Kabangkitan Nasional II

Buku M.C. Ricklefs, Polarising Javanese Society (2007)—didiskusikan di Komunitas Utan Kayu, 27 Mei 2008—menarik untuk dibaca dalam rangka mencari format perubahan sosial yang mendukung kebangkitan nasional.  Kebangkitan nasional ditandai dengan berdirinya kelompok-kelompok sosial yang secara sadar membayangkan sebuah konsep keindonesiaan menyeluruh. Boedi Oetomo yang berdiri pada tahun 1908 bukan lahir begitu saja, melainkan terkait dengan sebuah semangat zaman. Semangat zaman yang juga sangat mungkin dikembangkan kembali di masa sekarang untuk sebuah kebangkitan nasional tahap II.

Komersialisasi Agrikultur

Era itu dimulai dengan berakhirnya Perang Jawa yang dimenangkan oleh kolonial Belanda pada tahun 1830. Itulah masa awal di mana Belanda tidak lagi memiliki kompetitor berarti dalam mengukuhkan kekuasaan di bumi Hindia, terutama Jawa. Dengan ketiadaan rival berarti, pemerintah Belanda cukup leluasa untuk mulai berpikir bagaimana meraup keuntungan maksimal dari proses penjajahan. Belanda kemudian mengeluarkan kebijakan yang diberi nama cultuurstelsel (sistem pengolahan). Sistem ini bertumpu pada bagaimana masyarakat jajahan bisa meningkatkan produktifitas untuk kemudian menambah pendapatan negara dari hasil pajak. Di atas kertas, Belanda berasumsi akan menjadi negara terkaya dari penghasilan negara tropis terbesar di dunia dengan pola pajak 40%. Tetapi secara teknis hal itu tidak terwujud maksimal. Administrasi pemerintah yang tidak memadai membuat sistem penarikan pajak ini tidak berjalan dengan baik. Pada kenyataannya, masyarakat Jawa justru begitu berkembang dalam perdagangan dan bukan pada pengolahan lahan tanah.

Cutuurstelsel  berhasil mengubah pola ekonomi masyarakat Jawa melalui komersialisasi agrikukultur. Untuk membantu distribusi  hasil bumi, pemerintah Belanda membangun jaringan rel kereta api sepulau Jawa. Ini menyebabkan lalu lintas komoditas ekonomi berjalan pesat yang secara langsung meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat. Pada masa-masa itu, Rickelfs menggambarkan bagaimana peningkatan kesejahteraan membawa dampak perubahan yang begitu besar. Pada masa-masa itulah laju angka pertumbuhan kelahiran mencapai titik maksimal, yakni 6-7%.

Pola komersialisasi agrikultur sebetulnya adalah pola umum yang terjadi di pelbagai belahan dunia yang kemudian melahirkan perubahan besar. Revolusi-revolusi besar dunia yang melahirkan demokrasi juga berawal dari komersialisasi agrikultur. Barington Moore mengamati perubahan pola ekonomi di Perancis, Inggris, dan Italia, juga di Jepang, Cina, Rusia dan India pada abad 17 dan 18 telah membawa perubahan besar pada negara-negara tersebut. Peningkatan kesejahteraan dan industrialisasi yang muncul mengiringi komersialisasi agrikultur dinilai sebagai pilar sosial yang sangat baik bagi tumbuhnya kultur demokrasi. Tetapi pada tingkat tertentu komersialisasi juga bisa berujung pada fasisme dan komunisme jika kekuatan dominan adalah otoritas tradisional atau para petani. Sementara rezim demokratis muncul ketika para tuan tanah dan petani berperan baik dalam merespon lahirnya gerakan borjuasi.

Di tengah keterjajahan, komersialisasi agrikultur telah membangkitkan pertumbuhan kelas menengah di Jawa. Pada titik yang lain, peningkatan kesejahteraan juga meningkatkan interaksi antar warga dan dengan dunia internasional. Barat dan Timur Tengah menjadi dua kutub interaksi masyarakat Indonesia dengan dunia internasional. Melalui pendidikan dan ziarah haji, masyarakat Jawa melancong ke luar negeri dan kembali dengan kepala yang tidak kosong. Ide mengenai Islamisme, komunisme, dan nasionalisme diperoleh dari interaksi internasional ini. Maka pada tahun 1908, Boedi Oetomo berdiri; disusul kemudian Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Kiai Haji Samanhudi pada tahun 1912; Muhammdiyah tahun 1912; Indischa Partij tahun 1912; Jong Sumateran Bond tahun 1917; Indonesiche Verbon van Studeenrenden (Perserikatan Pelajar Indonesia) tahun 1917; Perhimpunan Indonesia tahun 1925; Nahdlatul Ulama tahun 1926; Perserikatan Nasional Indonesia tahun 1927; pembacaan Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya tahun 1928; pendirian Bank Nasional Indonesia tahun 1928; sampai pada proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Polarisasi

Peningkatan kelas menengah yang kemudian berdampak pada polarisasi masyarakat yang tidak pernah terjadi sebelumnya ini membawa dinamika yang sangat kaya. Pada ranah ideologi, masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga pola utama: Islam, nasionalisme, dan komunisme. Di ranah kultural, masyarakat Indonesia (khususnya Jawa) terbagi dalam pola masyarakat putihan (santri) dan abangan. Polarisasi masyarakat yang baru muncul ini menambah keragaman masyarakat Indonesia yang sebelumnya sudah sangat kaya. Polarisasi yang sebelumnya ada adalah kesukuan, agama, dan pulau. Melalui kesadaran akan keragaman yang ada, masyarakat Indonesia kemudian tumbuh dan membangun cita-cita tentang sebuah tatanan masyarakat yang bisa merekatkan semua keragaman yang ada. Dari sanalah kebangkitan nasional bermula.

Tetapi setelah itu, kebangkitan nasional tampak berhenti dengan pola-pola pembangunan yang tidak tepat sasaran. Orde Baru pernah memberi harapan dengan gencarnya pembangunan ekonomi. Tetapi pembangunan yang berpusat pada pertanian tidak membawa perubahan mendasar pada ranah kultur masyarakat. Orde Baru memang sudah berupaya untuk masuk ke ranah industrialisasi, tetapi kandas oleh mewabahnya budaya korupsi.

Belajar dari upaya percepatan ekonomi melalui komersialisasi agrikultur zaman Belanda, pemerintah Orde Reformasi seharusnya juga mampu melakukan hal yang sama. Perbaikan administrasi negara dan perubahan pola pembangunan bisa dilakukan. Yang paling penting adalah perubahan fokus pembangunan. Daerah-daerah di luar pulau Jawa harus mendapat tempat prioritas. Perubahan besar telah dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Pemerintah saat ini perlu fokus untuk melakukan perubahan besar lain di luar pulau Jawa dengan pembangunan sarana ekonomi yang paling elementer, misalnya sarana transportasi. Terlalu miris menyaksikan bagaimana sarana transportasi rel kereta api hanya ada di pulau Jawa dan Sumatera, padahal rel kereta api itulah yang pernah membuat pulau Jawa dan Sumatera bergeliat dan mengobarkan kebangkitan nasional. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s