Cinta Seuntai

 

Sebenarnya rasa ini telah ada sejak lama sekali

Hanya saja ada tirai besi berjejal di hadapan

Dan aku tetap di sini sejak lama sekali

Bahkan untuk sekedar melihat hatimu

aku harus mencopot mataku hingga buta

Udara menjadi gelap dan aku gila

Dan engkau tetap di sana

 

Aku mencinta bara api yang diam

sebelum hilang mengasap

Aku merindu asap membubung

sebelum hilang mengudara

Aku memuja udara semesta

sebelum hilang menggema suara tuhan

Aku menggila tuhan

sebelum kau menjadi tuhan

 

Kusebut bulan matahari dan gemintang

Segala indah menjelma senyummu seketika

Kalau boleh aku berteriak

kan kugelegarkan guntur seantero angkasa

Namamu namamu di hatiku

Bahkan darah mewarta berita langit

tentang gundah di sudut jiwa

 

Siapa yang mampu menetapkan salah

kepada jiwajiwa di angkasa raya

Mereka telah terbang dari bintang ke bintang

mendefinisikan sebuah hasrat mencinta

Cintalah yang telah menjadikan malam pagi

terang berkicau burung

 

Ketika jiwa meronta

laksana air ia samudera

berbuih sepanjang zaman

Isyaratisyarat gelombang

menghempas cadas menjadikannya pasir

Maka daya apalagi yang akan akan menipu jiwa

tatkala cinta bersinar matahari di relung sukma

 

 

Dan aku telah mencintaimu dengan air mata

yang kerontang sebelum berderai

 

Mandar, Maret 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s