Surealisme, Seks, Kapitalisme: Karya Sastra Kaum Muda

Fantastis! Demikianlah kira-kira yang bisa mewakili, semacam ekspresi, gambaran tentang betapa dahsyatnya perkembangan sastra dan kesenian Indonesia mutakhir. Khusus di bidang sastra, perkembangannya sungguh beragam, berbagai capaian fantastis terus tersuguhkan ke hadapan publik. Dan yang paling mengagumkan adalah bahwa capaian fantastis tersebut ternyata tidak berasal dari kaum “tua,” melainkan bersumber dari kaum muda dan para pendatang baru.

Ada nuansa pencarian yang sangat intens di kalangan sastra muda Indonesia. Fenomena yang lebih spesifik berasal dari bangkitnya apa yang disebut sebagai sastrawangi, sebut saja sebagai perayaan sastra perempuan.Sebutlah misalnya Ayu Utami dengan Saman-nya yang pertama kali mendobrak dominasi karya sastra kaum tua dan laki-laki. Saman disebut sebagai karya sastra yang menyuguhkan pelbagai temuan baru dalam sastra Indonesia mutakhir: ada yang menyebut bahwa penulis-penulis muda bahkan kaum tua susah menandinginya (Umar Kayam), ada yang mengatakan kata-katanya bagaikan bercahaya seperti kristal (Ignas Kleden), novel ini juga disebut terkaya sepanjang sejarah sastra Indonesia (Faruk H.T.), Sapardi Djoko Damono menyimpulkan tehnik komposisi novel ini belum pernah dicoba di Indonesia bahkan di negeri-negeri lain, dan sebagainya. Setelah Ayu Utami, berturut-turut sastrawangi dan kaum muda menghiasi hampir semua perdebatan sastra mutakhir.

Ode untuk Leovold Sacher Masoch karya Dinar Rahayu juga kemudian muncul sebagai karya mutakhir yang banyak diperdebatkan. Selain Saman, karya ini juga disebut-sebut mengawali bangkitnya kecenderungan seni prosa aliran surealisme. Berikutnya adalah sebuah karya monumental yang berusaha merangkum segala capaian pelbagai segi sastra prosa dunia, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Cantik Itu Luka pertama kali mengejutkan karena ketebalannya yang luar biasa (mengalahkan Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer). Karya ini juga merangkum eksplorasi cerita yang rumit dengan puncak-puncak konflik yang sangat banyak, mengingatkan pada karya sastra Nobel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez yang juga menitiktekankan pada konflik yang sangat banyak, sehingga pembaca seakan diajak menyelam ke dalam labirin fenomena kehidupan manusia yang tanpa batas.

Eka Kurniawan tidak hanya menitiktekankankan pada cerita, tapi juga berhasil mengeksplorasi kata dan pengungkapan. Tak ayal, Eka juga didaulat untuk duduk bersama dengan para pendatang baru yang menandai pergeseran dan perubahan corak sastra Indonesia Mutakhir. Dan puncak sementara dari perayaan pendatang baru dan sastrawangi tersebut tampak berada di pundak perempuan bernama Nukila Amal. Sejak karya pertamanya, Cala Ibi, diterbitkan, pada awalnya diterbitkan oleh Pena Klasik kemudian sekarang oleh Gramedia, Nukila Amal tak pernah absent dalam perdebatan. Cala Ibi bahkan disebut sebagai puncak karya sastra Indonesia. Ia menjadi puncak karya sastra Indonesia, terutama dalam aliran surealisme.Kemunculan aliran surealisme yang diagungkan di kalangan pendatang baru tersebut bukan tanpa masalah, pelbagai tanggapan dan komentar negatif juga mengiringi perkembangan ini. Belum lagi kebangkitan surealisme sastra Indonesia tersebut berjalan seiringan dengan apa yang dinamakan sebagai prosa puitis. Betapa tidak, kecenderungan baru ini benar-benar telah mengaburkan batas antara puisi dan prosa.

Membaca Cala Ibi, misalnya, seperti membaca sebuah puisi panjang. Di dalamnya banyak lompatan, pemilihan diksinya sangat hati-hati, kejutan terjadi di mana-mana, pembaca bahkan dibuat ekstasi berkali-kali oleh keindahan bahasanya yang luar biasa. Karya ini bahkan banyak mengalahkan karya puisi murni itu sendiri. Dengan demikian, pembaca sastra tidak perlu lagi membaca puisi untuk meraih keindahan bahasa, novel dan karya prosa lainnya telah menyediakan kebutuhan keindahan bahasa seperti itu.Sebetulnya tradisi ini tidak benar-benar baru di Indonesia, sebab jauh sebelum mereka muncul, Iwan Simatupang telah juga menyentakkan dunia sastra Indonesia dengan dua karya monumentalnya, Merahnya Merah dan Ziarah. Kalau mau diurut secara kronologis dan tingkat pencapaian, maka Iwan Simatupang mengawalinya, kemudian berturut-turut Ayu Utami, Dinar Rahayu, Eka Kurniawan, dan berakhir pada Nukila Amal. Perdebatan mutakhir ini tidak berhenti pada perdebatan prosa puitis, sastrawangi, dan surrealisme, tapi juga merambah jauh ke dalam relung kultur masyarakat ber”budaya” Indonesia. Tudingan perayaan kebebasan yang kebablasan kemudian mengikuti prestasi gemilang ini.

