Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas

Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.

Penyerangan, Bukan Bentrok

Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.

Tidak Ada Provokasi

Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.

Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.”  Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.

Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan.” Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”

Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.

Senjata Api

Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini, oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua.” Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format damai.

Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet. Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan atribut serupa.

Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: “Kami tidak bisa dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah mereka….” (Sabili No. 25 Th. XV).

Keluar Rute

Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke pelataran Monas.

Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.

Menipu Peserta

Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi peserta aksi. Ini juga adalah dusta.

Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai cara.

Pengalihan Isu BBM

Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa bukti disebut untuk mengalihkan isu.

Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang. Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan. Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.

Advertisements

29 thoughts on “Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas

  1. Damar

    Salam kenal!
    Tuduhan-tuduhan menggelikan pihak FPI kepada AKKBB, justru menunjukkan kepanikan pihak FPI sendiri. Dan yang lebih penting dari itu, kita kian tau siapa FPI itu sebenarnya.

    Like

  2. Nasir

    Sulit untuk menentukan siapa yang bersalah atau bukan. Tergantung cara pandang kita menilai tragedi tersebut. Jika kita mendukung sisi Islam tentu mendukung pihak Islam (FPI), tapi jika memandang dari sisi hukum Pancasila dan Liberal tentu akan memenangkan pihak yang mendukung itu (dalam hal ini AKKBB). Menurut hemat saya, bagi pihak yang tak bersangkut paut, mending introspeksi diri aja. Sekaligus prihatin karena tidak seharusnya kekerasan itu terjadi, tidak pandang siapa yang memulai karena “Kalah jadi abu, menang jadi arang”.

    Like

  3. Tondi

    Tak ada alasan apapun yang bisa membenarkan penggunaan kekerasan dalam memperjuangkan ide/pendapat/keyakinan. Memperjuangkan keyakinan luhur dengan menggunakan kekerasan adalah tragedi.

    Like

  4. chepy

    sulit memang..
    karena baik fpi maupun akkbb ga punya bukti kuat siapa sebenarnya yang melanggar,

    tapi menurut kesaksian polisi massa akb lah yang melanggar jalur rute aksi..

    Like

  5. bsw

    @Nasir,
    Masak sih kalo kita mendukung sisi Islam, kita akan mendukung pihak FPI?
    Masalah di sini adalah adanya kekerasan yg dilakukan oleh suatu pihak kepada pihak lain, dan ini menurut saya tidak bisa dibenarkan?
    Tidakkah di Alqur’an ada ayat ttg “janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil..”?
    Betapapun FPI mengusung nama “Islam”, tindakan kekerasan yg dilakukannya tidaklah bisa didukung…
    Salam,

    Like

  6. yuli

    pak nasir, gak juga tuh. ah islam model apa yang suka ama kekerasan? nabi Muhammad sendiri pernah bersabda, kita diserang aja gak boleh balas dengan kekerasan kok. lihat tuh hadith miqdad, yang intinya, waktu dia bertanya kpd rasul, “bolehkan saya membalas orang yang telah memotong tangan saya?” Rasul bersabda, TIDAK. Tapi Rasul, kata miqdad, dia dah memotong tanganku!”. Rasul Jawab; TIDAK. Nah gimana tuh pak Nasir. gak ada deh dalam islam yang nyuruh kekerasan, apalagi memulai duluan. yuk ngaji lagi yuk pak Nasir hehehehe

