Vonis Lia Eden

Vonis dua tahun penjara bagi Lia Aminuddin, pemimpin Tahta Suci Kerajaan Eden, oleh majelis hakim Pengadilan Jakarta Pusat sangat melukai demokrasi dan kebebasan berekspresi dan beragama. Majelis hakim yang dipimpin oleh Lief Sofijullah menyatakan Lia Eden terbukti bersalah karena telah menodai agama, melakukan perbuatan tak menyenangkan, dan menyebarkan kebencian. Sekali lagi keyakinan yang bersifat sangat pribadi dan dijamin kebebasannya oleh Undang-undang Dasar dan prinsip hak asasi manusia (HAM) diadili dan dijatuhi vonis oleh arogansi dari mereka yang mengaku mewakili mayoritas dan memegang kebenaran mutlak. Lagi-lagi negara tidak berdaya melindungi kaum minoritas, bahkan hanya menjadi budak idiologis kelompok tertentu.

Arogansi itu dipertontonkan dengan jelas ketika majelis hakim yang didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa ajaran Lia Eden sesat, bahkan menghina agama tertentu. Sesat dan penghinaan agama muncul hanya karena Lia dan pengikutnya memiliki keyakinan yang berbeda dengan apa yang diyakini oleh MUI dan majelis hakim, juga penduduk di sekitar Bungur Jakarta Pusat, tempat Lia dan pengikutnya menghayati keyakinannya. Jika perbedaan dikatakan sesat dan menghina, maka sebetulnya berapa banyak orang di negeri ini yang sesat dan menghina. Keanekaragama budaya, agama, serta aliran kepercayaan Indonesia meniscayakan perbedaan. Lalu apakah dengan demikian mereka saling menghina?

Jika perbedaan dianggap sebagai sesat dan menghina, maka semua ummat Kristiani telah menghina ummat Islam dengan mengatakan bahwa Yesus (Isa al-Masih) sebagai Anak Tuhan atau perwujudan Tuhan di Bumi, sementara kaum Muslim meyakininya hanya sebagai Nabi atau Rasul belaka. Demikian pula ummat Islam telah menghina kaum Kristiani karena menilai Isa al-Masih hanya sebagai Nabi, bukan Tuhan sebagaimana keyakinan Kristen. Bukankah mengatakan bahwa apa yang oleh kelompok lain dianggap Tuhan adalah manusia atau benda biasa adalah penghinaan? Lalu apakah semua orang Islam juga akan dimasukkan ke penjara?

Lia Aminuddin dan pengikutnya meyakini bahwa Lia adalah Jibril dan Abdul Rahman adalah reinkarnasi Nabi Muhammad. Paham reinkarnasi bukan hal baru dalam tradisi agama-agama. Agama Budha sejak lama meyakini adanya reinkarnasi, bahkan reinkarnasi manusia bisa menjadi binatang. Pemimpin spritual Tibet, Dalai Lama, diyakini sebagai reinkarnasi Sang Budha Sidharta Gautama. Jika satu kelompok orang meyakini seseorang sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad, apa yang salah dengan keyakinan itu? Reinkarnasi mungkin bisa muncul dari penilain tentang kesamaan karekater atau nasib yang dialami oleh dua orang dalam masa yang berbeda. Pemain sepakbola Argentina, Lionel Messi, diyakini oleh banyak orang sebagai reinkarnasi Diego Armando Maradona karena kesamaan karakter dalam menggocek bola.

Menurut pengakuan sahabat-sahabatnya, jauh sebelum Abdul Rahman bergabung dengan Lia Eden, ia adalah sosok yang sangat jujur dan berani mengambil resiko apapun untuk memperjuangkan kebenaran yang ia yakini. Abdul Rahman adalah mahasiswa Aqidah Filsafat IAIN (sekarang UIN) Jakarta yang sangat radikal dan menjadi pelopor gerakan mahasiswa penentang Soeharto di pertengahan tahun 1990-an. Ia berani menentang Soeharto pada saat Soeharto masih begitu berkuasa. Abdul Rahman juga adalah seorang pencari ilmu sejati. Ia membaca buku-buku filsafat dengan sangat serius, tapi juga tidak pernah lalai dalam ibadah ritual, salat dan puasa. Wajar jika karakter yang begitu tulus, berani, dan religius itu dihubungkan dengan sifat Nabi Besar Muhammad SAW. Sekali lagi, apa yang salah dengan keyakinan seperti ini?

Jika Lia Aminuddin sesat dan menghina karena ia berbeda dengan mayoritas ummat Islam, maka sebetulnya mayoritas ummat Islam juga melakukan penghinaan terhadap Lia dan pengikutnya karena berbeda. Seharusnya mayoritas ummat Islam itu juga divonis 2 tahun oleh majelis hakim.

Ketidakadilan seperti ini seharusnya tidak muncul dalam satu sistem yang disebut sebagai sistem demokrasi. Demokrasi bukanlah mayoritarianisme. Di samping menganut sistem pemungutan suara, di mana pemilik suara terbanyak memperoleh keistimewaan, tapi demokrasi juga mengandaikan kebebasan bagi siapapun. Demokrasi tidak membenarkan mayoritas berbuat semaunya. Demokrasi juga menghargai dan memberi tempat yang sama kepada minoritas untuk mengemukakan aspirasinya. Demokrasi muncul sebagai satu sistem yang memberikan pengakuan bahwa masyarakat itu tidak satu. Perbeda-bedaanlah yang mendasari munculnya demokrasi. MUI dan banyak kalangan yang tidak menghendaki adanya perbeda-bedaan itu sesungguhnya tidak mengakui eksistensi demokrasi.

Kerapkali ditemukan orang yang begitu khawatir dengan perbedaan. Jika perbeda-bedaan tidak diterima, maka sesungguhnya yang ditolak adalah esensi kemanusiaan. Manusia sejak awal tidak pernah tunggal. Dan dengan itulah manusia mampu belajar antara satu dan yang lainnya. Peradaban ummat manusia justru tercipta dari perbeda-bedaan itu. Memberikan kesempatan kepada perbeda-bedaan untuk tumbuh bersama adalah sisi yang paling manusiawi dalam kehidupan ini. Sementara berusaha mencegah perbeda-bedaan muncul dan berkembang adalah ketidak-adilan yang sangat nyata.

Terlalu banyak kasus yang bisa dijadikan pelajaran bagaimana usaha pembelengguan kebebasan dan pemberangusan perbeda-bedaan hanya akan menyisakan malapetaka dan stagnasi manusia. Jutaan orang terbantai ketika Hitler hendak memberangus ras selain Aria di Jerman dan Polandia. Rakyat Afganistan jatuh ke titik kebangkrutan paling dahsyat ketika penguasa Taliban hendak memberangus kebebasan berekspresi. Demikian pula ribuan orang terbantai ketika penguasa Orde Baru Indonesia melakukan pemaksaan penafsiran terhadap dasar dan konstitusi negara. Keterpaksaan dan pemaksaan dalam hal apapun selalu menyisakan masalah.

Advertisements

One thought on “Vonis Lia Eden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s