Korupsi di Pusaran Tradisi: Gerakan Sosial Islam di Turki dan Arab Saudi

Para pengamat dan aktivis kerapkali frustrasi menghadapi realitas otoritarianisme yang seolah menggurita di negara-negara Islam. Otoritarianisme tidak hanya muncul dari kalangan Islam, melainkan juga dari kalangan sekularis. Sedemikian menyedihkan sehingga banyak sekali para pengamat yang mengambil kesimpulan akhir bahwa demokrasi adalah sesuatu yang memang tidak bisa tumbuh di negara-negara Muslim. Menurut Saiful Mujani, Inkompatibilitas Islam dan demokrasi setidaknya disebabkan oleh tiga hal: (1) Islam merupakan pandangan hidup yang menyeluruh, tidak ada beda antara agama dan politik (al-din wa al-daulah); (2) pandangan ini mainstream di kalangan Muslim, dan (3) masyarakat Muslim cenderung antipati terhadap ide-ide pembebasan (liberalisme) dari Barat, apapun yang berasal dari Barat cenderung dicurigai (Mujani, 2007).

Ketiadaan kontrol menyebabkan praktik korupsi kemudian menjadi menu keseharian di dalam pemerintahan negara-negara Islam, baik kalangan Islamis maupun sekularis. Kendati begitu, harapan tentang sebuah perubahan sosial tetap diperlukan. Perubahan sosial hanya mungkin terjadi dari sebuah gerakan sosial yang mendukung ide-ide perubahan.

Para pengamat seperti Samuel P. Huntington, Bernard Lewis, Ernes Gellner, dan Elie Kedourie tentu akan menyatakan diri menyerah melihat kenyataan bahwa gerakan sosial untuk menuntut perubahan begitu susah terjadi di kalangan Islam, karena tingkat kecurigaan mereka terhadap gagasan-gagasan perubahan dari “luar” begitu tinggi. Umat Islam begitu curiga terhadap gagasan demokrasi dan HAM yang dinilai adalah konsep Barat yang kafir. Gerakan-gerakan yang coba dikembangkan dengan menggunakan gagasan-gagasan ini selalu tertolak sejak awal kemunculannya, dengan alasan yang kerapkali sangat sederhana, yakni tentang asal muasal gagasan tersebut, bukan isi gagasannya.

Gerakan sosial yang terjadi di Turki dan Arab Saudi mungkin bisa memberikan inspirasi kepada negara-negara Muslim lain, termasuk Indonesia. Kedua negara ini mewakili dua titik ekstrem masyarakat Muslim dunia. Turki yang berpenduduk mayoritas Islam adalah wilayah yang pernah menjadi pusat otoritas politik dunia Islam di bawah kekhalifahan Utsmani (Ottoman Empire). Turki modern didirikan oleh Mustafa Kemal Attaturk dengan bentuk negara yang benar-benar berbeda dengan negara-negara Muslim lainnya, yakni dengan menetapkan diri sebagai negara sekuler. Meski menyebut diri sebagai negara sekuler, tetapi pemerintah Turki tak henti-henti melakukan intervensi ke dalam kehidupan agama dengan menciptakan regulasi atas agama dengan begitu ketat dalam bentuk pelarangan simbol-simbol agama di ruang publik.Arab Saudi berada pada titik ekstrem yang lain. Negara bentukan Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud ini, menurut data Freedom House, adalah wilayah dengan tingkat ketidakbebasan yang paling tinggi. Negara ini secara konstitusional mengadopsi ideologi Wahhabi yang memiliki corak keberagamaan yang sangat kaku dan tertutup. Ideologi Wahhabi inilah yang kerapkali disebut berada di belakang nalar para aktivis Islam fundamentalis, bahkan teroris, di seluruh dunia.

Di kedua wilayah ini, muncul gerakan sosial yang lambat laun semakin membesar. Yang menarik adalah bahwa gerakan sosial yang muncul dari dua negara ini tidak muncul dari ide-ide asing, mereka justru mengadopsi bahasa-bahasa lokal yang merupakan unsur terdalam dari ide-ide tradisi. Islam justru muncul menjadi kata kunci gerakan sosial di dua negara yang sering melakukan praktik otoriter tersebut: militerisme-sekuler Turki dan wahhabisme-Islamis Arab Saudi.