    Like

  7. ferdiansyah

    semua persoalan sebaiknya dilihat dengan jernih.keobjektifan perspektif lebih bijak ketimbang mencari siapa yang salah. karena pada dasarnya Islam(sebagai ajaran) tidak terlibat sedikit pun dalam konflik itu. maka bentrok itu lebih disebabkan interest individu pada suatu hal. bila bicara atas nama Islam, tentu keteduhan,saling menghargai,mendialogkan untuk solusi bersama, dan kedamaian antar kaum yang sama-sama mencintai Islam dan bicara atas nama Islam akan dikedepankan. jangan terjebak pada pengulangan sejarah perang karena kekuasaan kekhalifahan antara simpatisan Aisyah dengan Simpatisan Ali setelah wafatnya Rasulullah S.A.W dalam perang JAMAL(perang unta). karena bila keduanya mencintai Rasulullah, tentu tidak akan berperang. yang mendorong mereka berperang karena cintanya sudah berpaling dari cinta pada Rasulullah S.A.W menjadi simpati pada Aisyah atau Ali atau bahkan mungkin pada kekhalifahan itu sendiri.bukan mendiskriditkan keduanya (Aisyah dan Ali). tetapi sekali lagi, itulah gambaran bahwa interest individu suka bikin kacau bila tidak mengedepankan Islam(baca:selamat/damai). selesaikan perang ini dengan cara Islam(selamat/damai).agar kita bisa melahirkan Ibnu shina,Al Farabi, dan lain-lain di zaman modern ini.untuk kemudian perang yang tak berguna saat ini kita alihkan pada perang ilmu pengetahuan dan teknologi agar umat Islam kuat di dunia(ekonomi,teknologi,budaya,sosial,politik,dan lainnya), juga selamat di akhirat.bagaimana tawaran saya ini?apakah akan disambut dengan langsung mencela,memaki,dan bahkan mungkin meninju wajahnya bila bertemu seperti cara Abu Jahal dan abu lahab menyambut aufklarung yang dibawa umat Islam di bawah pimpinan Rasulullah S.A.W? saya tunggu jawabnya.be smile.

    Like

  8. saidiman

    Zionis itu siapa ya? Kalau dia ngaku orangtua saya, suruh dia ketemu saya, biar saya tunjukin orang tua saya yang sebenarnya!!!!

    Like

  9. yeyen

    kita semua masing2 bisa menilai kekuatan bukti-bukti kedua belah pihak walaupun salah satu pihak mendapatkan dukungan lebih dari media kita

    Like

  10. saidiman

    Kok nggak mungkin? Apakah Anda ingin mengatakan juga bahwa perampok itu nggak mungkin merampok kalau nggak diprovokasi korban? Logikanya dipake mas…

    Like

    • hatinoviani

      La memang mas dimana2 tindak kejahatan karena dipicu dr sang korban sendiri.. Misalkan perampok karena melihat korban selalu pamer dan menunjukkan kekayaannya makanya dia dirampok , apa bukan terprovokasi oleh korbanya itu namanya … Maaf sebelumnya

      Like

  11. erensdh

    Goblok sekali bila ada pihak-pihak yang mencoba memprofokasi fpi, atau kecuali mereka belum tau apa yang selama ini dilakukan fpi? Di tambah lagi ditangan fpi itu ada semacam kayu, bambu atau semacam itu, kok masih berani juga?
    Mungkinkah pihak fpi menyusupkan orang-orangnya supaya memprofokasi biar ada alasan untuk menyerang kelompok akkbb?

    Suatu saat kebenaran yang universal akan tegak, mengalahkan kebenaran yang egois.

    Like

  12. Andre

    @atas
    kagak kebalek apa mas?tanya tuh orang2 AKKBB,antek2 zionis ma amerika..baca..baca ..mas,cari berita yg seimbang,jgn nonton tipi mulu,lu digoblok-goblokin…
    Kebenaran UNiversal?maksud looh…

    @ saidiman 17: Logika Jungkir balik ..;-)Hhehh..hehh kirain anda cerdas,ternyata..menyedihkan….

    Like

  13. anah

    klo menurut pandangan saya
    mengenai siapa yang salah antara FPI dan AKKBB
    semua itu ya…waullahhua’lam coz blum jelas siapa yang mempropokasi dan siapa yang terpropokasi

    (sebaiknya kita intropeksi diri dan bukanya saling menyalahkan
    di sini kan cuma mau bercomentar bukan mau berdebat
    seperti anda-anda yang di atas!)

    Like

  14. prita

    saya dan teman2 saya, justru banyak yang merasa kesal dengan sikap Fpi dan banyak ormas islam lainnya yang sangat arogan.

    menurut saya, justru dengan sikap fpi dkk lah banyak muslim menjadi murtad. saya dan banyak teman2, menjadi bertanya2 mengenai kesejukan islam hanya karena sikap fpi dkk.

    untuk sesaat ini, seringkali (Setidaknya) saya dibuat malu karena arogansi keimanan sebagian kita. saya melihat banyak, teman2 saya yang tidak tertarik dengan tuhan dan agama justru bisa bersikap dengan rendah hati, jujur, dan lembut.

    tolong keegoisan keimanan kita semua dikendalikan. banyak orang di luar sana sedang melihat kita. kita semakin meyakinkan mereka bahwa kita suka kekerasan.

