TERGANTUNG KESERIUSAN SBY

Indo Pos, 14 Oktober 2004

Rangkaian Pemilu 2004 (Pemilu legislatif, Pilpres I, & Pilpres II) menyisakan kebahagiaan tersendiri bagi semua kalangan. Rakyat Indonesia berbahagia karena Pemilu 2004 berjalan damai sesuai keinginan mereka, dimana Pemilu menjadi pesta rakyat. Hal ini dibuktikan dengan situasi nasional ketika Pemilu dilaksanakan, jalan-jalan lengan, tradisi mudik tiba-tiba muncul, dan TPS –TPS semarak. Kaum intelektual dan pengamat berbahagia karena hasil Pemilu tidak melenceng dari prediksi mereka, sehingga integritas intelektualisme mampu dipertanggungjawabkan. Pemerintah (termasuk Megawati Soekarnoputri dan KPU) berbahagia karena merasa sukses menciptakan Pemilu yang bebas dan adil di transisi demokrasi ke-2 Republik Indonesia. SBY dan para pendukungnya, yang telah menjadi kekuatan mayoritas rakyat Indonesia, tentu saja berbahagia karena kemenangan ada di pihak mereka. Sebelum Pemilu Presiden putaran II, muncul rumor yang mengatakan bahwa Pilpres II adalah pertarungan antara sipil dan militer. Kubu Megawati diklaim sebagai sipil dan SBY mewakili kalangan militer. Tentu saja, sebagai rumor, pendapat seperti di atas memiliki banyak kelemahan. Tapi fakta tidak mungkin dipungkiri, bahwa SBY, yang oleh KPU telah ditetapkan sebagai pemenang Pemilu Presiden putaran II, adalah mantan militer. Pendefinisian “mantan militer” tentu bukan hal yang universal berlaku untuk semua mantan militer dalam karakter yang sama. Sebab setiap orang pasti memiliki keunikannya sendiri yang berbeda dari orang lain, betapapun latar belakang akan selalu memberi warna. Di tangan SBY, predikat mantan militer mungkin tidak bisa dipandang sama begitu saja dengan mantan militer yang lain. SBY memiliki keunikannya sendiri; Soeharto memiliki karakternya sendiri; Wiranti memiliku pola dan pandangan hidup sendiri, demikian pula dengan mantan-mantan militer yang lain. Kalau semuanya dipandang sama, lalu memberikan cap tertentu kepada mantan militer, maka akan terjadi reduksi dan pembasmian besar-besaran kepada potensi dan nuansa yang beragam dalam setiap individu. Individu akan musnah dengan sendirinya, lalu digantikan oleh kolektivitas yang dalam bahasa Benedict Anderson itu “dibayangkan,” dia tidak pernah benar-benar ada, sejauh ia tidak dikonsepsi oleh pikiran atau semacam intuisi.Pada titik ini, penilaian terhadap mantan militer harus ditunda sampai terkuaknya karakter, trade record, maupun visi dan misi mantan militer secara individual itu sendiri. Kita tidak pernah khawatir akan dipimpin oleh seorang mantan militer, yang ditakutkan adalah munculnya seorang pemimpin yang diktator, otoriter, yang akan memasung kebebasan, mengebiri demokrasi, dan yang akan menciptakan kekuasaan yang korupdan tidak bertanggungjawab.Karakter-karakter seperti ini bisa muncul dalam diri semua ummat manusia, tidak peduli latar belakang apapun ia berasal. Ia bisa muncul dari militer, tapi ia juga bisa muncul dari kalangan sipil. Bukankah seorang diktator kelas dunia bernama Hittler adalah sipil? Atau Soekarno yang pada banyak hal melakukan tindakan diktator juga seorang sipil. Jika seperti itu definisinya, maka tidak relevan lagi menilai karakter kepemimpinan seseorang dengan menggunakan argumentasi latar belakang apakah ia militer atau sipil. Yang lebih arif dilakukan adalah melakukan evaluasi dan sedikit prediksi tentang masa depan Indonesia di bawah pemerintahan yang baru. SBY, sebagaimana yang lain, patut dicurigai, apakah ia benar-benar bisa membawa negeri ini keluar dari krisis yang berkepanjangan? Jawabannya terletak pada kesungguhan dia dalam menanggulangi berbagai persoalan tersebut, yang di masa lalu tidak terselesaiakan. Masalah paling urgen yang harus segera diselesaiakan adalah masalah kedisiplinan pemerintahan,halini bukan berarti kepatuhan mutlak kepada pemimpin, melainkan rasionalisasi dari sebuah pemerintahan. Jangan lagi ada penyelewengan pemerintahan. Bangsa ini sebetulnya telah memiliki perangkat hukum yang memadai bagi terciptanya sebuah pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, dan beriorientasi kemakmuran rakyat. hanya saja, pemerintah tidak pernah serius menanggulangi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh jajarannya sendiri. Korupsi adalah biang keladi keterpurukan ini. adanya prilaku korupsi yang dilakuakn oleh hampir semua tingkatan pemerintahan menunjukkan tidak adanya I’tikad baik untuk keluar dari persoalan. Korupsi sangat erat terkait dengan permasalahan kepercayaan publik kepada pemerintah. Kalau publik sudah tidak percaya kepada pemerintah, maka mau dibawa kemana negara ini. negara tidak akan pernah merasakan kedamaian jika publik dudah tidakpercaya kepada pemerintah. Pergolakan politik akan kembali terjadi, ekonomi akan kembali ke titik kritis. Sebab bukan hanya kepercayaan publik dalam negeri yang dikhawatirkan, korupsi juga terkait dengan kepercayaan pasar internasional. Indonesia tidakakan pernah bisa berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa, tapi ia selalu harus berinteraksi dengan semua entitas dunia. Seluruh rakyat Indonesia menunggu ketegasan SBY untuk memberantas korupsi dan menegakkan hukum seadil-adilnya. Wibawa sebuah pemerintahan tidak terletak pada penampilan gagah seorang pemimpin, melainkan pada keputusan-keputusan jitu dalam menanggulangi berbagai persoalan. SBY tidak harus muluk-mulukdalam bercita-cita, dia hanya perlu membenahi peradilan dan menyeret koruptor ke pengadilan. Kalau hal itu bisa ia lakukan dalam seratur hari pertama pemerintahannya, maka kepercayaan dan gairah publik akan muncul sebagai sebuah kekuatan pembangunan yang maha dahsyat. SBY tidak akan pernah sendiri melakukannya, kalau ia mau, seluruh rakyat akan berdiri di belakangnya. Semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s