Sebelum lebih jauh, penting memperhatikan apa yang dikemukakan oleh Quintan Wiktorowicz mengenai tiga unsur yang sangat menentukan dalam sebuah gerakan sosial: political opportunity spaces (ruang kesempatan politik), resource mobilization (mobilisasi sumber daya), dan social framing (pembingkaian sosial). Unsur-unsur ini seperti tiga sisi mata uang (kalau ada mata uang yang memiliki tiga sisi, tentunya) yang tidak bisa dipisahkan.

Political opportunity spaces tercipta dari perubahan politik yang terjadi di suatu wilayah. Perubahan politik inilah yang menyebabkan sebuah gerakan sosial mungkin muncul. Hal ini, misalnya bisa digunakan untuk membaca fenomena gerakan sosial yang terjadi di Indonesia pasca reformasi. Dibukanya kran demokrasi membuat masyarakat bergerak dan muncul dalam beragam bentuk: gerakan mahasiswa yang begitu marak, konflik, dan terorisme.

Resource mobilization theory tak kalah pentingnya. Di sinilah gerakan sosial diaktualkan. Ketidakpuasan terhadap kondisi yang ada tidak berarti apa-apa tanpa adanya sekelompok orang yang mau melakukan kegiatan mobilisasi yang tentu saja bersandar pada sumber daya yang ada.Social framing akhirnya menjadi landasan moral sebuah gerakan sosial muncul. Biasanya, social framing berangkat dari tradisi budaya yang ada di masyarakat. Artinya, para aktivis gerakan sosial tidak bisa meninggalkan akar-akar tradisi, melainkan bahkan menggunakannya secara efektif. Inilah yang akan ditemukan pada kasus gerakan sosial Islam di Turki dan Arab Saudi yang menjadi fokus pembahasan pada tulisan ini.

Berislam tanpa Menjadi Islamis di Turki

Program liberalisasi ekonomi di Turki (1980-1993) menciptakan apa yang oleh Hakan Yavuz sebut sebagai the new opportunity spaces. Ruang-ruang kesempatan yang baru itu terjadi dalam bentuk munculnya media independen, institusi finansial, fasilitas-fasilitas pendidikan swasta yang kemudian melahirkan transformasi budaya dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Dalam konteks masyarakat Muslim Turki, hal ini berdampak pada gerakan sosial Islam yang lambat laun menjadi penentang serius bangunan sekularisme Kemalis.

Mereka menggunakan institusi-institusi ekonomi dan ruang publik untuk menegaskan identitas mereka. Tidak bisa disangkal bahwa Turki merupakan negara yang mengklaim sekular tetapi sebetulnya menancapkan tonggak otoritarianisme melalui kekuasaan militer yang hampir tanpa batas. Sejak didirikan, Turki telah menjadi negara sekuler militeristik, sebuah fenomena kontradiktif yang menguras banyak pemikiran. Bagaimana mungkin sebuah negara yang mengaku sekuler tetapi dalam praktiknya melarang sejumlah praktik ibadah dan simbol keagamaan?

Apa yang membuat negara sekuler Turki begitu represif terhadap agama?Kunci jawaban terhadap semua ini adalah pada kekuasaan militer. Militer Turki tidak hanya menguasai kehidupan politik Turki, tetapi juga telah menetapkan diri sebagai penafsir tunggal atas apa yang mereka sebut sebagai sekularisme. Sekularisme akhirnya menjadi senjata yang paling ampuh bagi para penguasa militer untuk melakukan kudeta terhadap siapa saja yang berani mengusik kekuasaan kaum militer. Sebagai kekuatan dominan bahkan tunggal, kalangan militer akhirnya menjadi penguasa yang cenderung memaksakan kehendak. Pelbagai kebijakan eksklusif dibuat untuk mendukung kepentingan sepihak kalangan militer. Sumber-sumber ekonomi utama semuanya berada di bawah kekuasaan militer. Itulah sebabnya, kalangan militer menutup diri dan menerapkan sistem ekonomi komando.