    Like

  15. wildan hasan

    Maaf telat ya…
    Apakah Rasulullah memerangi kelompok musyrikin dan kafirin termasuk tindak kekerasan yang anda maksudkan kang?
    Susah juga memang ya? Tergantung pesan sponsor, FPI maupun AKKBB.
    Kang Nasir, Lebih enak kalau akang kenal lebih dekat makhluk apaan itu FPI. Agar balance seperti pendekatan yang nampak dalam dilakukan akang dalam mengomentari cerita indah di atas?

    Like

  16. wildan hasan

    Profil FPI: Lemahnya Penegakan Hukum, Munculkan Semangat Amar Ma’ruf Nahyi Mungkar

    Katagori : Focus
    Oleh : Redaksi 10 Sep 2008 – 7:00 pm

    Polisi Masih Biarkan Tempat Hiburan Buka di Bulan Ramadhan
    Lemahnya kondisi penegakan hukum dan pemerintah pada awal pelaksanaan era reformasi di tahun 1998, dimanfaatkan oleh sekelompok mafia, yang tediri dari LSM-LSM komparador untuk berupaya merusak negara melalui cara sistematis dengan menyebarkan berbagai macam kemungkaran. Hal itulah yang mendorong para ulama, habaib, dan kyai begitu antusias untuk mendirikan suatu organisasi amar ma’ruf nahyi mungkar.

    “Jadi mereka dalam setiap pertemuan mendiskusikan, bagaimana nih kita kayaknya sudah perlu untuk membuat semacam kekuatan umat, menghimpun kekuatan umat untuk amar ma’ruf nahyi mungkar, membentengi umat dari kehancuran.

    Kalau begini saja, negara tidak memperhatikan umat akan hancur, siapa yang bertanggung jawab padahal kita masih mempunyai kekuatan, ” papar Sekjen FPI Sobri Lubis kepad Eramuslim, mencontohkan kekhwatiran yang dirasakan para pemimpin umat ketika itu.

    Organisasi yang bernama Front Pembela Islam itu pun dideklarasikan oleh Habib Rizieq Shihab, Habib Idrus Jamalullail, Kyai Misbach, dan beberapa ulama lain, yang semuanya biasa hadir sebagai mubaligh di atas mimbar-mimbar dakwah.

    Akhirnya pada suatu malam, pada tanggal 17 Agustus 1998, sepakat untuk berkumpul di Pondok Pesantren Al-Umm, didaerah Kampung Utan-Ciputat, kediamanan KH. Misbachul Anam yang merupakan Sekjen FPI pertama untuk mendeklarasikan pendirian Front Pembela Islam (FPI).

    “Di situ datang semua para mubaligh, aktivis dakwah, mendeklarasikan FPI. Jadi sejak deklarasi dulu, namanya FPI, itu karena ketika itu kondisi umat Islam berbahaya. Dari segi namanya FPI, kita gak main-main. Dalam kondisi waktu itu, ” tutur Ustad Sobri.

    FPI yang ketika didirikan secara dadakan karena komitmen moral yang tinggi dari Habib Rizieq beserta Kyai, para Habaib lainnya, saat bentuk belum memiliki apa yang dinamakan AD/ART seperti layaknya sebuah organisasi, karena memang pada dasarnya FPI berbeda dari organisasi kader lainnya.

    Sebab yang melatarbelakangi terbentuknya FPI, adalah pertama rasa tanggung jawab para tokoh Islam kepada Allah, dan Rasulnya, daripada adanya sebuah kehancuran umat yang semakin tidak jelas. Yang kedua, latar belakangnya juga kewajiban untuk menegakan amar ma’ruf nahyi mungkar, yang ketiga kurangnya kontrol sosial baik dari orsospol, maupun pemerintah terhadap hak-hak muslim sebagai mayoritas dinegeri ini.

