Air Mata Terakhir

“Tidak Ibu. Aku merasa wajib mengejarnya. Aku harus mengambil hatinya untuk ayah”.

Ibu itu menangis. Terlalu banyak sudah kata-kata yang ia lontarkan untuk anak semata wayangnya. Namun semuanya mental kembali. Kadangkala kata-kata yang berhamburan dari mulut keriput itu hanya bisa menggelepar sesaat, klepak, klepak, lalu beku, dan sejenak kemudian akan mengasap menjadi udara, lenyap. Yang ada padanya kini hanya air mata. Dan ia mencoba menahan putranya dengan air mata—air mata yang telah banyak pula ia keluarkan. Air mata itu mengalir sedikit-sedikit, tertahan-tahan, tapi air mata itu telah mencipta dua aliran sungai kecil yang bergerak di antara kerut keriput wajah tuanya.

Sebetulnya wajah itu tidak terlalu tua, bahkan tidak bisa disebut tua, kalau tua diidentikkan dengan ketidak menarikan. Kata keriput di atas pun sebenarnya untuk menyebut garis-garis kecantikan yang masih nampak jelas diwajahnya. Garis kecantikan yang akan tetap memancarkan kecantikan, tidak akan pernah hilang, bahkan ketika garis dan kecantikan itu sendiri hilang, ia masih tetap akan cantik.

***

Air mata wanita itu telah mengalir jauh melewati leher dan dadanya. Ujung-ujungnya kini tidak lagi berupa air, melainkan berubah menjadi benang halus. Meskipun halus, benang itu sangat kuat. Ujung air mata benang itu merambat di antara pakaiannya. Perlahan kemudian lepas dari pakaian dan melambai. Melambai bukan karena tertiup angin, sebab angin tidak bertiup di ruang gubuk itu. Air mata benang itu melambai, berusaha menggapai Suro. Mula-mula air mata benang itu berhasil menyentuh lengan Suro, kemudian merambat melingkari tubuh, akhirnya melilit tubuh Suro. Suro meronta, dan air mata benang itu semakin melimpah. Melilit.

“Ibu! Tolong Ibu! Jangan biarkan anakmu yang laki-laki ini menjadi bukan laki-laki. Maksudku, mereka telah mengambil kehormatan keluarga kita dan menyimpannya di hati mereka. Kalau aku tidak berhasil merebut hatinya, kita tidak akan pernah bisa lagi hidup dalam kehormatan.

Dan bukankah ayah, semasa hidupnya, sangat mempertahankan kehormatan itu? Beliau tidak pernah mau menyerahkannya kepada siapapun. Orang-orang kota yang pernah memintanya itu pun tidak digubrisnya. Meskipun itu akan ditukar dengan sebuah sepeda motor. Sepeda motor, Ibu! Sepeda motor yang tak seorang pun memilikinya di daerah kita. Sepeda motor yang bisa mempercepat Ibu ke pasar; mengantar ayah ke ladang; dan yang bisa mengajak aku dan Sumi, gadisku, jalan-jalan. Ayah menolak dengan satu prinsip:

“Kehormatan keluargaku adalah segala-galanya. Kehormatan itu tidak mahal, tapi juga tidak murah. Ia tak ternilai. Jadi, silahkan tuan-tuan membawa pulang Tuan-tuan punya sepeda motor. Sebab kehormatan keuargaku bukan nilai yang bisa dinilai dengan sesuatu, apapun. Bukannya aku melecehkan dan tidak menghargai sepeda motor yang akan Tuan-tuan berikan. Sepeda motor Tuan-tuan sangat bernilai. Di daerah sini tak satupun yang memilikinya. Tapi sekali lagi, kehormatan keluarga saya bukanlah sebuah nilai. Ia berdiri sendiri, independen. Maaf Tuan-tuan.”

Ibu tentu masih ingat apa yang dilakukan orang-orang kota itu setelah mendengar paparan ayah. Mereka marah, muak, dan merasa digurui. Ayah memang kadang begitu: terlalu panjang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Dan orang-orang kota yang terpelajar itu, tentu saja tidak ingin digurui oleh orang, yang dalam anggapan mereka, tidak pantas menguruinya. Ayah kemudian digertak dan diancam, kalau tidak menyerahkan kehormatan keluarga kita, maka mereka akan memaksa dan kemungkinan besar mereka akan membunuh ayah. Ia kan? Mereka betul-betul merampas kehormatan kehormatan kita sekaligus menyarangkan dua butir pelor di otak belakang ayah dari depan.

Ibu! Saya sangat kagum akan kegigihan ayah. Sampai saat hembusan nafas terakhirnya, beliau masih berseru:

“Kembalikan kehormatan keluargaku!”

Saya yakin Ibu pun mendengar jelas kalimat terakhir itu—dan takkan bisa melupakannya. Ya, dalam sisa-sisa nafasnya, beliau mengucapkannya tiga kali:

“Kembalikan kehormatan keluargaku! Kembalikan keormatan keluargaku! Kembalikan kehormatan keluargaku!”

Beliau sempat melirik ke arahku, yang saat itu berada di pelukan Ibu, sebelum beliau benar-benar meninggalkan kita untuk selamanya.