Akhirnya, kalangan militer tampil sebagai penentang utama ide-ide keterbukaan dan perdagangan bebas. Mereka berusaha memonopoli semua aspek kehidupan publik Turki: ekonomi, politik, dan budaya.Kekuasaan yang nyaris tampa kontrol itu kemudian tak kuasa membawa rezim sekularis-militer Turki ke dalam praktik korupsi yang mematikan. Gerakan-gerakan sosial yang direpresi kemudian memperoleh amunisi untuk terus bergerak membentuk kekuatan yang semakin besar dan muncul dalam dua pola utama: social-oriented Islamic movement dan state-oriented Islamic movement. Yang pertama merupakan kelompok yang memiliki akses ekonomi yang cukup baik sehingga mereka berhasil membangun gerakan dengan menggunakan fasilitas kemajuan tersebut.

Yang kedua adalah kelompok masyarakat yang lahir dari marjinalisasi sosial-ekonomi.Secara umum aktivisme atau gerakan sosial Islam masuk ke dalam kelompok the new social movement. Gerakan sosial baru ditandai oleh munculnya motivasi baru dalam bentuk identitas, kepercayaan, simbol, dan nilai-nilai kehidupan, bukan sekedar ekonomi dan kelas sosial. Dalam hal ini, Islamic social movement menjadi contoh bagaimana gerakan sosial mendobrak batas pembedaan tindakan kolektif dan individual. Term wilayah privat dan publik perlu didefinisikan ulang. Islamic social movement menggerakkan identitas Muslim sebagai yang privat untuk masuk ke dalam ruang publik. Mereka tidak hanya berjuang demi pengakuan identitas melainkan juga “mempublik” melalui identitas pribadi.

Di sini, identitas dan lifestyle dipertunjukkan, dikontestasikan, bahkan diimplementasikan.Dalam satu artikel, The End of Islamism? Turkey’s Moslimhood Model, Jenny B. White menelusuri bagaimana masyarakat Muslim Turki menumpahkan rasa sesal terhadap pemerintahan yang korup dengan peningkatan religiusitas. Religiusitas yang semakin meningkat menjadi gerakan oposisi yang tak mampu terbendung.

Legitimasi kekuasaan sekuler-militer semakin tergerogoti oleh munculnya gerakan kultural masyarakat Muslim yang semakin hari-semakin kuat, bukan hanya karena penguasaan mereka terhadap tatanan kultural Muslim Turki, bahkan lambat laun juga menguasai perkembangan ekonomi. Kelompok-kelompok kultural seperti Nurcu dan Tarekat Naqsabandi menjadi kekuatan alternatif yang sangat besar di Turki saat ini. Perkembangan ekonomi di Turki menyebabnya semua aspek kehidupan mengarah kepada interaksi yang sepenuhnya mengikuti alur kompetisi pasar.

Dinamika inilah yang kemudian menyuburkan arus diseminasi ide di dalam media: koran, majalah, televisi, radio dan internet. Perkembangan yang seolah tanpa batas ini memungkinkan para aktor Muslim membentuk jaringan diskusi publik seluas-luasnya. Hal itu menjadi lahan subur bagi persemaian kelompok-kelompok Islam untuk membangun proses politik dan kultural bagi perubahan sosial yang akhirnya membantu mereka membentuk kesadaran sosio-politik baru.Sekularisme yang dicanangkan oleh Kemal Attaturk sebetulnya tidak sepenuhnya mengubah masyarakat Turki yang pada dasarnya religius. Ketika sekularisme diterapkan, religiositas tetap hidup dalam masyarakat Turki dan muncul dalam beragam bentuk. Bahkan selama proyek sekularisme, pemerintah Turki selalu berhadapan dengan religiositas tersebut. Islam pada akhirnya menjadi oposisi abadi bagi pemerintahan Turki yang sekuler.Karena dilatarbelakangi oleh fenomena kehidupan ekonomi, maka orientasi pasar membuat gerakan Islam muncul dalam beragam bentuk.