Tak bisa dipungkiri, bahwa di samping para pegiat sastra tersebut mengeksplorasi segala hal baru dalam sebuah karya sastra, mereka juga menggunakan media-media baru. Eksplorasi seks kemudian menjadi trend yang juga banyak diminati. Seks pada akhirnya menjadi daya penarik tersendiri yang tidak hanya dieksplor oleh para sastrawan muda pretisius tersebut, tapi juga oleh para sastrawan muda lain pada umumnya. Dan anehnya, eksplorasi seks dalam sastra itu justru berasal dari para sastrawangi muda, seperti Ayu Utami, Dinar Rahayu, dan Djenar Maesa Ayu. Tudingan eksplorasi seks bagi sastrawan kaum muda prestisius ternyata tidak berhenti sampai di situ. Dari eksplorasi seks berlanjut kepada tudingan penetrasi kapitalisme ke dalam dunia sastra. Seks muncul sebagai tema, semata-mata karena tema itu laku di pasaran.Tudingan ini sebetulnya bukan tanpa alasan.

Pembaca sastra begitu mudah mendapati beberapa karya sastra yang menggunakan judul-judul fulgar: Jangan Main-Main dengan Kelaminmu dan Menyusu Ayah (Djenar Maesa Ayu), Payudara (Chavchay Saefullah), dan seterusnya. Pertanyaan tentang kenapa pengarang memilih judul-judul di atas bisa dijawab dengan mudah, karena judul-judul itu lagi trend, yang artinya lagi marak di pasaran. Kalaupun memang sastrawan-sastrawan kita sedang melakukan pemberontakan terhadap kungkungan budaya dan agama, maka pilihan judul tentu tidak mesti fulgar sefulgar isinya: contoh novel Dinar Rahayu dan Ayu Utami.Persoalannya kemudian bukanlah apakah kefulgaran itu salah atau benar, yang nyata adalah para pengarang karya sastra kita memang tidak mungkin melepaskan dimensi pasar dalam pembuatan karya sastra mereka. Selalu ada unsur kapitalisme dalam karya sastra, karena karya sastra harus dipasarkan. Itulah sebabnya, di setiap masa, selalu ada kecenderungan karya sastra ke arah model dan tema tertentu. Menuduh sebuah karya sastra sukses karena penetrasi kapitalisme adalah benar, sebab nyatanya semua karya sastra tidak kuasa melepaskan diri darinya.Kendati demikian, tentu publik pembaca karya sastra tidak seragam, bahkan semakin hari semakin beragam. Mungkin pada masa lalu pembaca karya sastra hanyalah mereka yang berpendidikan tinggi dan dari kalangan terbatas. Tapi karena alasan pasar, sangat tidak efektif jika sebuah karya sastra hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Memperluas wilayah pembaca sastra adalah tindakan yang sangat terpuji.

Memasukkan unsur seks mungkin menjadi salah satu pilihan untuk memasyarakatkan karya sastra ke tengah masyarakat yang memang senang dengan pikiran-pikiran mesum (maaf). Kalangan remaja akhirnya bisa mendapat tempat dalam membaca sebuah karya sastra. Tapi bukan berarti segmen lama harus ditinggalkan dan beralih ke wilayah yang lain sama-sekali. Suatu ketika masyarakat pembaca sastra sangat tergila-gila dengan karya realis yang menekankan kepada isi dan tema atau plot, maka maraklah karya yang berisi cerita memukau, indah, dan mengharukan. Tapi di ketika yang lain, masyarakat pembaca sastra mulai bosan dengan isi cerita, maka muncullah karya-karya yang menekankan kepada bentuk dan pengungkapan. Saat ini, publik pembaca sastra terbagi dalam begitu banyak varian kecenderungan, karya-kasya sastra yang baik kemudian adalah karya yang bisa menarik minat sebanyak mungkin orang dari berbagai sudut penilaian. Dan karya-karya mutahir dari kaum muda itu menyajikan berbagai pilihan. Saman-nya Ayu Utami mampu memesona pembaca dari sudut ceritanya yang menawan, publik sastra pengagum bentuk juga terpuaskan dengan sajian bahasa, bentuk, dan pengungkapan indah seperti kristal yang belum pernah dicoba, juga pembaca menikmati kefulgaran dunia seksualitas yang bisa bikin ngaceng (baik bagi laki-laki maupun perempuan), bahkan penganut mazhab pembelaan sastra kepada kaum tertindas juga bisa menjadikan karya Ayu Utami tersebut sebagai instrumen perjuangan. Demikian halnya karya Nukila Amal, Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Chavchay Saefullah, dan seterusnya, dengan segala keterbatasannya.

Advertisements

2 thoughts on “Surealisme, Seks, Kapitalisme: Karya Sastra Kaum Muda

  1. LOGIC

    mas,
    dalam cantik itu luka ada sedikit peniruan kalau bukan pencontekan dari buku harian seorang wanita(belanda ?) saat berada di kamp jepang…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s