    “Muslim menjadi mayoritas, akan tetapi banyak ditindas, diperlakukan yang melanggar HAM, mendapat perlakuan bengis dan biadab. Seperti di Haur Koneng, di Nipah, kemudian di Aceh, Tanjung Priok. Itu semuanya, wujud lemahnya kontrol sosial baik dari ormas, orsospol, maupun pemerintah terhadap umat Islam, ” jelas Ustad Sobri Lubis.

    Dari ketiga latar belakang tersebut, maka perlu dibentuk satu kelompok yang siap mengangkat harkat dan martabat umat Islam. Yang ternyata, semula tak pernah terbayang oleh kami bahwa FPI akan cepat besar dalam skala nasional. Bayangan awal para pendirinya, FPI itu hanya dibentuk untuk skup Jakarta, minimal Jabodetabek.

    Preman yang dihakimi massa yg berujung kematian
    Baca : Rusuh Ketapang Hingga Monas Menista Islam

    Para Tokoh Agama membujuk masyarakat utk tidak anarkis
    Akan tetapi, peristiwa insiden Ketapang, di mana FPI memperlihatkan keberadaannya terjun langsung melawan preman-preman yang menyerang masjid dan masyarakat, yang tak luput dari pemberitaan media massa kala itu, telah membuat umat di daerah mengetahui adanya sekelompok orang yang melakukan pembelaan terhadap hak-hak umat Islam, dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi mungkar.

    “Lama-kelama mereka ingin tahu, mereka akhirnya tahu, mereka menganggap ini pas. Dan memerlukan adanya seperti ini untuk benteng moral dan akhlaq serta akidah di tempat kami, akhirnya mereka bentuk didaerah cabang-cabangnya, ” jelasnya.

    Setelah wilayah Jabodetabek, akhirnya cabang FPI didirikan di Jawa Barat, kemudian Lampung, Palembang, Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi, Ambon, Maluku, Tual, Kalimantan. Sekarang sudah hampir semua propinsi ada cabang FPI, di mana totalnya 30-an Propinsi, terakhir NTB yang paling baru dan Manado. Bahkan, kerusuhan di Monas yang memunculkan reaksi agar FPI dibubarkan, menimbulkan reaksi yang berbeda didaerah karena justru banyak yang ingin masuk FPI, seperti terjadi di Manado dan Sumbawa pada bulan ini.

    Semangat untuk bergabung di bawah organisasi berlambang mawar merah ini, karena memiliki kesamaan perasaan yang dialami, misalnya melalui gerakan anti Narkoba. Sebab saat ini, Narkoba ini dirasakan di mana-mana, bukan hanya di Jakarta, di Bandung, tapi juga di mana-mana sampai kepelosok-pelosok. Begitu juga perjudian prostitusi, dan juga peredaran VCD porno.

    Selain melakukan aksi memberantas kemungkaran, FPI yang sudah berdiri selama 10 tahun ini juga aktif untuk membela dan menolong sesama yang terkena musibah tanpa memandang latar belakang agama dan juga suku bangsa. Hal ini terbukti pada peristiwa tsunami di Aceh, ada sekitar 1.300 laskar yang dikirim secara bergantian selama setahun ke Aceh untuk melakukan evakuasi mayat dan membantu para korban. Selain itu, juga pada saat gempa Yogyakarta, tsunami di Pangadaran, Ciamis, Banjir di Poso, dan Kalimantan, hampir rata-rata yang musibah sifatnya nasional, FPI turut berpartisipasi. Bagitu pula saat bencana yang terjadi diberbagai daerah, misalnya kebakaran di Jakarta, FPI juga membuat dan buka posko pengobatan dan penyaluran bantuan. Bencana banjir yang hampir menjadi langganan, apalagi FPI markasnya di Petamburan, di mana dibawahnya sepanjang pintu air itu tempatnya banjir. Setiap kali banjir markas FPI dijadikansebagai tempat dapur umum, pengobatan dan pengungsian bagi korban.

    Dimana AKKBB tahun 2004 yang lalu???

