Sajak Puisi

 

Akan kutulis puisi ini seindah mungkin. Malam ini begitu kelam. Semuanya serba pekat seperti bayang-bayang purba. Hanya tersisa bias satu dua bintang mengerdip malu-malu di sela-sela awan yang siap tumpah ke bumi. Inilah titik tersunyi dari satu sisi kehidupan. Semilir angin sepoi malam menerpa wajah, mengantarkan titik air. Basah.

Puisiku runtuh setengah jadi, tapi kurasakan kelenjar berpikirku telah berhenti bekerja. Tanganku sekarang hanya memegang pulpen, memutar-mutarnya di antara jari jemari, mengantarnya kemulut, kugigit ujungnya. Aku bingung, apa lagi yang hendak kutuangkan dalam kertasku? Aku telah menulis dua baris puisi sebagai ungkapan rasa. Tapi aku merasakan masih ada yang tersisa. Puisi sepenggalku itu belum mewakili seluruh apa yang berkecamuk di hatiku. Aku baru mengungkapkan riak-riaknya, tapi belum sampai pada kedalaman gelombangnya.

 

Ciputat, 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s