Ada empat pola yang digambarkan oleh M. Hakan Yavus dengan sangat baik berikut ini: Pertama, state-oriented Islamic movement memiliki kecenderungan otoritarian dan elitis dalam pengambilan keputusan. Mereka percaya bahwa penyakit masyarakat hanya bisa disembuhkan dengan mengontrol negara dan memperkuat keseragaman dan hegemoni ideologi agama. Dialog tidak dimungkinkan. Ia bisa muncul dalam bentuk revolusioner, yakni secara frontal menyerang negara, tetapi juga bisa muncul dalam bentuk reformis dengan mengikuti arus demokrasi atau berkoalisi untuk merebut kekuasaan secara legal, untuk selanjutnya mendesakkan kepentingan-kepentingan ideologisnya.Kedua, society-oriented Islamic movement. Gerakan ini muncul dalam dua pola. (1) everyday life-based. Mereka mempengaruhi masyarakat dan individu dan menggunakan jaringan komunikasi modern dan tradisional untuk mengkonstruksi idealisasi identitas dan pandangan baru. (2) inward-oriented contemplative movements. Gerakan ini muncul dari dalam diri individu untuk memutuskan hubungan atau keluar dari apa yang mereka anggap sebagai sistem sosio-politik illegitimate.

Gerakan ini dipraktikkan oleh kaum Sufi Nakhsabandi yang begitu kuat di Turki.Sampai tahun 1990-an, pemerintah Turki masih mengontrol pendidikan dan telekomunikasi. Negara juga menerapkan sistem ekonomi overnasionalistik dengan pungutan pajak yang begitu tinggi bagi kaum borjuis luar. Kebijakan ini diambil untuk membendung dominasi pengusaha Armenia, Yunani, dan Yahudi yang sangat besar di Turki. Sejak pengambil-alihan kekuasaan oleh militer, 1998, penguasa baru, Turgut Ozal perlahan-lahan mengubah sistem ekonomi dengan membuka pasar dan menetapkan sistem pasar bebas. Kebijakan ini dianggap kontroversial oleh sebagian besar pengusaha.

Kebijakan pasar bebas hanya didukung oleh pebisnis-pebisnis kecil dan menengah di pelbagai provinsi dan kota-kota kecil. Dukungan dari pebisnis-pebisnis ini muncul dari sektor pengecer, dealers, builders, restoran pribadi, industrialis kecil dan menengah, pengolah makanan, mereka yang selama ini tidak pernah tergantung kepada pemerintah. Pengusaha-pengusaha Muslim adalah yang paling dominan dalam kelompok borjuis kecil ini. Pasar bebas memberikan keuntungan berlipat dalam usaha ekspor tekstil dan makanan mereka. Kebijakan privatisasi yang dijalankan oleh Ozal langsung menjadi lahan subur bagi kehidupan sosial independen yang tidak tergantung pada negara. Kebijakan ekonomi neo-liberal, dalam kasus Turki, terbukti menciptakan dan memperluas ruang masyarakat untuk dapat membangun kontraktual barunya, baik dalam ekonomi maupun politik.

Mereka yang “kalah” dalam proses ini menjadi bibit gerakan sosial yang beriorientasi negara dan mendesakkan klaim keadilan sosial melalui identitas politik. Sementara para “pemenang” membentuk gerakan sosial yang memperkuat civil society melalui pelbagai instrumen sosial.Kebangkitan ekonomi Islam Turki yang dipicu oleh pasar bebas membuat konstelasi sosial, politik, dan budaya berubah drastis. Kelompok pengusaha Islam, yang merasa diuntungkan oleh sistem ini, membentuk MUSIAD (Association of Independent Industrialists and Businessmen) sebagai perlawanan terhadap TUSIAD (The Association of Turkish Industrialists and Businessmen). MUSIAD terutama muncul dari kelompok Nurcu dan Nakhsabandi. Tarekat Nakhsanadi sendiri telah lama memiliki kelompok-kelompok bisnis. MUSIAD dengan tegas menggunakan jaringan Islam untuk kepentingan ekonominya. MUSIAD mendukung sepenuhnya integrasi ekonomi Turki ke dalam ekonomi global. Mereka meyakini sistem itulah yang mewakili semangat keislaman mereka. Muhammad bahkan dipercaya menjadi contoh ideal bagi diterapkannya sistem ekonomi kapitalis.

