Agama Lama dengan Baju Baru

Reportase Diskusi JIL di UKSW Salatiga, 7 Juli 2009

Salah satu penanda utama era globalisasi menurut Thomas L. Friedman adalah meleburnya batas-batas: sesuatu yang menjadi karakter pokok era Perang Dingin (Thomas L. Friedman: 2000). Francis Fukuyama kemudian mengeluarkan tesis terkenal tentang akhir sejarah (Francis Fukuyama: 1993). Akhir sejarah yang ditandai dengan kemenangan mutlak demokrasi liberal itu mendapat tantangan serius dari banyak orang, satu di antaranya adalah Samuel P. Huntington. Huntington mengemukakan bahwa akhir sejarah bukan berarti munculnya satu kekuatan tunggal, melainkan justru tempat bersemainya pelbagai kekuatan yang mendasarkan diri pada primordialisme (Samuel P. Huntington: 1996). Fareed Zakaria mempertegas tesis Huntington itu dengan menunjukkan gejala munculnya kekuatan-kekuatan baru di luar Amerika Serikat  dan Eropa. Kekuatan-kekuatan baru itu muncul terutama dari kawasan Asia seperti Cina dan India (Fareed Zakaria: 2008). Apa yang dikemukakan oleh Ernest Gellner mengenai the clash of civilisations tampak semakin menjadi nyata. Ada perubahan besar dalam arus peradaban. Ironisnya, kultur primordial menjadi bagian penting dalam perubahan besar tata peradaban dunia tersebut.

Diskusi terbatas bertajuk Tantangan Globalisasi bagi Agama-agama yang diselenggarakan oleh Program Pasca-Sarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bekerja sama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) di Salatiga, 7 Juli 2009, mengulas beberapa tema pokok dalam diskursus agama di era globalisasi. Dr. Abu Hafsin (Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah) memulai diskusi dengan mengemukakan pentingnya globalisasi dalam upaya transformasi sosial. Tetapi pada saat yang sama, globalisasi tidak harus menjadi monster yang bisa memberangus identitas tradisi. Keduanya harus diposisikan sebagai alat bagi sebesar-besarnya transformasi sosial.

Terus berpijak pada tradisi, menurut John A. Titaley Th.D. (Guru Besar Teologi UKSW), justru menemukan momentumnya dalam era globalisasi. Mengutip Peter L. Berger, Titaley menyatakan bahwa agama adalah bagian dari peradaban bahkan ekspresi peradaban itu sendiri.  Agama adalah bentuk peradaban manusia. Jika modernitas dan globalisasi mendapat respon dari agama, maka hal itu merupakan bentuk dialog antar-peradaban. Di dalam sebuah dialog, perbenturan memang acapkali tak dapat dihindarkan, namun juga ada ruang di mana upaya untuk saling mengisi terjadi.

Debat Sekularisasi

Dalam buku The Sacred Canopy (1990) dan A Rumor of Angels (1970), Peter L. Berger  berusaha menjelaskan bagaimana agama diposisikan dalam kehidupan modern. Kedua buku awal Berger itu cenderung menempatkan agama sebagai respon terhadap sekularisasi. Pandangan Berger ini sesungguhnya mewakili pandangan dominan banyak ilmuan saat itu. Auguste Comte membagi dunia dalam era teologi, metafisis, dan positivis. Emile Durkheim meramalkan pergeseran masyarakat dengan solidaritas mekanik (tradisional/paguyuban) ke solidaritas organik (modern/patembayan). Tesis utama para ilmuan itu adalah bahwa dunia akan semakin modern dan pada saat yang sama agama akan semakin ditinggalkan.  Agama adalah respon terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kebutuhan dasar manusia. Ilmu pengetahuan lambat laun semakin menggantikan fungsi agama untuk menjawab keajaiban dunia. Sementara dahaga spritualitas semakin tergantikan oleh seni. Demikian pula dengan pola-pola solidaritas yang terus berubah semakin meminggirkan agama. Agama dianggap sebagai barang aneh bagi rasionalitas dan kemajuan manusia. Pretensi ilmu-ilmu modern pada mulanya adalah untuk menyingkirkan agama. Apa yang disebut sebagai modernitas adalah respon langsung terhadap dominasi agama dalam ranah kehidupan.

Ulil Abshar-Abdalla (aktivis Jaringan Islam Liberal dan kandidat Doktor Teologi Universitas Harvard Amerika Serikat) menjelaskan bahwa fungsi yang dimainkan oleh ilmu pengetahuan modern saat ini persis seperti yang dulu pernah diperankan oleh agama. “Pada dasarnya manusia membutuhkan peta bagi kehidupan,” tegas Ulil. Ilmu pengetahuan dan agama (pada masanya) adalah peta yang bisa memberi petunjuk bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (lahir dan batin). Ilmu sosial semacam sosiologi, menurut Ulil, adalah quasi doktrin agama.

