Detil Itu Indah

Judul: Rome Rather than You; Sutradara: Tariq Tequia; Pemain: Rachid Amrani, Samira Kaddour, Ahmed Benaïssa, Kader Affak, Rabie Azzabi, Lali Maloufi, Fethi Ghares; Durasi: 111 menit

Sebaiknya tidak mengkritik film ini sebelum menontonnya sampai akhir. Rome Rather than You adalah film yang mungkin sangat membosankan. Tapi hal yang membosankan itulah yang menjadi daya pikat utamanya. Tariq Tequia berusaha membuat penonton bosan sebosan-bosannya sampai kepada titik dimana kebosanan itu menjadi sesuatu yang tampak menarik, mungkin juga indah.

Film ini dimulai dengan adegan yang sangat biasa. Seorang perempuan berupaya membuat secangkir kopi. Proses pembuatan kopi mulai dari mencari air, menyalakan kompor, sampai air mendidih dipertontonkan secara utuh. Tiba-tiba gambar beralih, dan tampak sang pembuat kopi sedang duduk santai menikmati kopi yang proses pembuatannya dipertontonkan secara detil. Duduk sendiri minum kopi sambil menghisap rokok. Lama betul.

Perempuan si peminum kopi itu tinggal di lantai tujuh sebuah rumah susun. Seusai minum kopi, ia berkemas dan berlari menuruni tangga yang melingkar dari lantai tujuh ke lantai dasar. Rupanya pengambilan gambar hanya dilakukan dengan satu kamera. Proses turun tangga sambil berlari itu direkam habis. Waduh, kameramen harus mengambil gambar juga dengan berlari menuruni tangga di belakang si peminum kopi. Nafasnya terdengar memburu. Aha, kameramen tidak sanggup lagi. Sang perempuan semakin jauh. Di bawah sana ia menoleh ke atas. Tersenyum, tapi lebih mirip menyeringai.

Film ini tidak hanya menyuguhkan adegan demi adegan yang terekam dalam gambar, melainkan juga membawa penonton membayangkan bagaimana proses pembuatan film yang begitu lugu, kadang-kadang begitu dungu. Lihatlah, misalnya, bagaimana Kamel berjalan sepanjang gang dan kamera mengikutinya dari samping dengan durasi yang sangat lama. Pengambilan gambar pun sangat natural, sebab tidak jarang pengambilan gambar terhalang tembok atau tiang. Akibatnya, kadang-kadang gambar yang muncul bukan Kamel, melainkan tembok di pinggir gang. Kamel terlalu cepat berjalan.

Kamel adalah seorang pemuda pengangguran di pinggiran Aljazair. Dalam film ia selamanya bersama dengan kekasihnya, Zina. Keduanya punya impian melancong ke negeri pizza, Italia. Tapi keduanya terkendala paspor. Proses pencarian paspor inilah yang menjadi setting cerita film ini.

Mereka dengar seorang kawan bisa memberikan mereka paspor. Maka dicarilah rumahnya. Adegan membosankan kembali muncul. Proses pencarian rumah itu ditayangkan secara utuh. Mulai dari berangkat, mencari jalan, tersesat ke jalan buntu, bertanya, tesesat lagi, sampai menemukan rumah. Alamak, orangnya tidak ada di rumah. Ampun dah, adegan ini tiga kali pula. Rumah itu seolah tak berpenghuni.

Akhirnya, di kali terakhir mereka mengunjungi rumah itu, mereka memutuskan masuk.Pintu tak terkunci rupanya. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati bahwa si tuan rumah ternyata sudah membusuk di lantai dua. Mati.

Sebuah paspor ditemukan di rumah itu. Paspor untuk Kamel ke Italia. Tapi, paspor yang ada itu adalah milik perempuan. “Tak apalah,” kata Kamel. “Wajahnya mirip saya kok.” Mereka segera kembali untuk bersiap ke Italia. Di tengah jalan, dua orang berlari ke arah mereka. Salah satunya menembak kepala Kamel lalu terus pergi. Kamel mati saudara-saudara!

Tamat

Advertisements

One thought on “Detil Itu Indah

  1. Tanta

    Wahahahaha, salah satu resensi terlucu yang pernah saya baca hehe.. Serius men, malem ini jam setengah tiga dan saya ngakak abis-abisan hehehe..

    Saya nonton film ini di Goethe Institute desember lalu pada Jiffest 2007. Dan saya sepakat boriiinggg abiiissss.. Adegan yang paling saya suka justru ketika mereka main bola di tepi pantai yang suram. Saya dan pacar hanya mampu bertahan tidak lebih dari satu jam untuk kemudian keluar dan menonton film lain.

    Tapi thanks a lot atas resensinya, saya jadi tahu kalo si Kamel akhirnya mati dan ga jadi pergi ke Itali. Poor Kamel 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s