Hakan Yavuz menyebut fenomena ini sebagai “Islamic Ethics in the Spirit of Capitalism.” Kelompok ini bahkan mempublikasikan sejumlah buku, salah satunya berjudul Homo Islamicus, sebagai padanan bagi Homo Economicus.Keterbukaan ekonomi juga membuka ruang perubahan yang lain: seni, sastra, fashion, dan makanan. Interaksi antar kultur begitu kuat sehingga tercipta selera musik atau kehidupan lain tercipta secara tak terduga di pelbagai tempat. Fenomena ini tepat digambarkan oleh Gellner: “modernitas menciptakan high culture-nya sendiri.”Terciptanya ruang kesempatan baru dalam kebangkitan ekonomi Islam ini juga membawa perubahan dalam pendefinisian keislaman itu sendiri. Hubungan antara kebiasaan konsumsi dan kelompok agama ditransformasikan ke dalam pola konsumsi borjuis.

Integrasi agama ke dalam budaya konsumen menciptakan beberapa implikasi: identitas agama didefinisikan ke dalam produksi barang-barang massa yang menguasai imej tentang Islam; ruang media, pendidikan, pasar, dan fashion diislamisasi melalui pola konsumen; kepatuhan dan ketundukan religious ditransformasikan ke dalam komoditas modern melalui restylization. Hakan Yavuz memberi contoh menarik bagaimana Caprice Hotel dan fashion membuat nyaman konsumennya: konsumen menikmati produk modern tanpa kehilangan identitas keislamannya. Islam dikapitalisasi.Dengan fenomena seperti itu, maka kaum oposisi yang berangkat dari kelompok Islam tidak muncul di ruang publik dengan identitas Islamis.

Model yang muncul di sana, menurut Jenny B. White, adalah model keislaman sebagai agama atau komunitas religius, bukan politik (Islamis). Kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Recep Tayyep Erdogan yang kemudian disusul oleh terpilihnya tokoh Islami Abdullah Gul sebagai presiden menggantikan Ahmed Necdet Sezer bukanlah tanda berakhirnya sekularisme di Turki. Yang terjadi adalah semacam tanda munculnya kekuatan Islam kultural yang tidak memiliki agenda politik Islamis: mengubah konstitusi sekular Turki menjadi Islam. Islam hanya muncul sebagai bentuk framing kultural bagi sebuah gerakan sosial menentang dominasi kekuasaan militer beserta segala dampak pemerintah korupnya.

Masyarakat Muslim Turki tidak memiliki identitas lain kecuali Islam untuk melawan pemerintahan korup tersebut. Kalangan sekularis-militer Turki tentu memandang hal ini sebagai ancaman nyata. Tetapi mereka, setidaknya sampai saat ini, tidak mampu berbuat banyak. Dukungan masyarakat Muslim Turki semakin besar kepada mereka, baik dalam bentuk dukungan politik, maupun kebangkitan ekonomi. Kelompok Islam inilah yang sangat percaya diri menyatakan bersedia ikut dalam ekonomi terbuka atau pasar bebas. Hanya pasar bebaslah yang akan bisa mengeluarkan mereka dari keterkungkungan ekonomi yang selama ini diciptakan oleh rezim sekuler-militer. Dengan pasar bebas, produk-produk ekonomi dan budaya Islam dapat dipasarkan secara terbuka. Pada kasus Turki, ide-ide mengenai keterbukaan tampak kompatibel dengan keislaman.Dalam penelitian White, fenomena masyarakat Muslim Turki menunjukkan bahwa pendapat kaum sekularis-militer Turki salah menilai keberadaan mereka. Selama ini, rezim sekuler-militer selalu mencurigai keterlibatan kaum Muslim di dunia politik. Mereka beranggapan bahwa jika bentuk politik kelompok sekuler adalah sebuah negara sekuler, maka bentuk politik kelompok Islam adalah negara Islam.

White membantah dengan mengemukakan bahwa masyarakat yang secara teologis mengadopsi Islam dalam kehidupan religioistas belum tentu akan mendukung penerapan negara Islam, atau menolak ide negara sekuler. Turki membuktikan, bahwa ide-ide negara modern seperti sekularisme dan liberalisme justru mendapat dukungan kuat dari masyarakat Muslim yang memiliki tingkat religiositas yang semakin tinggi.

