Bintang Laut

Koran Tempo, 13 Desember 2009

AKU kembali ke pantai ini. Mengingatmu, perempuan laut.

Akan selalu kuingat ketika di siang hari menjelang asar kita tidak pernah sabar menanti air surut ke tengah. Ketika garis pantai semakin menjauh, kita akan berlari ke tengah. Bergabung bersama anak-anak remaja yang mulai berkumpul. Ada yang memasang tiang gawang. Yang lain membagi diri menjadi dua regu. Seperti biasa, ketika permainan bola sore telah dimulai, kita akan berjalan mendekati pantai yang semakin jauh. Karang-karang aneka bentuk mulai muncul ditinggal laut yang menyusut. Kamu akan mulai mengumpulkan kerang-kerangan tak berpenghuni. Memungutinya. Membuntalnya di baju. Bajumu menjadi basah. Butiran-butiran pasir melekat di kulit perutmu yang tersingkap.

Pernah juga aku menemukan bintang laut yang tersesat. Dia terdampar dan tak sempat memburu air yang keburu surut. Aku memberikannya kepadamu. Kamu tak mau memegangnya. Kamu tidak suka kasar kulitnya. Sementara tentakelnya yang membuka-tutup menakutimu. Tapi aku suka. Bentuknya yang persegi lima dengan masing-masing jari sama panjang selalu menarik perhatianku. Aku katakan ambillah. Kita akan susah menemukannya di pagi hari. Bintang laut tidak menyukai pasir. Mereka hidup di air dangkal berkarang. Kamu bertanya kenapa bisa begitu. Aku tidak pernah bisa menjawab.

Satu-satunya yang aku tidak suka dari bintang laut adalah baunya. Bintang laut yang kutemukan itu aku bawa pulang. Kamu menyuruhku melepasnya ke laut. Aku bilang akan kupasang di dinding dekat dipan tidurku. Kamu bilang apa kamu tidak takut? Aku bilang aku akan mengusapnya menjelang tidur. Dan pada hari itu aku terbangun dengan bau busuk menyengat dari bintang laut pujaan hati. Aku baru tahu bintang laut bisa mati. Baunya busuk sekali.

Di sore yang lain ketika kita berlari-lari mengejar bunga rumput landak yang menggelinding di atas pasir pantai yang panas, kamu menertawakan ceritaku. Aku bilang bau sekali. Kamu semakin kencang berlari dan tertawa. Sekuntum kamu pegang dan letakkan di telapak tangan mungilmu. Kamu angkat ke atas dan bunga itu tertiup angin. Kembali menggelinding di atas pasir kering. Bunga itu menggelinding seperti tak menyentuh pasir. Tidak ada butiran pasir yang melekat padanya.

Tiba-tiba kamu berisik memanggil-manggilku . Kamu menemukan bintang laut lagi. Bukan, itu bukan bintang laut. Kamu katakan itu bintang laut. Jari-jarinya ada lima. Aku katakan bukan bintang laut. Kamu katakan jari-jarinya sama panjang. Aku katakan itu bukan bintang laut. Bintang laut memiliki kulit kasar. Tentakelnya kuat. Sementara yang kamu tunjukkan itu berkulit lembut. Jari-jarinya tidak kuat dan tidak kokoh, malah memanjang dan meliuk. Aku yakin itu bukan bintang laut, tapi belut yang terkutuk. Mungkin dulu mereka adalah lima belut bersaudara yang nakal. Ibunya mengutuk dan mereka menyatu. Lihatlah masing-masing jarinya seperti ingin menjauh dan saling berpisah. Aku tidak suka.

Kamu berlari mendapati ibumu yang sedang mengangkat ikan-ikan kering yang dijemur sejak pagi. Kamu tidak ikut mengangkat ikan. Kamu mengambil adikmu dari gendongan ibumu. Tubuh mungilmu berjuang menggendong bayi. Bayi itu tenteram dalam gendonganmu. Tangan-tangan kecilnya melingkar ke lehermu. Sebagian rambutmu menutupi rambutnya. Bayi itu menatap jauh. Kosong ke arahku.

