Di Bawah Kuasa Orde Baru

Sinar Harapan, 13 Mei 2009

Robert A. Dahl, ilmuan politik terkemuka, pernah mengemukakan bahwa demokrasi yang selama ini kita saksikan bukanlah praktik demokrasi yang sebenarnya seperti yang selalu dibicarakan para pemikir dan filsuf. Praktik demokrasi yang ada saat ini, di manapun, hanyalah poliarki. Poliarki, dalam definisi Dahl, adalah sebentuk sistem di mana kekuasaan publik selalu berputar di kalangan elit saja, tidak pernah benar-benar memberi kesempatan kepada semua orang untuk juga berkompetisi dalam perebutan kekuasaan bersama para elit. Sirkulasi kekuasaan yang hanya ada pada para elit itu disebabkan terutama karena hanya para elitlah yang memiliki sumber daya.

Ralitas politik yang terjadi di Indonesia sekarang ini kembali membuktikan teori Dahl tersebut. Wacana mengenai calon presiden dan wakil presiden tidak keluar dari lingkaran elit yang memang sejak awal dekat atau berada pada lingkaran kekuasaan. Bahkan kandidat-kandidat presiden dan wakil presiden terkuat adalah anak-anak langsung dari para mantan penguasa. Megawati Soekarno-Putri adalah anak mantan penguasa nomor satu negeri ini, Soekarno. Susilo Bambang Yudhoyono adalah anak dan menantu petinggi militer dan jenderal yang juga sangat berkuasa pada masa Orde Baru. Yusuf Kalla adalah anak juragan terkemuka yang mendominasi perniagaan di Indonesia Timur, Haji Kalla. Sultan Hamengkubuwono X adalah anak dari Raja Jawa Sultan Hamengkubuwono IX yang juga mantan Wakil Presiden. Prabowo Subianto adalah anak arsitek ekonomi Orde Baru, Sumitro Joyohadikusumo, dan mantan menantu Jenderal Besar Soeharto. Wiranto adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hampir tidak ada nama baru dalam perebutan kursi nomor satu dan dua politik Indonesia.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Andi Faisal Bakti di kabupaten Sengkang Sulawesi Selatan, Kekuasaan Keluarga di Wajo, Sulawesi Selatan (2007), menemukan bahwa perubahan sistem politik masyarakat Sengkang tidak mengubah struktur kekuasaan. Para raja dan keluarganya yang berkuasa pada masa kerajaan terus mewariskan kekuasaan itu di dalam masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Sistem memang terus berubah, namun kekuasaan terus berputar di kalangan elit keluarga raja yang sejak dulu memang berkuasa. Penelitian itu memperlihatkan bahwa mulai dari Bupati, Ketua DPRD, ketua-ketua instansi pemerintah, sampai para camat dan desa/kelurahan hampir semuanya adalah keluarga raja atau paling tidak mereka yang loyal terhadap struktur kekuasaan politik keturunan raja.

Fakta ini menjelaskan bahwa sesungguhnya pengaruh kekuasaan para raja dan keturunannya di pelbagai wilayah di Indonesia masih sangat dominan. Dominasi kekuasaan para raja itu dibaca dengan baik oleh elit semacam Susilo Bambang Yudhoyono yang mengumpulkan para raja Nusantara beberapa saat sebelum Pemilu legislatif. Pencalonan diri Sultan Hamengkubuwono sebagai presiden sampai saat ini adalah salah satu ancaman serius SBY pada perebutan kursi nomor satu pada Pemilihan Umum Presiden 2009.

Penjelasan utama yang bisa diberikan adalah bahwa penguasaan sumber daya menjadikan para elit terlalu susah untuk ditumbangkan. Yang paling mungkin dilakukan adalah pergantian sistem. Tetapi kekuasaan akan tetap dan selalu berputar di lingkungan elit yang sebelumnya memang merupakan penguasa.

Banyak aktivis yang menyesalkan capaian reformasi di mana para aktor kekuasaan Orde Baru kembali menjadi pemain-pemain utama dalam kancah politik nasional. Hampir tidak ada celah bagi kekuatan lain di luar kekuatan mantan pendukung Orde Baru yang sekarang bersaing memperebutkan kursi-kursi kekuasaan. Sejumlah mantan jenderal, yang pada masa Orde Baru merupakan pendukung utama jalannya kekuasaan tangan besi pemerintah, sekarang bersaing ketat memperebutkan posisi presiden dan wakil presiden. Tidak heran jika kemudian muncul sejumlah kesimpulan dengan nada menyesal bahwa reformasi bukan hanya mengembalikan kedaulatan rakyat, melainkan menciptakan arena bagi para mantan penguasa di masa Orde Baru untuk bersaing sendiri atas nama kedaulatan rakyat.

Sekali lagi, yang paling mungkin menjelaskan fenomena ini adalah pada penguasaan sumber daya yang begitu besar dan tak mampu ditandingi sedikitpun oleh kekuatan politik alternatif di luar gerbong Orde Baru.

Pertanyaannya, dimana kekuatan reformasi yang dulu demikian gegap gempita menuntut perubahan? Amin Rais, yang disebut-sebut sebagai tokoh reformasi, tanpa tedeng aling-aling memberikan dukungan kepada Susilo Bambang Yudhoyono, salah satu jenderal Orde Baru. Amin Rais bahkan mendorong partainya, Partai Amanat Nasional (PAN), untuk bersekutu dengan partai besutan SBY, Demokrat. Anehnya, PAN adalah partai yang dilahirkan oleh para intelektual pro-reformasi.

Tokoh gerakan pro-demokrasi di masa Orde Baru, KH Abdurrahman Wahid, tanpa sungkan memberi dukungan kepada Prabowo Subianto dan partai Gerindra. Prabowo Subianto adalah mantan jenderal yang disebut-sebut berada di balik aksi penculikan dan penghilangan para aktivis di akhir kekuasaan Orde Baru.

Semua fakta ini mengarah kepada satu kesimpulan bahwa Orde Baru telah kembali. Kekuatan itu tidak hanya dominan, melainkan juga begitu hegemonik. Rakyat seolah tidak diberi pilihan lain di luar kekuatan yang dulu menjadi penyangga utama kekuasaan Orde Baru. Ketidakberdayaan menghadapi kembalinya kekuatan Orde Baru bahkan memaksa kekuatan yang awalnya pro-demokrasi dan gerakan reformasi kini bahkan secara terang benderang tunduk di bawah sihir Orde Baru.

Tentu kita harus terus berharap ada perubahan. Melihat realitas politik yang ada, tidak ada lain selain berharap kepada kekuatan-kekuatan yang dulu penyangga Orde Baru tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. Semoga orde yang akan datang adalah orde baru dalam pengertian yang sebenarnya, orde yang akan membawa pembaharuan.

Advertisements

One thought on “Di Bawah Kuasa Orde Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s