Politik Simbolik Arab Saudi

Arab Saudi menunjukkan pola yang hampir sama dengan yang terjadi di Turki. Ketika rezim Saud yang berkolaborasi dengan Islam Wahhabi menjadi penguasa yang sangat otoriter, satu-satunya bentuk perlawanan yang paling besar adalah muncul dari kekuatan Islam itu sendiri. Pendapat umum bahwa gerakan Islam hanyalah respon sesaat yang selanjutnya akan mati adalah pendapat yang memiliki banyak cacat. Pada kasus Arab Saudi, debat dan gaung simbolik ideologis dalam bentuk pilihan-pilihan politik justru berada pada top post gerakan sosialnya.

Di sini, gerakan sosial mengetuk ke dalam ceruk ideologis tradisional. Arab Saudi saat ini memiliki dua tantangan paling besar. Pemerintahan ini harus melakukan reformulasi internal berupa reformasi politik, ekonomi, dan hubungan sosial. Ada kebangkitan krisis kepercayaan dari masyarakat Saudi sendiri mengenai praktik otoritarian, penyimpangan pemerataan, dan pembungkaman yang dilakukan oleh pemerintah. Dari aspek eksternal, Arab Saudi juga dihadapkan kepada tuntutan Amerika Serikat dan Inggris, yang merupakan sekutu terdekatnya, agar Arab Saudi lebih bersikap anti terhadap terorisme. Sementara kelompok-kelompok kepentingan ekonomi global menuntutnya untuk lebih membuka diri. Dan kelompok-kelompok transnasional terus mendesak agar Arab Saudi membantu menegakkan hak asasi manusia. Rezim al-Saud memang mengusai hampir seluruh kekuatan di Arab Saudi. Tetapi pemerintahan korup dan tak terpuji yang muncul dari dominasi kekuatan itu lambat laun membangkitkan rasa tidak puas di kalangan masyarakat.

Dengan bersandar kepada kekuatan legitimasi agama, al-Saud seolah selalu bisa mengatasi segala bentuk oposisi. Tetapi hal itu tidak berlaku kepada kekuatan oposisi yang juga muncul dari relung kultur Islam Wahhabi itu sendiri.Al-Saud mendasarkan klaimnya pada legitimasi kesuksesan penaklukan militer pada tahun 1920-an dan 1930-an dan pada aliansi mereka dengan otoritas agama. Hubungan ini memiliki akar yang jauh ke aliansi 1744 antara Muhammad Ibn Abd al-Wahhab dan Muhammad Ibn Saud. Para penerus al-Wahhab masih mendominasi kantor-kantor institusi keagamaan negara. Akan tetapi, menurut Gwenn Okruhlik, Islam memiliki dua sisi mata pedang bagi al-Saud. Dia memberi legitimasi kepada mereka sebagai penjaga iman, yang oleh karenanya memaksa mereka untuk bersikap sesuai dengan hukum agama. Ketika anggota-anggota keluarga menyimpang dari jalan lurus, mereka berarti mengundang kritikan, karena hak rezim untuk memerintah bergantung secara luas kepada aliansi dengan keuarga al-Wahhab.

Ada dua peristiwa sejarah mengenai oposisi yang begitu penting yang memberi perbandingan mencolok dengan gerakan Islamis mutakhir. Peristiwa itu adalah pemberontakan Ikhwan 1920 dan pengembil-alihan Mesjid Suci Mekah 1979 oleh Juhayman al-Utaibi. Dalam dua peristiwa tersebut, legitimasi Islami keluarga al-Saud secara serius ditantang oleh gerakan-gerakan yang berkembang dari jantung pendukung tradisional al-Saud, Najd. Ini berarti bahwa kedua gerakan tersebut tersusun dari kelompok Muwahhidun yang terutama merupakan mazhab pemikiran puritan dan keras.

Pada kedua waktu itu, oposisi dianggap mungkin karena rezim telah menyimpang dari jalan yang telah digariskan oleh al-Qur’an dan Sunnah (tradisi Nabi Muhammad). Korupsi adalah tema utamanya, juga ketergantungan kepada Barat.Pemberontakan 1920 dilakukan oleh kelompok Ikhwan yang merupakan kelompok inti dalam kekuatan Saud-Wahhabi. Kelompok ini dibentuk oleh Raja Abdul Aziz untuk mendukung ekspansi kekuasaan Saud di seluruh jazirah Arab. Mereka terdiri dari tentara-tentara suku. Pemberontakan 1920 membuktikan bahwa rezim Saud begitu keropos dan tidak mampu menyelesaikan persoalan ini, sampai akhirnya bantuan tentara udara Inggris datang dan menghujani kelompok pemperontak dengan bom-bom udara yang mematikan.