Ibu! Bukankah itu teramat menyakitkan? Kita kehilangan keduanya. Kalau kehormatan itu tidak kembali ke dalam kehidupan keluarga kita, lalu apa lagi yang bisa kita banggakan, betapa rendahnya keluarga ini. Aku tidak akan pernah berhenti mengutuki diriku sendiri, kalau kehormatan itu tidak berhasil aku raih kembali untuk keluarga ini. Aku bersumpah, Ibu. Demi langit, bumi, malaikat, jin, dan para leluhur yang bersemayam di hati, aku akan mengutuki diriku kalau kehormatan itu tidak kembali ke pangkuan keluargaku!”

Terdengar gemuruh langit menyambut sumpah seorang anak manusia. Langit begitu terkesan dengan pernyataan sungguh-sungguh dari Suro yang akan mengutuki dirinya. Pesan sumpah itu langsung sampai ke singgasana Sang Penguasa Langit. Segera saja sumpah itu ditindak lanjuti, disahkan oleh semua saksi yang disebut dalam teks asli sumpah tersebut. Sumpah itu juga sekejab menjadi obrolan menarik seisi langit.

Tak lama kemudian, melalui hujan, pesan sumpah itu segera turun membawa kabar, bahwa Sang Penguasa Langit telah mengetahui adanya sumpah itu. Sumpah itu mampir ke gunung, menyentuh pantai. Dan angin membawanya sampai jauh.

***

Ibunya tetap tidak memberikan respons berarti atas sumpahnya—yang dalam benak Suro akan meluluhkan rasa kasihan ibunya untuk memberikan restu dan melepaskan tubuhnya dari lilitan air mata benang itu. Ternyata itu tidak berhasil, air mata itu tetap saja mengalir, merambat melalui pakaian, dan menyeberang melilit teratur tubuh Suro.
Suro lama-lama tidak tahan, dan memang ia sudah tidak sabar lagi. Dia harus melepaskan diri dari belenggu halus tapi kuat itu, sebelum semuanya terlambat. Dia mulai mempersiapkan seluruh tenaga pada setiap lapis kulitnya. Gejolak amarah dari dada, dia sebarkan untuk mematangkan semua butiran tenaga yang telah dia persiapkan itu. Semuanya telah siap.

Tinggal menunggu aba-aba dari sorot mata.

Mata Suro menampakan bintik-bintik merah. Bintik merah itu bertambah semakin banyak dan akhirnya memenuhi seluruh bola matanya. Mata itu kemudian merah. Suro nampak seperti akan menangis. Bukan, bukan untuk menangis, sebab mata itu kemudian menyala. Ya, pertanda semuanya segera dimulai.

Tubuh Suro terguncang-guncang. Sekuat tenaga dia berusaha memutus benang-benang yang melilitnya. Tenaga di tubuhnya bergerak cepat, saling membantu, kadang-kadang menyatu di lengan, di bahu, di dada, di kaki, untuk bersama-sama mendobrak pertahanan air mata benang halus dan kuat itu. Tapi tetap saja tak mampu, meskipun gigi geraham telah pula gemeretak memberi semangat kepada semua tenaganya. Mata yang beberapa saat bisa berkobar itu pun perlahan pudar dan padam. Usaha itu hanya menyisakan butiran peluh di bawah matanya.

“Apa yang sebenarnya Ibu inginkan? Lepaskan saya!”

Lilitan air mata benang—atau benang air mata—itu telah membungkus sebagian besar tubuh Suro. Yang tersisa tinggal kepalanya. Itu pun sudah mulai nampak satu dua benang melilitnya. Dan air mata itu masih saja mengalir di antara kerut keriput garis kecantikan, mencipta dua aliran sungai kecil di pipi wanita itu. Terus.

“Lepaskan! Ibu tidak punya perasaan. Ibu telah menghalang-halangi harapan ayah. Itu berarti, Ibu telah menghianati ayah. Ibu telah menghianati keluarga ini. Ya, Ibu penghianat!”.

Air mata yang ujungnya menjadi benang itu semakin deras.

“Ya, sebenarnya kehormatan itu tidak mereka rampas dari kita, tetapi Ibulah yang telah menyerahkannya kepada mereka. Ibu bersekongkol dengan mereka.”

Sebagian wajah Suro tak tampak lagi, tertutup oleh lilitan air mata benang.

“Keparat! Wanita penghianat! Kau tak pantas disebut ibu. Kaulah yang telah merampas kehormatan itu. Kaulah yang telah membunuh ayah. Aku akan membalas”.

Air mata itu kini tidak saja keluar dari mata, melainkan juga dari lubang telinga, hidung, mulut dan seluruh pori-pori di kulit wanita itu.

“Aku akan membunuhmu wanita bangsat! Aku aghlkhh…..”

Tubuh Suro tenggelam dalam benang putih yang melilitnya rapi dan semakin kuat. Sementara itu, berpuluh-puluh, beratus, beribu, berjuta aliran benang keluar dari sekujur tubuh wanita yang menjadi sumber air mata benang, menyerang Suro.

Tidak hanya itu, kepala wanita itu tiba-tiba membuncah dan pecah. Dari dalamnya mengalir ribuan aliran benang mengarah ke Suro. Punggungnya juga menggelembung dan pecah mengeluarkan aliran benang. Dadanya, lengannya, perutnya, pahanya, dan semuanya pecah. Semuanya merambat ke arah Suro.

Suro tidak berbentuk Suro lagi. Dia kini nampak sebagai gulungan benang besar yang siap menggelinding ke arah mana saja. Ke arah mana saja.

Ciputat, 24 Desember 2001

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s