Ahmadiyah Dilarang Menyembah Tuhan

editorial islamlib.com, 20/12/2007

Jemaat Ahmadiyah Manis Lor, Kuningan, Jawa Barat, adalah penduduk biasa dengan aktivitas biasa seperti kebanyakan penduduk lain. Ekonomi mereka bertumpu pada hasil pertanian. Tentu mereka juga setiap hari berinteraksi dengan macam-macam orang. Fakta bahwa jemaat Ahmadiyah telah ada di Kuningan sejak puluhan tahun silam adalah bukti bahwa keberadaan komunitas ini relatif diterima oleh penduduk sekitar. Komunitas ini bahkan tidak bisa dibilang minoritas untuk ukuran penduduk setempat, 70 % penduduk Desa Manis Lor adalah jemaatnya.

1 masjid, 7 musallah, dan 1 sekolah menengah mereka bangun dengan hasil jerih payah anggota jemaat sendiri. Tidak pernah terdengar kabar bahwa fasilitas yang mereka bangun tersebut diperoleh dari dana-dana illegal atau hasil minta-minta di jalan, seperti yang banyak dilakukan dalam proses pembangunan masjid-masjid lain. Komunitas ini juga tidak pernah tercatat melakukan cara-cara tidak sah dalam menyebarkan ajaran, misalnya dengan melakukan teror, intimidasi, atau penipuan. Aktivitas ibadah yang mereka lakukan juga tidak ada yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Pendeknya, komunitas ini melakukan kegiatan sebagaimana yang kebanyakan orang lakukan.

Petaka mulai terjadi ketika Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) menggelar seminar bertajuk hasutan “Membongkar Kesesatan Ahmadiyah.” Seminar yang diadakan di Masjid Istiqlal Jakarta pada 11 Agustus 2002 itu menandai dimulainya upaya pengusiran dan penganiayaan terhadap jemaat Ahmadiyah seluruh Indonesia. MUI kemudian mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran ini. Pemerintah Daerah Kuningan melanjutkan dengan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) pelarangan Ahmadiyah. SKB tersebut ditanda-tangani oleh Bupati, Ketua DPRD, Kepala Kejaksaan Negeri, Komandan KODIM, KAPOLRES, KAKANDEPAG, Ketua MUI, NU, Muhammadiyah, GUPPI, PUI, dan organisasi kepemudaan lainnya.

Mulai saat itu, jemaat Ahmadiyah Manis Lor tidak lagi bisa hidup tenang. Berkali-kali mereka diancam dengan segala bentuk teror. Masjid yang mereka bangun silih berganti disegel dan diancam dihancurkan oleh pelbagai kelompok yang mengaku Islam. Peristiwa ini kemudian berpuncak pada 18 Desember 2007. Di hari dengan sedikit mendung itu, seribuan orang berkumpul dengan satu tujuan, ingin mengenyahkan Ahmadiyah dari Kuningan, tanah tempat kelahiran mereka.

Gerombolan orang yang mengaku Islam itu mengamuk. Sedikitnya 3 orang jemaat Ahmadiyah terluka, 1 orang di antaranya mengalami luka tusukan. 2 masjid rusak berat. 8 rumah milik jemaat hancur, 4 di antaranya rusak berat. Orang-orang yang mengaku Islam memperlakukan jemaat Ahmadiyah layaknya tentara musuh yang benar-benar mengancam. Padahal, bahkan di dalam perang sekalipun, Islam mengajarkan etika tentang larangan menyerang rumah ibadah. Pasukan Islam bahkan tidak dibenarkan menyerang komunitas yang sama sekali tidak melakukan perlawanan.

Jelas, orang-orang yang mengaku Islam itu tidak mempraktikkan etika Islami. Kerugian materil mungkin bisa dipulihkan, tetapi yang paling disesalkan adalah dampak psikologis. Alih-alih membangun hidup yang lebih baik, jemaat Ahmadiyah masih harus berurusan dengan persoalan hak asasi keyakinan mereka. Anak-anak mereka akan terus mengenang peristiwa semacam ini sebagai penistaan diri dan keluarga.

Hari Idul Adha, yang seharusnya menjadi peristiwa religius yang menggembirakan, terpaksa mereka jalani dengan duka. Mereka dilarang merayakan Idul Adha di rumah ibadah yang mereka bangun sendiri. Lebih jauh, mereka dihalangi untuk menyembah Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s