Pemberontakan kedua, 1979, dilakukan juga oleh kelompok pendukung utama rezim Saudi. Juhaiman al-Utaibi adalah cucu dari pemimpin Ikhwan yang terbunuh pada pemberontakan tahun 1920. Pemberontakan 1979 begitu mengejutkan karena para pemberontak berhasil merebut Masjid al-Haram dan mendudukinya selama dua minggu. Lagi-lagi pemerintah Arab Saudi tak mampu mengatasi pemberontakan ini, sampai akhirnya pasukan udara Perancis datang memberi bantuan. Yaroslav Trofimov, The Siege of Mecca, bahkan menyebut pemberontakan 1979 sebagai cikal bakal lahirnya kelompok al-Qaedah, yang menjadi biang terorisme internasional saat ini.Respon rezim yang berlebihan terhadap situasi yang terus memburuk menciptakan dua dekade kelumpuhan politik dan stagnasi sosial. Pertama-tama yang dilakukan rezim adalah mengeksekusi para pemberontak yang telah mengambil-alih Mesjid Suci dan kemudian menerapkan kontrol yang ketat terhadap kehidupan politik dan sosial di negara itu.

Daripada berkonfrontasi dengan kalangan agama sayap kanan, Raja Fahd membungkus dirinya dengan jubah Islam, mengubah gelarnya dari “Yang Mulia, Raja Fahd” menjadi “Penjaga Dua Mesjid Suci, Raja Fahd.” Dia mencari dukungan legitimasi keluarga penguasa melalui kekuatan Islam yang ada. Kondisi ini memaksa pengganti Raja Fahd, Pangeran Abdullah, bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Penguasa Arab Saudi mulai melihat bahwa pemerintahan yang semena-mena justru adalah awal dari keruntuhannya.Respon lain dari rezim Saud adalah adalah program pendidikan Islam yang begitu marak sejak tahun 1980-an.

Universitas-universitas Islam dikembangkan. Dana yang tidak sedikit digelontorkan untuk membiayai universitas-universitas seperti Universitas Imam Muhammad Ibn Saud di Riyadh, Universitas Islam di Madinah, Universitas Umm Qura di Mekah, dan lain-lain. Pada tahun 1986, lebih dari 16,000 dan 100,000 mahasiswa kerajaan itu mengikuti program studi-studi Islam. Pada awal 1990-an, seperempat mahasiswa dari seluruh universitas terlibat di dalam institusi-institusi agama. Mereka memiliki ide-ide dan sumber daya: intelektual, komputer, mesin fax, perpustakaan, dan semua hal yang dibutuhkan untuk mobilisasi.

Generasi mahasiswa ini bekerja sebagai birokrat, polisi, mutawwa’, hakim-hakim syari’ah, dan khatib di sekitar 20,000 mesjid di seantero negeri. Sebuah kebangkitan Islam melanda negeri tersebut. Beberapa kelompok Islam non-politik dan tanpa kekerasan mulai mengakar sepanjang masa itu, Islam yang mereka anut dan kembangkan adalah menyangkut kesadaran spiritual. Mereka bukanlah organisasi formal, tapi mereka menanamkan rasa identitas kelompok. Kebangkitan itu juga diperluas oleh pada mujahidin Afgan-Arab yang baru saja kembali.

Sekitar 12,000 pemuda dari Arab Saudi berangkat ke Afganistan untuk berperang melawan Soviet; sekitar 5,000 di antaranya terlatih dan terlibat di dalam peperangan. Pada waktu itu, belum ada yang pernah berpikir bahwa mujahidin akan memerangi rezim mereka; malah mereka memperoleh dukungan dari rezim. Hal yang sama juga dilakukan kepada ribuan anak muda pelarian dari Mesir dan negara-negara basis Ikhwanul Muslimin lainnya. Mereka diundang secara resmi ke Arab Saudi oleh pihak kerajaan. Mereka kemudian dengan cepat mengisi ruang-ruang diskusi di pelbagai universitas yang berkembang pesat. Era oposisi segera dimulai.

