Tasydid

Majalah TEMPO, 29/XXXVII 08 September 2008

Sebuah teks berjalan di salah satu stasiun televise menyebutkan: “Demonstrasi masif dilakukan oleh Forum Umat Islam….” Bukan demonstrasi benar yang menjadi masalah, melainkan kata “masif” dan “umat” pada teks tersebut. Penulisan kata “massif” menjadi “masif” dan “ummat” menjadi “umat” terkait erat dengan lidah masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa menyebut pengulangan huruf dalam satu kata.

“Massif” berasal dari kata bahasa Inggris “massive.” Huruf-huruf “ve” di akhir kata itu biasa menjadi “f” saja di dalam penyebutan, sehingga dalam bahasa Indonesia disebut saja “massif.” Tidak ada persoalan dengan penggantian “ve” menjadi “f.” Mengurangi salah satu huruf “s” akan mengubah susunan huruf pada kata itu sendiri.

Pada kasus “ummat” yang kemudian menjadi “umat” juga demikian. Kata ini berasal dari bahasa Arab “ummah.” Pada dasarnya huruf “h” pada kata asalnya adalah “ta” atau “t,” dalam gramatika bahasa Arab disebut “ta marbuthah.” Tidak ada persoalan ketika huruf “h” pada kata itu diganti menjadi “t” dalam bahasa Indonesia. Persoalan menjadi besar ketika terjadi pengurangan pada salah satu hurufnya, “m” atau “mim” dalam bahasa Arab.

Pengulangan huruf dalam bahasa Arab disebut sebagai “tasydid.” Tasydid sesungguhnya memberikan pengertian bahwa ada huruf yang berulang. Dengan demikian ada dua huruf yang sama. Kedua huruf itu sangat penting sebab merupakan komponen utama dalam pembentukan kata dalam bahasa Arab. Mengurangi salah satu huruf utamanya berarti mengubah makna secara keseluruhan. Mengurangi satu “m” pada “ummat” adalah kekeliruan besar.

Kata “kuliah” yang biasa diartikan sebagai kegiatan belajar-mengajar mengalami nasib yang jauh lebih menyedihkan. Bukan hanya pengurangan satu huruf “l” dan satu huruf “y” kata yang berasal dari bahasa Arab “kulliyyah” ini juga mengalami pelencengan makna. Dalam kata asalnya, “kulliyyah” berarti partikular sebagai lawan kata “jami’ah” yang berarti menyeluruh. “Al-jaami’ah” adalah kata bahasa Arab untuk menyebut universitas, sementara “kulliyyah” sepadan dengan fakultas (faculty). “Kulliah” yang seharusnya adalah komponen pendidikan di bawah “al-jaami’ah” (universitas) ketika masuk ke dalam bahasa Indonesia menjadi hanya kegiatan belajar mengajar, itupun ditambah dengan mengurangi dua huruf pentingnya, “l” dan “y,” menjadi “kuliah.”

Makalah yang biasa dibuat oleh mahasiswa untuk dipresentasikan di depan kelas juga berasal dari penyimpangan makna asal. Kata ini berasal dari bahasa Arab “maa qaala” yang artinya terkait dengan perkataan. Jika ingin konsisten dengan asal katanya, maka yang seharusnya dibuat dan dipresentasikan oleh mahasiswa itu adalah “makataba,” berasala dari bahasa Arab “maa kataba,” yang artinya lebih dekat dengan tulis menulis.

Keengganan mengucapkan secara benar huruf-huruf tasydid menyebabkan banyaknya pengubahan kata-kata bahasa Arab. Nama seperti Muhammad sangat banyak dijumpai pada masyarakat Indonesia. Tetapi keengganan mengucapkan tasydid menyebabkan nama ini menjadi “Mohamad.” Di samping mengurangi satu “m,” penggunaan “o” pada kata itu juga bermasalah karena bahasa Arab sesungguhnya tidak memiliki padanan bunyi huruf vokal “o,” yang ada hanyalah “a,” “i,” “u,” dan “e” pada beberapa kasus spesifik. Nama seperti Abdul Wahhab dengan semena-mena ditulis menjadi “Abdul Wahab.”

Sudah saatnya persoalan tasydid ini diangkat menjadi pembicaraan publik. Jika dibiarkan, maka aka ada banyak sekali kesimpangsiuran dalam penulisan kata bertasydid tersebut. Ibu kota Sulawesi Selatan kemudian akan menjadi Makasar, padahal yang benar adalah Makassar. Tak jarang ditemui rumah-rumah kontrakan di Jakarta memasang pengumuman “Rumah ini di kontrakan.” Kalimat itu masih bisa dipahami, yakni bahwa rumah itu ada di perumahan kontrakan. Tapi tunggu dulu, bukankah maksudnya adalah untuk dikontrakkan? Untuk apa pula pengumuman semacam itu dipasang? Pada rumah kontrakan lain tertulis “Rumah ini dikontrakan.” Kalimat ini sama tidak beraturannya dengan “Rumah ini di kontrakkan.”

Advertisements

3 thoughts on “Tasydid

  1. Asep Sofyan

    Menurutku sah-sah saja bahasa asing diucapkan dan ditulis secara berbeda oleh pemakai bahasa kita. Kalau mau adil, orang2 Barat itu seharusnya tidak menulis dan menyebut Avicena untuk Ibnu Sina, Averrous untuk Ibnu Rusyd, Osama ben Laden untuk Usamah bin Ladin, dsb.

    Jadi, menyesuaikan pengucapan bahasa asing (Arab, Inggris, dll) dengan lidah kita dan kebiasaan kita bukanlah masalah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s