Nyanyian Sujud

 

masih kau ingatkah rencong patah

yang kau letakkan di tanah ini?

jejaknya telah pergi jauh

mengalir seperti air mata

hari ini aku mengajakmu menggoreng tubuh anak-anak

besok kita sembahyang bersama

 

pintuku sebuah batu

ratuku menjadi air

permainan air pada batu

saat kembara malam berteriak nyinyir

tak kau dengarkah airkah air mataku

seperti apakah hati

hingga kau bersidikap saja

samadi ilalang telah pula gosong

dan mata air mencapai matahari?

 

masih kau ingatkah nisan kayu

yang kau tancapkan di tanah ini?

jejaknya telah pergi jauh

mengalir seperti lubang-lubang kuburan

hentikan tahiyat terakhir

sebelum serpihan nyawa

mengumpulkan kembali ceceran tubuh di bali

 

biarkan aku menulis puisi

dan darah yang mengalir

telah menyiksaku untuk tetap bangkit

berjalan dengan kaki telanjang

di atas tahitahi entah siapa

 

samuderaku samudera tujuh tuhan

menghempas seperti birahi

pada gundukan batu tua

yang sebentar kemudian leleh dan hilang

 

masih kau ingatkah darah

yang kau tanam di tanah ini?

jejaknya telah pergi jauh

mengalir seperti melahirkan

dan kau berontak

berteriak kencang sekali

aaaaa………aaaaaa……..aaaaaa

tidak terdengar

sebab rupanya kesunyian lebih bising dari peluru

 

tunjukkan pemilik galau ini

di semua wajah tidak kutemukan ruang

untuk sekedar persinggahan hampa

pagipagi pagipagi telah pergi

cicit bocah burung mati sebelum berkicau

heningpun tak ada lagi

 

Ciputat, November 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s