Pada 1991, 52 sarjana agama, hakim, dan professor universitas menggunakan bahasa yang langsung dan kuat untuk menuntut restorasi nilai-nilai Islam. Kemudian, Juli 1992, 107 sarjana agama menandatangani “memorandum nasehat” (muzakharat al nasihah) dan kemudian memberikannya kepada Raja Fahd.Bibit-bibit gerakan sosial ini memang kerapkali terhalang oleh pengalaman sikap represif yang sering dilakukan oleh penguasa.

Tetapi, dengan dukungan semangat religius tradisional, gerakan itu terus tumbuh dan berkembang. Sebetulnya, beberapa gerakan oposisi lain yang mencoba melakukan kritik juga ada. Ketika perang Teluk meledak pada tahun 1991, petisi pertama untuk menolak perang yang disampaikan kepada Raja Fahd dilakukan oleh kelompok liberal. Kelompok ini secara tegas mengutuk korupsi dan otoritarianisme. Tetapi gerakan kelompok ini lambat laun tenggelam dan nyaris tak terdengar lagi. Kelompok feminis juga mencoba muncul dengan mengusung ide-ide keseteraan dalam kehidupan publik. Lagi-lagi kelompok-kelompok semacam ini tidak memiliki gaung yang kuat. Demikian pula yang dilakukan oleh kelompok nasionalis.

Yang benar-benar menampar dan tak kuasa dielakkan oleh penguasa Arab Saudi adalah bila gerakan tersebut berasal dari kalangan Islamis dan menggunakan bahasa Islamis. Ini tentu bukan tanpa masalah. Tetapi Gwenn Okruhlik menunjukkan bahwa betapapun gerakan Islam tampak dominan pada level politik, tetapi pada level doktrin dan praktik pribadi, gerakan ini masih sangat plural. Meski Wahhabisme tampil sebagai penguasa, tetapi kelompok Syi’ah dan Sunni tidak pernah benar-benar hilang. Komunitas-komunitas ini tidak hanya hidup dipinggiran-pinggiran kota, melainkan juga di pusat-pusat kota.

Mereka hidup dalam keragaman dan mulai muak dengan upaya penyeragaman yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah korup Arab Saudi. Kelompok-kelompok keagamaan inilah yang paling diharapkan mampu membawa angin segar perubahan sebagaimana yang saat ini terjadi di Turki.

Beberapa Rujukan

Algar, Hamid. Wahhabism: A Critical Essay. Terj. Rudi Harisya-Alam. 2008. Jakarta: Paramadina.

Ali, H.A. Mukti. 1994. Islam dan Sekularisme di Turki Modern. Jakarta: Djambatan.

Hefner, Robert W (ed.) 2005. Remaking Muslim Politics: Pluralism, Contestation, Democratization. Princeton and Oxford: Princetion University Press.

Mahmood Mamdani. 2004. Good Muslim, Bad Muslim: America, The Cold War, and The Roots of Terror. New York: Pantheon Books.

Mujani, Saiful. 2007. Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru. Jakarta: Gramedia.

Özdalga, Elizabeth. 1998. The Veiling Issu, Official Secularism and Popular Islam in Modern Turkey. Great Britain: Curzon.

Scwartz, Stephen Sulaiman. 2003. The Two Faces of Islam: Saudi Fundamentalism and Its Role in Terrorism. Terj. Hodri Arief. 2007. Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global. Jakarta: Blantika.

Trofimov, Yaroslav. 2007. The Siege of Mecca: The Forgotten Uprising in Islam’s Holiest Shrine and The Birth of al-Qaedah. New York: Doubleday.

Wiktorowicz, Quintan (ed.). 2004. Islamic Activism: A Social Movement Theory Approach. Bloomington & Indianapolis: Indiana University Press.

Advertisements

One thought on “Korupsi di Pusaran Tradisi: Gerakan Sosial Islam di Turki dan Arab Saudi

  1. fibri pakdene luthfan

    Siege of mekkah ane punya yang terjemahan bahasa indonesia mungkin ada yang berminat mau pinjam. kira2 ada nggak yang punya edisi inggrisnya. N ada yang tahu alamat down load gratis buku2ne hakan yavuz? Ane perlu banget buat referensi skripsi. Thanx before

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s