Bapak Memanggilku Anak

Dari pedalaman Kalimantan, ia terbang menuju Jakarta. Aku terbaring tanpa daya di rumah sakit kota ini. Sebuah sepeda motor menabrakku, membuat darahku tercecer di jalanan. Entah dari mana informasi kecelakaan itu diketahui bapak. Tidak ada sambungan telepon ke kampung tempat tinggalnya, juga listrik. Tiga hari setelah kecelakaan, dia sudah berada di sini, di sisiku. Ia telah menunggui dan mengurusi semua kebutuhanku selama di rumah sakit. Aku tak sadarkan diri beberapa hari.

Beberapa hari kemudian, aku mulai siuman. Kubuka mataku pelan-pelan. Ada warna putih menutupi pandanganku, memberi kesan seakan dunia hanya putih. Perlahan warna putih memudar. Garis-garis putih dan sebuah bayangan ruangan silih berganti menampakkan diri di pelupuk mataku. Untuk kemudian garis-garis itu tersingkir oleh sebuah pemandangan ruangan yang sempurna. Wajah bapak menjadi salah satu unsur ruangan yang sempurna itu. Dia nampak sedih dan kebingungan. Betapa tidak, di rimba ibu kota yang sangat asing baginya ini, dia harus datang dan mengurusi keselamatan nyawa seorang anak manusia. Tidak ada keluarga tempat mengadu. Tidak ada tetangga yang bisa menolong.

Bapak datang sendirian. Kondisi ekonomi tidak memungkinkan ia mambawa ibu dan adik-adikku. Biaya terlalu mahal untuk itu. Belum lagi biaya pengobatan. Seminggu pertama, bapak masih sanggup memenuhi segala kebutuhan perawatanku, juga kebutuhan yang sesungguhnya tidak aku butuhkan, setidaknya tidak terlalu penting. Bapak menyediakan semuanya. Tapi tiga minggu selanjutnya, ia nampak mulai mengirit biaya. Beberapa kebutuhan yang tidak terlalu penting, mulai ia abaikan.

Akhirnya, bapak harus pulang juga, meninggalkan aku yang terbaring tanpa daya. Persediaan biaya sudah tidak memungkinkan. Ia menitipkanku kepada para perawat yang saban hari mengamati perkembangan kondisi kesehatanku. Sebelum berangkat, ia menggenggam tanganku. Ada harapan besar dari sorot matanya yang sedikit redup dan berkaca-kaca. Perlahan ia mengecup keningku. Air mata bening jatuh dari sudut matanya, merambat melewati kulit tua pipinya, dan berhenti di pangkal kumis yang telah memutih satu-satu.

Sekali lagi ia menatap ketakberdayaanku. Kemudian ia memperbaiki posisi selimut yang membungkus tubuhku. Sebelum benar-benar pergi, ia kembali menitipkan diriku ke para perawat untuk menjagaku. Langkah kaki bapak semakin menjauh dan hilang tenggelam dalam langkah-langkah kaki banyak orang di rumah sakit.

Mengikuti petunjuk seadanya, bapak berhasil mencapai pelabuhan. Bapak terpaksa pulang dengan kapal laut. Persediaan uang sudah tidak mencukupi untuk perjalanan pesawat terbang. Perjalanan kapal laut tentu sangat menjemukan. Apalagi dijalani oleh seorang yang diburu waktu, diburu waktu dan maut anak yang sangat disayanginya.

Tiga hari perjalanan, baru bapak sampai ke tempat tinggalnya di sebuah desa pedalaman. Bapak kemudian bergerilya mencari dukungan dan bantuan dana dari sanak keluarganya. Anaknya ini harus tetap hidup, karena dialah harapan satu-satunya yang bisa merubah garis keturunan keluarga. Sekian tahun aku dipersiapkan untuk merubah garis keturunan keluarga. Bapakku membesarkanku dengan segala kasih sayang, mungkin agar aku tumbuh cerdas. Dia kemudian menyekolahkan aku sampai setinggi langit bagi orang kampung. Bapak tidak mau kalau aku kembali masuk dalam lingkaran setan kehidupan kampung yang tidak maju-maju. Bapak belajar betul dari orang-orang kampung yang kehidupan keluarganya monoton. Bapak ingin aku berubah. Ia ingin aku jadi orang pintar atau jadi orang berpangkat, lalu kelak aku akan pulang kampung membawa sebuah angin perubahan. Kalau sekarang aku sakit, maka bagi bapak, ini harus segera diselesaikan. Aku harus berhasil mewujudkan cita-cita bapak, begitu pikirnya.

Hanya berselang seminggu, bapak telah kembali lagi ke Jakarta. Praktis hanya tiga hari ia di kampung: tiga hari perjalanan pulang dengan kapal laut, dan sehari kembali dengan pesawat terbang. Kali ini pun ibu dan adik-adikku tetap tidak ikut. Biaya tidak memungkinkan mereka ikut. Nyawaku lebih penting dari kehadiran mereka.

