Banjir

 

I

Kalau aku mengukir gemuruh banjir

akankah kau sebut itu indah sajak?

sampai saat aku bingung

–makna akan sajak

 

II

Ada banjir menggenangi bumi

Mereka adalah anak-anak tuhan

yang dijaga para malaikat dan nabi

menunggu giliran

berkejaran menjemput nyawanyawanyawa

Mereka sangat menyukai nyawa

Sebab nyawa

adalah nyawa manusia

yang menyawai manusiamanusia

berlomba merampas nyawadinyawa

 

Dalam genangan banjir

bumi terpekur insyaf menunggu setiap detik kabar langit

tentang ritual saudara tak bersaudara

Dan jalan pejalan kota

menjadi protokol sudirman-thamrin

mencari jejak surga

di antara puingpuing neraka

 

III

Aku simak kabarmu, kota

tentang tamumu, banjir, kota

Kau mengungsikan sebahagian  penghunimu

Bukan karena baik budimu

–atau karena kau gembira?

–mungkin takut?

–atau malah apa?

Tapi tamumu terlalu berlebih

Mereka kurang diajar

Mengusikmu tengah malam dan pagi buta

Dan kau menampungnya sementara kau terlelap

Itulah sebabnya banjir dengan mudah mengambil milikmu

Hartamu ludes

Istrimu aus

Anak gadismu mengasap

Yang tersisa hanya dingin malam

seperti dulu kau punyai

sebelum cahayacahaya itu menjadi istri mudamu

 

IV

Marilah kemari

mengungsi bersamasama

Bawalah suami-istri-ayah-ibu-anakanak

Tanah ini negeri air

istana raja lele dan cumicumi

Jangan lagi hiraukan setiap jengkal tanah

Jeritkan zikir para kekasih

Berderap menuju matahari

sampai saat tubuh kita meleleh

 

V

Apa yang akan kau katakan tentang banjir

ketika ia benar-benar membanjiri setiap titik kesadaranmu

apakah kau akan mengucap naudzu bi…

atau hanya sekedar ck ck ck

atau malah televisi kau matikan

lalu menghayalkan sebuah negeri

yang dilanda banjir bandang peluang bisnis?

 

“adakah implikasi politisnya?”

aku dengar pikiran para raksasa bergumam

 

VI

Seorang anak raksasa bertanya kepada bapaknya

tentang tugas mulia seorang raksasa

“tugas mulia seorang raksasa yang harus ditempuh dengan jalan suci

adalah menyelamatkan sebuah nyawa”

“sebuah nyawa?”

“ya”

“hanya sebuah?”

“tepat”

“seperti yang tadi ayah lakukan?”

“ng…ng”

“menyelamatkan nyawa ayah?”

Anak raksasa kemudian bertanya

tentang perbuatan tercela seorang raksasa

“perbuatan tercela seorang raksasa adalah menghilangkan sebuah nyawa”

“sebuah nyawa? Hanya sebuah?

“hu, u”

“seperti ayah yang kencing hari ini”

“kencing?”

“ya, kencing menyelematkan ayah dari kembung dan kematian

tapi bukankah banjir itu sebab kencing ayah?”

“kencing?!”

“ya, ayahkan raksasa”

“ha ha ha”

Calon raksasa kemudian terlelap

Raksasa kemudian menyusul

 

VII

Hari ini kau harus protes kepada hutan

–atau siapapun yang mengadakan banjir

Tuhankah, hujankah, tanah rendahkah, pengurutan tanahkah

bangunanbangunan kacakah, pemanasan globalkah, atau apalah

 

Kenapa banjir mesti menimpa permukaan tanah

Kenapa tidak di udara saja

Kenapa dari tanah sampai dua tiga meter ke udara

Kenapa tidak melayanglayang di angkasa saja?

Banjir konvensional sungguh merugikan para cebol

sedang raksasa asyik saja bermain air semata kakinya

 

Mandar, medio Februari 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s