Sayup-sayup terdengar orang mengaji dari surau. Suaranya serak. Sesekali batuk. Seorang nelayan bergegas mematikan radio di atas sandeq yang sejak tadi dia cat. Lagu Passayang-sayang berhenti terdengar digantikan suara orang mengaji. Nelayan itu kemudian mengumpulkan kuas dan kaleng-kaleng cat. Dia masukkan ke ember dan dia simpan di perut sandeq. Memanggul dayung dia pulang ke rumah. Tangannya menggantung ke dayung. Radio dia tinggal di sandeq. Di antara suara orang mengaji, dia menyiulkan Sayang-sayang. Debur ombak mendekat. Malam mulai pekat.

Di malam-malam panjang dengan debur ombak dan suara para ibu menyanyi kita tumbuh meremaja. Di sore-sore hari kita tetap ke laut. Berlari mengejar garis pantai yang menyusut ke tengah. Kamu masih mengumpulkan kerang-kerang kecil. Kamu buntal di bajumu. Tak kamu hiraukan pasir yang menempel di kulit perutmu yang tersingkap. Sebagian bajumu basah. Menempel di kulit susumu yang mulai tumbuh.

Tak henti-hentinya kita berdebat tentang benda-benda laut. Benda-benda laut yang itu-itu juga. Benda-benda laut yang sangat kita akrabi. Kamu bilang laut menyusut karena pengaruh bulan. Aku bilang bukan. Kamu bilang kenapa. Aku bilang aku ingin memanjangkan rambut. Seperti rambutmu. Aku ingin rambutku tergerai ditiup angin darat dan angin laut. Kamu bilang angin darat dan angin laut tidak bertiup bersamaan. Aku bilang aku senang melihat rambutmu sebahu tergerai ditiup angin. Kamu menggandeng tanganku pulang ketika dari surau yang jauh terdengar orang mengaji. Melepasnya sebelum tiba di batas pasir. Kamu bergegas menghampiri ibumu yang sedang merapikan amparan bambu tempat menjemur ikan. Dari jauh adikmu mendekat. Menggelenjot manja di pahamu.

Umur kita belasan ketika pertama kali aku berlayar. Enam bulan di laut. Ikut rombongan yang dilepas seisi kampung. Kamu senang melihatku memanggul dayung. Kamu tertawa melihatku meminum air yang sudah dijampi imam surau. Kamu mencubit lenganku ketika kuucapkan jangan nakal. Matamu yang selalu riang mendadak kosong. Aku melambai. Kamu berjalan pulang.

Di malam purnama ketika aku pulang, orang-orang ke pantai. Semua orang ke pantai. Kita belum bertemu. Para lelaki memanggul pisang bersisir-sisir. Mentah. Perempuan-perempuan datang bertudung bakul yang berisi jepa. Ranting-ranting bakau kering telah ditumpuk di pantai. Ada juga tumpukan sabut kelapa. Di sisinya, cakalang, bulalia, dan layang berkeranjang- keranjang. Malam itu ada pesta.

Orang-orang mulai menyalakan api tanpa ada komando. Tumpukan ranting bakau dibakar dan menjadi unggun besar. Sabut-sabut kelapa juga dibakar dan disusun dengan menggunakan kulit batang pisang yang basah. Di atasnya dijejer pelepah kelapa basah yang telah diarut. Cakalang, bulalia, dan layang diletakkan di atasnya. Asap sabut kelapa memanggangnya. Pisang-pisang mentah disusun berjejer di pinggiran unggun yang sebagian rantingnya mulai mengarang. Rontok.

