Ranggas

 

Kau tahu kita di sini hanyalah bayangan yang tampak dan juga akan lenyap seperti angin entah kemana. Kau tahu kita di sini bukan apa-apa. Berapa malam yang telah melewati kita di sini, tak jua satupun yang menganggap kita benar-benar ada. Karena kita adalah bayangan. Seperti pepohonan itu, kita ranggas dan mengering.

 

Sabtu pagi seminggu yang lalu, kuceritakan padamu tentang seorang tua yang datang kemari. Tidak jelas benar apa yang ia tuju. Ia hanya datang, duduk, menangis, lalu pergi. Beberapa saat setelah si tua itu pergi, datang lagi si tua yang lain. Tak jelas juga apa maunya. Ia datang, duduk, merokok, kentut, menangis, lalu pergi. Apa yang mereka maksud dengan menangis? Bahasa apa itu?

 

Pagi tadi, dua tua itu datang lagi kemari. Mereka menangis lagi. Ada apa? Ingin kutanyakan padanya, andai angin dan embun tak membuatku ragu.

 

Ciputat, 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s