Hermeneutika Ghazalian: Mengaji Kitab Qãnūn al-Ta’wîl

 

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi asy-Syafi’i (1058 -1111) menulis sejumlah karya yang ditujukan tidak hanya untuk memberi respon terhadap perdebatan pemikiran, melainkan juga jawaban langsung terhadap persoalan sosial yang ia hadapi. Dengan keterlibatan semacam itu, al-Ghazali tampak menyadari pluralitas sosial yang tidak mungkin direduksi dalam sikap dan perilaku absolutis.

Pengajian kedua mengenai pemikiran Hujjat al-Islãm al-Ghazali yang diasuh oleh Ulil Abshar-Abdalla (cendekiawan NU) di Yayasan Wakaf Paramadina membahas kitab Qãnūn al-Ta’wîl. Kitab ini, menurut Ulil, memuat sejumlah argumentasi yang bisa dijadikan pedoman dasar dalam setiap bentuk upaya pembacaan Kitab Suci. Qãnūn al-Ta’wîl adalah buku yang berisi gagasan-gagasan orisinal al-Ghazali mengenai cara membaca dan menafsirkan Kitab Suci atau kita bisa menyebutnya sebagai hermeneutika Ghazalian.

Ulil Abshar-Abdalla memulai pemaparannya dengan menyodorkan cara baca al-Ghazali terhadap situasi sosial di mana ia hidup. Dalam kitab al-Mustasyfã, al-Ghazali mengurai fakta pluralitas sosial yang disikapi secara beragam. Ada dua kelompok besar yang memberi sikap berbeda terhadap pluralitas pemikiran: mushawwibah dan mukhaththi’ah. Kelompok pertama (mushawwibah) adalah mereka yang menyatakan bahwa jika terjadi pluralitas pendapat, maka semuanya benar. Kalaupun hanya ada satu yang benar, namun yang benar itu kita tidak tahu. Kelompok pertama ini mewakili kelompok toleran yang cenderung diamini oleh al-Ghazali sendiri. Kelompok kedua (mukhaththi’ah) justru datang dengan argumen bahwa jika ada pluralitas pemikiran, maka semuanya salah, kecuali satu. Kelompok ini mewakili kelompok absolutis.

Menurut Ulil, perdebatan-perdebatan di masa al-Ghazali memiliki ciri khas yang berbeda dengan masa sekarang. Di masa itu, perdebatannya adalah di seputar metafisika. Hal ini adalah kelanjutan semata dari debat-debat teologis antara Islam dan Kristen sejak awal kemunculan Islam. “Orang Islam mengajukan kritik terhadap keyakinan Kristen yang dinilai tidak murni monoteis (tauhîd) karena mengandaikan ada tri-tunggal ketuhanan,” kata Ulil. “Tapi,” lanjut Ulil “kelompok Kristen balik mengajukan gugatan dengan mengatakan bahwa justru Islamlah yang tidak murni monoteis karena mengandaikan sifat Tuhan yang begitu banyak, sedikitnya ada dua puluh sifat Tuhan.” Serangan dari kelompok Kristen inilah yang memaksa para filsuf dan teolog Islam masuk ke dalam perdebatan metafisika.

Isu utama yang berkembang saat itu adalah mengenai bagaimana menjembatani antara akal dan wahyu. Ulil mengurai lima kelompok yang dikemukakan al-Ghazali dalam Qãnūn al-Ta’wîl. Pertama, kelompok yang menempatkan wahyu di atas akal (tajrîd al-nadzãr ilã al-manqūl). Kelompok ini adalah kelompok tekstualis yang sebenarnya sangat aman dalam beragama, sebab mereka bisa langsung menerapkan seluruh ajaran agama sesuai dengan teksnya. Tetapi, menurut al-Ghazali, kelompok ini tidak ideal.

Kedua, kelompok yang menempatkan akal di atas wahyu (tajrîd al-nadzãr ilã al-ma’qūl). Kelompok ini, menurut Ulil, berisi para filsuf dan pemikir spekulatif. Para filsuf yang dimaksud oleh al-Ghazali terutama adalah al-Farabi dan Ibn Sina. Ibn Sina, misalnya, menyatakan bahwa sangat tidak mungkin diterima konsep mengenai kebangkitan jasad, yang ada adalah kebangkitan ruhani. Adapun gambaran tentang surga dan neraka yang tampak sangat terkait dengan dunia materi itu hanya cara al-Qur’an untuk berbicara kepada kelompok sosial kebanyakan. Pandangan para filsuf ini ditentang keras oleh al-Ghazali. Al-Ghazali menyatakan bahwa implikasi pemikiran orang seperti al-Farabi dan Ibn Sina adalah meragukan kebenaran dan kejujuran Nabi. Jika perkataan Nabi bisa ditafsirkan tidak sesuai dengan apa adanya, maka Nabi potensial tidak berkata jujur.

Kritikan keras al-Ghazali terhadap kelompok filsuf ini tampak kurang konsisten dengan konsep lima wujud kebenaran yang ia kemukakan dalam Faishãl al-Tafriqah. Seratus tahun kemudian, Ibn Rusyd, menurut Ulil, menggugat al-Ghazali persis karena al-Ghazali menggunakan cara pandang orang awam untuk mengkritik para filsuf. Al-Ghazali abai terhadap kebenaran para filsuf dan melakukan penghakiman dengan standar kebenaran awam.

Ketiga, kelompok yang berada di tengah tetapi cenderung dekat kepada kelompok yang mengagungkan akal. Menurut Ulil, kalangan rasional Mu’tazilah bisa masuk dalam kelompok ini.

Keempat, kelompok yang berada di tengah tetapi cenderung dekat dengan kelompok yang mengagungkan wahyu. Sunni secara umum bisa dimasukkan ke dalam kelompok ini.

Kelima, kelompok yang berada di tengah-tengah. Al-Ghazali menganggap kelompok kelima ini adalah kelompok yang paling ideal dan berusaha ia capai. Kelompok inilah yang disebut sebagai kelompok terbaik. Al-Qur’an menyatakan kuntum khaira ummah ukhrijat li al-nãs (kalian adalah ummat terbaik yang hadir di tengah-tengah manusia). Kelompok tengah ini juga disetujui oleh al-Qur’an: wa kadzãlika ja’alnãkum ummatan wasatan (dan demikianlah kami menciptakan kalian sebagai ummat moderat).

Namun begitu, menurut al-Ghazali, justru kelompok kelima inilah yang paling susah. Al-Ghazali sendiri mengklaim berada pada kelompok ini. Namun, menurut Ulil, al-Ghazali justru lebih tepat ditempatkan pada kelompok keempat bersama kelompok al-Asy’ari dan Sunni secara umum. NU di Indonesia, bagi Ulil, juga cenderung berada di kelompok keempat, yakni tengah kanan.

Posisi tengah yang dipilih oleh al-Ghazali bisa ditemukan dalam fakta gugatan dia terhadap para filsuf. Namun pada saat yang sama dia juga mengkritik para fatalis dan tekstualis. Meski wahyu dinggap sebagai sumber kebenaran, namun bukan berarti akal diabaikan. Al-Ghazali justru menganggap bahwa akal adalah pihak yang merekomendasikan agama. Akal memiliki posisi penting, karena hanya akallah yang bisa memberi justifikasi kebenaran agama dan wahyu. Al-Ghazali menyatakan wa man kadzdzaba al-aqla fa qad kadzdzaba al-syar’a (siapa yang mendustakan akal maka sebenarnya ia mendustakan agama).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s