Bapak mendapatiku terbujur pingsan dengan selang-selang infus yang melilit di sekujur tubuhku. Wajahnya nampak lelah. Lelah sekali. Ada titik-titik peluh yang belum diseka di wajahnya. Sebentar lagi titik-titik peluh itu jatuh menimpa baju. Basah. Ia kemudian duduk di kursi. Tidur.

Dalam tidurnya, ia bermimpi berada di sebuah tempat yang sangat asing baginya: sebuah gurun yang sejauh mata memandang hanya terlihat pasir dan fatamorgana. Ia kebingungan berjalan kian kemari mencari sekedar tempat persinggahan. Tapi yang didapatinya hanya pasir dan hanya pasir. Mendadak dari kejauhan dia melihatku melambai-lambai memanggilnya. Seketika semangatnya tumbuh dan dia berlari ke arahku. Lalu aku menyambutnya dengan pelukan seperti sebuah pertemuan yang memang dinanti-nanti ratusan tahun. Kuberikan ia air minum. Kemudian kutuntun ke sebuah oase, yang ternyata di situ terdapat sebuah istana nan elok. Bapak mengamati istana itu dengan decak kagum tak henti-henti. Sebuah istana dengan pilar-pilar raksasa berlapis kuningan. Pintu gerbangnya menjulang tinggi, di atasnya ada kubah dua buah. Dindingnya berdiri kokoh. Alun-alun dengan taman yang luas. Sinar matahari bersepuh merah dan kuning terpantul dari kubah-kubah istana dan kolam yang mengelilinginya, seperti sebuah negeri dalam dongeng yang purba.

Dan betapa gembiranya bapak ketika kukatakan, bahwa itulah hasil dari jerih payahku selama ini. Ia tak kuasa menahan gemuruh suka citanya. Ia menatapku dalam-dalam tak percaya, lalu berteriak segirang-girangnya.

“Anakku berhasil! Anakku berhasil!”

Teriakan itu terlalu kuat dan mengundang dua orang perawat mendekat dan segera membuyarkan semua impian bapak. Bapak langsung siaga dan berdiri. Ia kemudian memandangiku. Aku masih terbujur pingsan tanpa daya.

Beberapa saat setelah bapak pulang mengambil tambahan dana, kondisi kesehatanku memang samakin memburuk. Aku semakin tak berdaya. Hidup dalam ketidaksadaran yang panjang. Aku layaknya seonggok sampah yang tidak punya arti. Dan bapaklah yang membuatku sedikit berarti. Semangat bapak yang ingin melihatku tetap hidup dan sehat seperti sedia kala itulah yang menjadi satu nilai tersendiri bagi diriku yang terbaring tak berdaya. Aku tidak tahu pasti, apakah itu memang naluri kebapakan seorang bapak kepada anaknya, ataukah ia berlaku unik khusus untuk bapakku dan beberapa bapak orang lain seperti bapakku?

Kegigihan bapak sangat luar biasa. Dan nampaknya dia yakin betul bahwa aku akan segera pulih. Seringkali dia tidak tidur beberapa hari hanya untuk menyiapkan segala hal yang menyangkut kebutuhan perawatanku. Kadang-kadang juga ia tidak tidur hanya untuk mengamat-amatiku saja. Kalaupun terpaksa tidur karena ketiduran, maka ketiduran itu akan sangat singkat. Ia akan segera terjaga oleh satu suara dariku. Mandi, pakaian, dan makannya tidak teratur. Dia memang sering tidak merasa lapar dalam waktu yang lama. Ia menjagaku sepanjang waktu. Sampai akhirnya ia benar-benar harus makan, itupun sangat sedikit, untuk bisa bertahan menjagaku. Sebetulnya, pada beberapa waktu dia juga sakit. Tapi dia berusaha menahan sakitnya dan tidak menampakkannya, barangkali karena semangat dan harapan yang menggebu-gebu tadi.
Tiga bulan berlalu tak terasa. Bapak masih tetap menungguiku, menjaga, dan merawat kesehatanku. Tiga kali sudah dia pulang kampung mengambil tambahan dana. Kepulangannya yang terakhir telah menghabiskan harta bapak di kampung. Dia menjual semua ladang, dia hanya menyisakan sepetak kecil agar keluarga di kampung juga masih bisa bertahan hidup. Aku tidak tahu pasti, dengan apa keluarga di kampung memenuhi semua kebutuhan mereka. Sepetak tanah itu tidak akan cukup. Mungkin ibu mencari tambahan pekerjaan. Mungkin adik-adikku juga bekerja keras mencari tambahan penghasilan. Tentu saja mereka bekerja. Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Lalu bagaimana dengan kesehatan ibu? Ahh!

