Pram

dari satu epik sejarah yang tidak pendek
apa yang masih mungkin diterima?
kerap hanya terpaku: sesekali menengadah angkasa
semacam ratapan yang menyumbat tenggorokan

telah terbaring di sini cita-cita masa depan
dari kepurbaan manusia

aku tak sanggup menitikkan air mata
si kerempeng menyatu dengan bumi
di atas mana jejak langkah manusianya benar-benar manusia

tidak, kau bukan dewa, kau bukan tuhan

revolusi harus dimulai, katamu
dan, jangan pernah bermimpi untuk berhenti
dalam setiap belenggu, bergeraklah
ikuti arah angin
rebut kebebasan yang tersisa
dengan segala daya yang sebentar lagi habis

ya, kamerad…..
jalan perang mungkin lebih baik daripada dinista

gadis pesisir jawa itu telah datang
memberimu sepucuk surat:

“telah kutitipkan rinduku di awan
yang kelak berpendar dan hilang
pulanglah menjelma di putih itu
sebelum semburat langit merubahnya jingga

birahi malam mengendap dalam kelam hampa
bersama senja yang tak bersisa
dan igau yang berhenti di titik cakrawala merah”
_________
Ciputat, 12 Juni 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s