    Saat ini organisasi yang dipimpin oleh Habib Rizieq Shihab itu, memiliki Jumlah laskar (red. angggota militan/loyalitas yang siap bertugas ke mana saja) hingga 1 juta orang, sedangkan anggota FPI bukan laskar jumlahnya lebih banyak, bisa mencapai 3 jutaan.

    Jumlah yang besar ini tidak serta merta membuat FPI lantas berbangga hati, Sekjen FPI Sobri Lubis berharap tetap Indonesia bisa terjaga dari segala kerusakan, baik moral, akhlaq, akidah, karenanya itu pihaknya akan tetap berjuang semaksimal mungkin untuk mempertahankan moral bangsa Indonesia. Begitu juga dengan keberadaan aliran sesat yang terus menerus konseksuen diperanginya. Untuk ke depan, aparat penegak hukum diharapkan bisa menegakan hukum sebaik-baiknya.

    LSM Komparador Ingin Berangus FPI
    Mengenai adanya keinginan dan desakan untuk membubarkan FPI, secara tegas Sobri mengatakan, bahwa FPI resmi terdaftar di Depatemen Dalam Negeri sejak tahun 2006, adapun mereka yang menuntut pembubaran FPI justru kelompok kecil yang justru tidak terdaftar resmi di negara ini.

    “Mereka itu hanya LSM-LSM komparador yang hanya menjadi corong-corong AS, mereka sangat sedikirt sekali. Dan dibuktikan saat mereka menyuarakan itu, rata-rata mereka adalah alumni AS, yang belajar agama Islam di AS, rata-rata suaranya sama, FPI dibubarkan. Karena buat Amerika cuma tinggal satu, kalau FPI ini bisa dibubarkan semua yang lain akan mudah, termasuk MUI juga bisa dibubarkan, apalagi ormas-ormas yang lain, ” ujarnya.

    Semakin didesak untuk bubar, justru semakin tampak dukungan dan ukhuwah dari ormas-ormas Islam yang ramai-ramai membela FPI. Ternyata tampak jelas yang menuntut FPI dibubarkan adalah kelompok kecil yang sangat dekat dengan Yahudi, Nasrani, dan AS. Mereka itu adalah LSM-LSM yang merupakan bayaran AS semua. Kelompok-kelompok LSM tadi mengatasnamakan NU, mengatasnamakan Banser, akan tetapi Banser yang asli Ketua Umumnya malah datang ke Petamburan, minta untuk membuat siaran pers bersama bahwa FPI dan Banser tidak ada masalah. Begitu juga ormas-ormas Islam lainnya seperti Muhammadiyah, MUI, kemudian GPI memberikan dukungan terhadap keberadaan FPI.

    Sebenarnya sejak awal berdiri, FPI di era reformasi, pemerintah maupun kepolisian maupun TNI, untuk keamanan, sangat terbantu dengan keberadaan FPI dalam menjaga keamanan. Namun dalam perkembangannya, AS ternyata mulai menilik, kenapa di Indonesia ada baret putih, dulunya FPI dengan polisi bermitra. Kebanyakan tugas-tugas polisi dibantu FPI, terjadi koordinasi yang bagus, hubungan sangat baik.

    “Tahu-tahunya AS menyatakan baret putih itu mengganggu, kenapa itu ada polisi syariat, apa gak cukup polri, dan seterusnya. Akhirnya LSM antek AS ini mulai bersuara miring terhadap FPI. Kelompok sepilis (sekuler, pluralis, liberalis) juga mulai berbicara miring terhadap FPI, semenjak AS kasih sinyal, ” tutur Ustad Sobri.

    Maka sejak itu tidak hentinya, istilah-istilah yang dilontarkan kepada FPI, mulai dari Islam garis keras, Islam fundamentalis, anarkis, main hakim sendiri, sampai pada tingkat teroris. Akan tetapi semua hujatan yang dilontarkan kepada FPI, tidak menyurutkan langkah para aktivis dakwah itu.

    “Itu terserah mereka, Ustad Abu Bakar Ba’asyir mengatakan tadi kalau kita difitnah, diberi cap seperti itu oleh orang kafir seharusnya kita senang saja, asalkan jangan Allah yang bilang kita seperti itu, ” pungkas Ustad Sobri. (novel/eramulsim)

    Katanya sih begitu….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s