Tetapi sejarah membuktikan bahwa keniscayaan mundurnya agama seiring dengan perkembangan kehidupan modern ternyata tidak memberi banyak bukti. Titaley menyebut bahwa bahkan pemikir seperti Peter L. Berger yang sebelumnya merumuskan babak kehancuran agama pun harus meralat kesimpulannya. Dalam buku The Desecularization of The World (1999), di mana Peter L. Berger menjadi editor, Berger menyatakan secara eksplisit bahwa ada kesalahan dalam kesimpulan banyak orang mengenai kehidupan manusia saat ini. “My point is that the assumption that we live in a secularized world is false,” tegas Berger. Berger bahkan menyimpulkan bahwa keseluruhan literatur yang terlanjur diberi label “teori sekularisasi” sungguh menyesatkan. Menurut Berger, teori sekularisasi yang sangat marak pada 1950-an dan 1960-an yang sesungguhnya berakar pada Pencerahan semuanya mengarah kepada satu kesimpulan bahwa modernisasi adalah anti-tesis agama. Modernisasi berkembang sejalan dengan keruntuhan agama. Semua kesimpulan itu keliru, sebab pada kenyataannya ada dimensi keagamaan dalam modernitas.

Para-Religion

Pertanyaan utama yang sering menghantui kehidupan modern adalah mengenai wajah agama yang selalu tampak dalam kehidupan modern. Alih-alih mundur dan musnah, belakangan trend beragama bahkan semakin menguat. Dan yang paling menyita perhatian adalah trend agama dalam ranah politik: di Amerika Latin kelompok Evangelis berkembang pesat, kelompok Islam dan Kristen berebut otoritas di Afrika, ada konflik Arab dan Israel yang tak kunjung padam, kelompok sekuler semakin terancam oleh kelompok agama di Turki, kelompok Muslim fundamentalis radikal terus menerus menebar kekacauan di Aljazair, sementara kelompok fundamentalis Hindu semakin dominan di India, dan seterusnya.

Ulil mengusulkan cara pembacaan Jonathan Benthall untuk menganalisa fenomena ini. Pertanyaan pokok yang diajukan oleh Benthall adalah bagaimana menjelaskan kebangkitan agama, bahkan pada masyarakat Barat yang rasional, post-modern, dan saintifik. Sebagaimana Berger, Benthall juga mengusulkan untuk melakukan pembacaan ulang terhadap tesis-tesis sekularisasi.

Dalam masyarakat sekuler, menurut Benthall, agama tidak pernah benar-benar hilang. Yang terjadi adalah masyarakat sekuler hanya melakukakan represi terhadap agama. Agama mengendap di bawah permukaan. Teori Sigmund Freud mengenai alam bawah sadar sangat relevan. Agama seperti mimpi buruk yang ditekan ke alam bawah sadar sekularisme.

Tetapi pengalaman-pengalaman yang direpresi di alam bawah sadar sesungguhnya tidak benar-benar terkungkung. Ada momen-momen tertentu di mana pengalaman-pengalaman itu bocor dan mencuat keluar. Represi terhadap alam bawah sadar selalu merupakan represi yang gagal. Agama yang dipinggirkan dan direpresi selalu menemukan cara untuk tampil kembali ke permukaan. Tetapi sesuatu yang telah melalui peminggiran dan represi itu tidak muncul kembali dalam bentuk yang benar-benar sama dengan sebelumnya. Trend beragama yang muncul dalam era globalisasi ini adalah sesuatu yang lain dari agama sebelumnya. Jonathan Benthall menyebutnya “para-religion.”

Menurut Ulil, para-religion adalah cara baru presentasi doktrin agama. Ia seolah-olah mengandung karekater agama tradisional tetapi sesungguhnya berbeda. Fenomena Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin, misalnya, tidak hanya merefleksikan cara beragama tradisional, melainkan di sana ada intervensi yang kuat dari ideologi-ideologi modern: Marxisme, fasisme, green movement, dan lain-lain. Kelompok-kelompok ini bahkan bisa dimasukkan ke dalam bagian dari new-social movements. Para-religion adalah agama lama dengan baju baru.

Meski begitu, lanjut Ulil, para-religion tidak selamanya muncul dalam bentuk fundamentalisme dan radikalisme. Dalam kuantitas yang juga massif, gerakan spritualitas seperti new ages dan mistik adalah bentuk para-religion. Dengan penekanan pada spiritualitas, para-religion model ini muncul dengan wajah yang lebih inklusif bahkan lintas agama. Fenomena ini diwakili misalnya oleh Khazrat Inayat Khan, Jewbu (Jews Budhist), Hisyam Kabbani, Ibn Arabi Society, kelompok-kelompok spritual India, dan lain-lain.Ungkapan John Naisbitt mungkin mewakili apa yang sedang terjadi itu: “Sprituality, yes; Organized religion, no.”

Ketiga pembicara sama menyimpulkan bahwa globalisasi tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman bagi agama. Hafsin melihat globalisasi adalah tantangan bagi agama untuk terus berbenah. Globalisasi, menurut Titaley, adalah ranah di mana agama bisa melakukan dialog dan respon terhadap modernitas. Sementara Ulil menekankan pada pentingnya memanfaatkan globalisasi sebagai ruang terbuka di mana agama bisa memasarkan ide-idenya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s