Sketsa Kelahiran

 

 

Perjalanan hidup yang membentang dari a ke z adalah fatamorgana garis nasib menuju surgawi abadi. Adakah yang lebih indah dari nostalgia? Semuanya telah menjadi emas tumpukan sampah.

Aku ingin membuat puisi—seharusnya aku membuat puisi. Tapi karena kata-kataku mengudara, serupa langit ia membiru, maka kuciptakan semesta buat kau bagi. Dan bintang yang tak lagi bisa menyapa, hanya saja berkedip, sangat mengerti hembusan darah di antara stasiun-stasiun bisu para taruna. Kau lihatkah angin itu menyapa ujung-ujung nyiur? Bahkan pori-porimu pun gagap. Udara tak bersayap terbang seputih hati ke kaki langit. Barangkali usah kuceritakan air, ia telah lama batu. Pada tumpukan samadinya, ia terkubur di awan-awan, tanpa bisa engkau kenali.

Dan andai saja engkau dengar serunai Rumi, engkaupun akan ekstase akan rindu dendam pada bunda. Kenalilah bunda, sebelum saatnya engkau tercerabut dari akarmu.

Malam itu aku, kau, kita bicara tentang bunda, perempuan di titik nol asal mula, yang senyumannya lebih lembut dari mawar; lebih syahdu dari biola; lebih indah dari pelangi. Kau ingat bunda? Sepuluh tetesan darahnya adalah samudera. Kau kenal samudera? Adalah cinta semesta. Hari itu jerit penghuni neraka menjadi angkasa. Kau menangis dalam bayangan Israfil. Bundamu tergeletak tanpa surga.

Dua puluh enam april suci delapan tiga kau tersungkur dari nirwana. Tangisanmu adalah tawa setiap kepala. “Inikah alam? Inikah dunia? Inikah hidupku?” Kau kini berada di terjalan-terjalan nasib. Kau tak dapat mengingat apa-apa lagi tentang belai lilitan halus usus Tuhan. Berjuta kerikil tajam samurai mengukir tubuh dan kesadaranmu.

Kaukah itu si mata elang? Runcing tatapanmu, matahari terbelah tiga—atau empat.

Di sini aku yang terpukau, terkubur di sisa senja. Tak ada cahaya. Tak ada matahari. Senyap. Suara-suara telah pula terkubur. Semuanya menjadi bayangan. Persenggamahan tulang-belulang di dasar bumi menjadi kidung-kidung malam.

Gadis senyum dikulum, aku gila. Berdiri kau bertahta jiwa. Hamparan firdaus wajahmu sejuk sejuta pesona. Tanpa kau tengadahpun, si kerontang ini telah mencipta taman mawar aneka warna, sebagai pemujaan hamba pecinta. Terimalah sujud-sujud ini. Nikmatilah sesaji-sesaji ini. Mantra-mantraku Himalaya. Hadirlah sepanjang samadi. Aku menunggumu di setiap pintu waktu.

Namamu urapan malaikat. Selimut salju taman eden. Dan Dewi Amor pun bersabda. Dan dunia pun mencinta. Kau melangkah selembut air. Ayunan tanganmu belai kasih Maryam. Puja-puji bidadari mengantarmu ke singgasana Maharani. Kau bertahta sebagai Prameswari. Semesta simpuh penjuru jiwa adalah wangi kudus agungmu. Dan aku memujamu sesaat sebelum aku ada.

Baris-baris selanjutnya telah tumpah dari langit menggambar sketsa kehidupan. Gores-garis, corat-coret, morat-maritnya riuh-redah lalu-lintas udara. Bait-baitku meledak seperti kematian yang diusung mayat-mayat yang hilang. Dan roh-roh buta itu mencari sisa senja di antara rongsokan malam. Adakah kelam? Dimanakah pekat? Aku rindu ibuku. Aku ingin ari-ariku. Aku ingin ari-ariku. Aku ingin ayahku jatuh hati lagi kepda ibuku.

Dalam tapal batas perenungan ini, pada titik air mata terakhir, jadikan aku lilinmu di antara matahari yang mengantarmu ke jejak Tuhan. Percikkan api segala rahim, hingga aku tiada: menjadi dirimu.

Seperti tangis bayi, damailah dalam jiwa.

 Ciputat, 25 April 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s