Suara kecapi terdengar dipetik oleh entah siapa. Dan orang-orang mulai menyanyikan Wattu Timur di Pamboang:

Wattu timur di pamboang. Di wattu marrang bulang
Soremi pobau. Pambawa angittimur lauq
Asi tanissi-tanissiqna naola bunga pute
Di tunu tangnga bongi mua marrangi bulan

Orang-orang menari dan bernyanyi Buraq Sendana. Pesta mulai meriah. Orang-orang memakan ikan dan pisang, juga jepa. Lagu sedih To Menjari Luyung tidak mengurangi keriangan pesta. Sampai pada lagu To Lumamba Sumobal, aku tahu kamu tidak datang. Aku tidak melihatmu. Ke manakah kamu? Ke siapapun aku tidak berani bertanya.

Di langit, purnama masih terang. Unggun mulai meredup. Orang-orang mulai beranjak pulang. Kulit-kulit pisang yang gosong bertebaran bersama tulang-belulang ikan-ikan bakar. Perempuan-perempuan berjalan pulang bergerombol menenteng bakul yang kosong. Aku mendekati beberapa orang yang masih bertahan. Mereka merubung pemetik kecapi. Pusuq Anjoro dan Namalai Tongang Dami masih mereka dendangkan. Aku berharap ada yang bercerita tentangmu. Tapi mereka terus bernyanyi. Lagu terakhir mereka selesaikan di perjalanan pulang. Aku tetap sendiri. Ke manakah kamu?

Malam itu dan malam-malam panjang lainnya mengiringiku tumbuh dewasa. Sendiri. Memendam pertanyaanku sendiri.

Sore, setelah lima puluh dua tahun kehilangan kamu, aku kembali ke pantai ini. Ke pantai kita. Tidak ada yang benar-benar berubah. Bunga-bunga rumput landak masih menggelinding di atas pasir kering tertiup angin. Pantai kita, seperti yang dulu, masih bergerak ke tengah di sore hari. Ada sedikit orang tua mengajari anaknya yang masih kecil bermain layang-layang. Tidak ada remaja yang bermain bola. Ketika matahari di kejauhan semakin mendekati ujung laut, suara orang mengaji dari surau mulai terdengar. Suara orang mengaji itu lebih merdu dari yang dulu. Lebih banyak. Bersahut-sahutan. Ramai. Meriah. Bising. Tidak ada lagi batuk di antara suara orang mengaji itu.

Aku menemukan bintang laut dengan jari-jari lembut memanjang. Cucuku menyukainya. Aku katakan, selain yang ini, ada bintang laut lain yang kulitnya tebal dan kasar. Jarinya-jarinya juga lima. Lebih pendek dan kokoh. Aku melepas bintang berkulit lembut itu ke laut. Ia berenang di antara kerikil karang dan menghilang.

Garis pantai mulai mendekat. Orang-orang pulang. Aku mengikuti tarikan tangan cucuku yang mengajakku bergegas pulang. Pantai tengah laut mulai digenangi air. Seorang perempuan tua bergegas melepas bintang laut berjari pendek dan kasar ke laut. Di belakangnya menunggu cucunya mengajaknya pulang.

Kalibata, 24 November 2009


Saidiman tinggal di Jakarta. Giat di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dan Jaringan Islam Liberal.

KOSAKATA MANDAR

  • Sandeq, perahu bercadik dua.
  • Passayang-sayang, lagu yang dinyanyikan spontan, semacam berbalas pantun.
  • Jepa, makanan yang terbuat dari singkong.
  • Wattu Timur di Pamboang. Waktu timur di Pamboang. Di waktu terang bulan. Para nelayan menepi. Membawa angin timur laut. Sisiknya berkilau-kilau berlapis bunga putih. Dibakar tengah malam. Di waktu terang bulan.
  • Buraq Sendana, Bunga Cendana (lagu).
  • To Menjari Luyung, Yang Menjadi Duyung (lagu).
  • To Lumamba Sumobal, Yang Berlayar (lagu).
  • Pusuq Anjoro, Pucuk Nyiur (lagu).
  • Namalai Tongang Dami, Yang Akan Pergi (lagu).
  •  

Advertisements

2 thoughts on “Bintang Laut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s