Menyoal Perang Stigma

Sihar Harapan, 20 September 2010

Membakar Alquran dengan maksud apa pun patut dikutuk.Rencana aksi itu akan dilakukan oleh sejumlah orang yang menamakan diri Dove World Outrech Center di Amerika Serikat. Meski Terry Jones membatalkan rencananya, tetapi sebuah kelompok kecil di negara bagian Ohio benar-benar menjalankan aksi pembakaran tersebut.

Tragedi 11 September dan aksi terorisme lainnya memang menyakitkan. Ribuan jiwa secara semena-mena tiba-tiba menjadi korban atas kesalahan yang tidak mereka perbuat. Jutaan orang trauma dan sebagian besar lainnya dirundung rasa waswas. Akibatnya, sangat jauh. Sampai sepuluh tahun setelah tragedi, ekonomi Amerika Serikat tidak pernah benar-benar pulih. Di Bali, pascateror bom 2002, industri pariwisata dan ekonomi Bali belum kembali seperti sedia kala.
Penggunaan simbol Islam dalam aksi teror menjadikan agama ini sebagai tersangka utama. Gerakan anti-Islam bangkit di Amerika Serikat dan Eropa. Selain rencana pembakaran Alquran, sebelumnya diselenggarakan sejumlah lomba karikatur Muhammad sebagai teroris. Geert Wilders bahkan mem­buat film berdurasi pendek, Fitna, yang menunjukkan kebengisan para pengkhotbah muslim di pelbagai negara.

Bangkitnya gerakan anti-Islam di dunia Barat memang tidak lepas dari menguatnya semangat anti-Barat di dunia muslim. Jika di Barat sema­ngat anti-Islam dilakukan dalam bentuk simbolis: kartun, film dan pembakaran Alquran, maka di dunia muslim sikap anti-Barat dilakukan secara masif melalui aksi-aksi ke­kerasan.

Sentimen anti-Barat juga sangat tinggi di dunia Islam. Kedutaan Amerika Serikat, Inggris, dan Israel adalah tempat-tempat yang paling sering dijadikan target demonstrasi di dunia Islam. Di Indonesia, misalnya, pembakaran gereja dan pelarangan ibadah bagi kalangan Kristen masih sangat tinggi setiap tahun. Khotbah-khotbah anti-Barat berlangsung sepanjang hari di pelbagai masjid.

Pada kondisi semacam ini, berbalas sentimen bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi ketegangan. Apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Barat yang anti terhadap Islam sebenarnya adalah bentuk simplifikasi persoalan. Memang benar, ada orang Islam yang melakukan aksi teror, baik melalui bom, pembakaran gereja, pengusiran, dan sejumlah propaganda kekerasan, tetapi bukan berarti secara esensial Islam adalah agama kekerasan. Jauh lebih banyak umat Islam yang menginginkan hidup harmonis dengan penganut agama lain. Jauh lebih banyak umat Islam yang mengutuki kekerasan.

Indonesia layak menjadi wakil Islam di dunia. Negara ini memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Fakta bahwa kelompok-kelompok radikal tidak pernah memeroleh dukungan politik signifikan di parlemen menunjukkan bahwa gagasan radikalisme dan kekerasan sangat tidak digemari mayoritas muslim Indonesia.

Tentu saja, masyarakat muslim marah terhadap tindakan sewenang-wenang Amerika Serikat menyerang Irak dan Afganistan, tetapi bukan berarti umat Islam melegalkan penggunaan ke­kerasan secara membabi buta. Gerakan radikal dan ke­kerasan, betapapun maraknya, sebetulnya tidak memperoleh dukungan publik signifikan. Gerakan itu adalah gerakan pinggiran yang sayangnya memang dilakukan berulang-ulang.

Gerakan Antikekerasan

Dalam masyarakat muslim sendiri muncul gerakan besar untuk melawan segala bentuk aksi kekerasan. Mestinya, yang dilakukan oleh mereka yang anti-Islam adalah bersama-sama dengan umat Islam pro perdamaian mengampanyekan gerakan anti-kekerasan. Membakar Alquran sama de­ngan menafikan gerakan besar umat Islam yang pro perda­maian.

Di samping itu, masyarakat muslim sendiri mesti menahan diri untuk melakukan aksi anti-Barat secara berlebihan. Barat, sebagaimana Islam, bukanlah entitas tunggal. Memang ada gerakan anti-Islam di Barat, namun gerakan pro perdamaian jauh lebih besar. Ketika Amerika Serikat dan sekutunya hendak me­nyerang Irak dan Afganistan, demonstrasi-demonstrasi besar anti-perang justru terjadi di jalan-jalan utama Eropa dan Amerika Serikat. Inisiatif untuk menyebarluaskan gagasan perdamaian juga datang dari negara-negara Barat.

Selain meningkatkan semangat anti-Barat, rencana pembakaran Alquran sebenarnya menambah beban para pegiat perdamaian di dunia Islam sendiri. Selama ini, terjadi stigmatisasi yang luar biasa besar dari kalangan radikal terhadap gerakan Islam damai dan toleran. Umat Islam yang memperjuangkan gagasan to­leransi dan perdamaian acap kali dianggap sebagai bagian dari propaganda Barat untuk melemahkan Islam.

Demikian sebaliknya. Gerakan anti-Islam secara langsung mengganggu dan menghalangi gerakan pro perdamaian. Gerakan anti-Islam menuding mereka yang pro perdamaian sebagai bentuk pembangkangan dan kurangnya nasionalisme.

Perang tidak pernah membawa keuntungan bagi siapa pun. Yang kalah jadi arang, yang menang jadi abu. Amerika Serikat dan sekutu­nya memang memenangi perang di Afganistan dan Irak, tapi masyarakatnya tidak pernah benar-benar aman dari aksi teror. Para teroris memang berhasil melakukan aksi bom, tetapi masyarakat muslim menjadi korban stigma.

Tidak mudah menjawab bagaimana menghentikan sa­ling anti ini. Kita bisa melakukan penolakan keras terhadap mereka yang anti terhadap kita. Tetapi semua itu tidak cukup. Kita mesti berbesar hati mengambil inisiatif untuk menghentikan sikap anti terhadap suatu bangsa secara pukul rata. Tidak ada satu bangsa yang secara esensial jahat. Membenci suatu bangsa hanya karena ada sebagian kecil mereka yang jahat bukanlah tindakan terpuji. Mari kita kutuk para pembenci dengan tidak membenci!

Advertisements

2 thoughts on “Menyoal Perang Stigma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s