Meminta bantuan kepada tetangga dan sanak famili sudah tidak memadai. Mereka ternyata memiliki keterbatasan dalam soal bantu membantu kepada keluarga yang sedang tertimpa musibah. Dan sebetulnya banyak juga yang memandang bapak terlalu berlebihan merawatku; bapak telah melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya, bahkan kemampuan seluruh keluarga. Perawatan rumah sakit di kota bukan main mahalnya. Ada yang mengusulkan agar aku dipulangkan ke kampung saja untuk dirawat secara tradisionl. Di kampung banyak orang pintar yang bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Banyak orang yang bahkan lebih memilih pengobatan tradisional daripada rumah sakit. Kata mereka, rumah sakit kadang-kadang hanya mengandalkan peralatan dan analisa medis, tanpa mengetahui analis yang sifatnya supranatural. Sementara pengobatan tradisional menembus batas-batas ragawi dan mampu melihat penyakit yang lebih substansial di kedalaman kehidupan ruh seseorang. Barangkali malah ada yang menginginkan aku ditinggalkan saja, karena memandang tidak ada gunanya lagi merawatku. Toh aku sudah tidak punya harapan untuk hidup. Mengharapkan lebih banyak dari orang sakit sepertiku adalah kesia-siaan. Bukan harapan yang bakal terpenuhi, malah penyesalan, bahkan melibatkan kerugian banyak orang. Dan tentu ada juga yang tidak memberikan nasehat apa-apa, acuh tak acuh terhadapku. Mereka menganggap aku bukan apa-apa. Membicarakan aku juga merupakan kesia-siaan dan membuang-buang waktu. Aku tidak ada. Mungkin pernah ada, tapi telah hilang.

Tapi ternyata bapak bukan tipe orang yang gampang menyerah. Harapannya masih besar, seperti tak pernah pudar oleh perjalanan waktu. Bahkan bapak memiliki satu tekad baja, bahwa dia memandang kehidupannya tak akan berguna tanpa kehadiranku. Hanya saja, kondisi bapaklah yang semakin tidak karuan. Wajahnya telah dipenuhi bulu yang teramat telat dipotong. Pakaiannya kumal dan kotor. Tubuhnya mengurus. Penampilannya nampak lebih tua 15 tahun dari usianya.

Masa penantian itu memang melelahkan. Tapi bapak seperti tidak pernah lelah menunggui kesehatanku. Pengabdian bapak kepada anaknya ditunjukkan sepenuh hati. Kini ia tidak mau meninggalkanku sejenak pun. Ia merasa, sebentar lagi aku akan pulih; sebentar lagi aku akan kembali bisa bicara dan bertukar pikiran dengannya. Bagi bapak, meninggalkanku sejenak adalah sebuah kerugian yang luar biasa. Bapak tidak ingin meninggalkan moment penting dalam sejarah hidupnya, moment dimana aku, anaknya ini, perlahan-lahan membuka mata, menggerakkan jemari dan melambai, lalu berucap kata kepada bapak. Bapak ingin menjadi orang yang pertama yang terlihat olehku, ketika aku mulai membuka mata dan melihat seisi dunia lagi. Ingin aku kembali bercakap-cakap dengannya membicarakan berbagai masalah, mulai dari masalah keluarga, pelajaran, kisah cinta, sampai kepada masalah politik mutakhir yang ada di berita televisi dan radio. Bapak ingin melihat aku menikah dan punya anak. Bapak ingin melihat aku mulai berhasil mewujudkan cita-citanya tentang sebuah perubahan garis keturunan keluarga. Bapak ingin aku mengangkat harkat dan martabat seluruh keluarga. Bapak ingin aku bahagia sebagai orang besar. Bapak ingin melihat aku jadi raja. Bapak ingin…

Kondisi bapak semakin parah. Ia benar-benar sudah tidak memperhatikan keadaan dirinya. Ia menunggui kesehatanku dengan tidak memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Pakaiannya semakin kusam dan kumal. Tubuhnya kini tinggal tulang berbalut kulit. Kulit yang itu pun telah dipenuhi berbagai jenis penyakit. Pertahanan tubuhnya anjlok ke titik kritis. Berbagai hantu penyebar penyakit datang menyerangnya dengan leluasa. Mereka berpesta pora di tubuh bapak.

Bapak tetap pada harapannya. Dia menunggui satu moment dimana aku bisa pulih. Akhirnya bapak tidak bisa bergerak lagi. Dia juga tak bisa makan dan mencerna lagi. Tubuhnya menolak segala makanan. Seluruh sistem kehidupan dalam tubuhnya telah kaku.

Jasad yang tinggal tulang itu tetap menunggu satu moment dimana aku bisa pulih. Bapak benar-benar tidak pulang kampung lagi.

Ciputat, 10 Oktober 2003

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s