol dan wayang dari aktor yang ada di belakang mereka, ketimbang sebagai pemain yang sesungguhnya.

Advertisements

One thought on “Pertarungan Dua Diva dan Masa Suram Politik Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s