Pesan Kebebasan Obama

Dimuat di Koran Tempo, 13 November 2010

Ada kutipan pidato Obama di Universitas Indonesia yang patut direnungkan. “Prosperity without freedom is just another form of poverty.” (kemakmuran tanpa kebebasan hanyalah bentuk lain dari kemiskinan). Kutipan itu hendak menegaskan bahwa kebebasan memiliki peran kunci dalam pembangunan demokrasi yang sedang kita jalankan. Penekanan ini pernah diulas oleh peraih Hadiah Nobel, Amartya Sen, dalam “Development as Freedom”. Bagi Sen, kemakmuran atau kekayaan tidak punya arti apa-apa tanpa kebebasan. Uang dan harta berlimpah hanya akan menjadi pajangan bila kita tidak diberi ruang untuk mengekspresikannya.

Tiga isu
Pada pidato itu, Obama menyoroti tiga isu: pembangunan, demokrasi, dan toleransi beragama. Ketiga isu itu sebenarnya memiliki benang merah, yakni kebebasan. Pembangunan ekonomi hanya mungkin dilakukan dalam suasana kebebasan. Cina sering disebut sebagai contoh bagaimana kebebasan secara cepat mendatangkan kemakmuran. Ruang kebebasan ekonomi yang mulai terbuka dalam 20 tahun terakhir di Cina menjadikan negara itu sebagai negara yang paling diperhitungkan pascadominasi Amerika Serikat.

Fareed Zakaria dalam “The Post American World” menyatakan bahwa saat ini dominasi Amerika Serikat sudah tidak lagi tampak dalam banyak bidang, terutama ekonomi. Merosotnya dominasi itu bukan semata-mata karena AS mundur, melainkan karena yang lain berkembang pesat. Ketika AS dan Eropa mengalami pertumbuhan minus, negara-negara di Asia justru terus memiliki pertumbuhan positif. Pasca-AS, dominasi kekuatan ekonomi akan tersebar.

Tiadanya kebebasan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Lebih jauh, ketidakbebasan juga membawa kepada kemiskinan. Friedrich A. Hayek dalam “The Constitution of Liberty” dan “The Road to Serfdom” mempertanyakan respons pemerintah Eropa dan Amerika Serikat terhadap Depresi Besar yang menimpa pada 1930-an. Hayek mengingatkan bahwa kemajuan Barat dicapai melalui institusionalisasi kebebasan. Kebebasan terbukti mengantar Barat kepada kemajuan gilang-gemilang. Tidak selayaknya merespons krisis dengan mengembalikan kondisi ketidakbebasan. Justru kebebasanlah yang mesti ditambah.

Pendirian Hayek ini bertitik tolak pada pemahaman bahwa acap kali manusia tidak mengetahui segala hal. Krisis dan realitas yang ada di hadapan manusia adalah misteri. Tidak ada satu orang pun yang secara pasti mengetahui apa yang sedang mereka hadapi. Pada kondisi semacam itu, tak bisa tidak semua orang mesti dibebaskan untuk berinovasi dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Kebebasan membuka ruang bagi sebanyak mungkin kemungkinan penyelesaian masalah. Tanpa kebebasan, peluang untuk sampai pada solusi terbaik akan mengecil. Ketidaktahuan dan keterbatasan menyebabkan kita butuh kebebasan.

Kemajuan Indonesia
Secara khusus, Obama memuji kemajuan yang telah dicapai Indonesia. Gedung-gedung tinggi kini tumbuh bak jamur di musim hujan. Indonesia bahkan masuk dalam G-20, kumpulan negara yang paling diperhitungkan di dunia. Indonesia bahkan menjadi negara demokratis ketiga terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat dan India. Indonesia adalah negara berpenduduk muslim mayoritas yang paling demokratis. Demokratisasi masyarakat muslim Indonesia bahkan jauh melampaui apa yang dicapai Thailand, yang berpenduduk mayoritas Buddha; Filipina, yang berpenduduk mayoritas Katolik; atau Singapura, yang berpenduduk mayoritas Konghucu. Di antara negara-negara ASEAN, Indonesia adalah satu-satunya negara yang masuk kategori “free” menurut versi Freedom House.

Obama mengamati semua itu secara jeli dan kemudian menyatakan bahwa Indonesia akan memiliki peran yang sangat besar pada abad ke-21. Tapi peran besar itu tidak akan pernah datang jika kita masih memiliki persoalan dengan kebebasan. Anugerah kebinekaan yang demikian besar bisa menjadi bencana bila kebebasan masing-masing kelompok dihambat. Indonesia adalah taman subur bagi tumbuhnya segala entitas yang beragam.

Bukan kebetulan, Barack Obama mengutip falsafah Bhinneka Tunggal Ika dua kali. Ia menyadari bahwa Indonesia bukan negeri kemarin sore yang baru belajar mengelola keberagaman. Indonesia dengan ribuan pulau dan ratusan bahasa dan suku ini telah lama hidup dalam keberagaman. Bila hari-hari ini ada ancaman terhadap keberagaman, rakyat Indonesia telah memiliki jawabannya sendiri, yakni Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity). Obama mengingatkan kita bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya falsafah yang pas untuk mengelola keberagaman di Indonesia, tapi juga bisa menjadi instrumen bagi perdamaian dan toleransi di seluruh dunia.

Sebenarnya ide mengenai Bhinneka Tunggal Ika bukan hal baru bagi Amerika Serikat. Unity in diversity adalah fondasi bagi bangunan negara itu. AS adalah negara yang dibangun para imigran. Mereka berasal dari ratusan negara dan bermacam-macam etnis dan ras. Mereka menganut beragam agama. Kesadaran mengenai kebersamaan dalam keberagamanlah yang menyebabkan negara itu bisa dibangun dan tumbuh. Karena kesadaran itu pula, Amerika Serikat terus berkembang seperti sekarang.

Sebenarnya keberagaman memiliki potensi malapetaka, di samping potensi kemajuan. Ia menjadi malapetaka ketika kebebasan tiap kelompok dihambat. Tapi ia bisa menjadi kekuatan yang mahadahsyat bila tiap-tiap pihak bisa menjaga kerukunan. Obama hendak menyatakan bahwa jika negaranya bisa mencapai kemajuan melalui konsep unity in diversity, mestinya Indonesia juga bisa sampai kepada prestasi yang sama melalui konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Advertisements

One thought on “Pesan Kebebasan Obama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s