Kritik atas Demokrasi a la Yusuf Kalla

Sebelumnya dimuat di www.islamlib.com

“Demokrasi bukan tujuan bangsa kita tapi hanya alat untuk mencapai tujuan yaitu kesejahteraan,” demikian Yusuf Kalla. Penyataan itu ia kemukakan pada orasi bertajuk Reviving Democratic Government and Leadership in Global Governance di Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta, 14 Juli 2011. Pernyataan ini menuai kontroversi.

Bagi Kalla, demokrasi bukan tujuan, ia hanya alat. Pernyataan ini memiliki implikasi yang jauh. Kalau demokrasi hanya alat, maka jika tujuan tidak tercapai dengan alat ini, maka ia bisa diganti. Tujuan yang dimaksud adalah kesejahteraan.

Pendapat semacam ini sebetulnya tidak benar-benar baru dari Yusuf Kalla. Banyak aktivis, pengamat, jurnalis, politisi, dan akademisi yang memiliki pandangan senada. Biasanya, pendapat semacam ini muncul sebagai reaksi tidak sabar terhadap kondisi negeri yang dipersepsi tak kunjung makmur. Padahal sekarang kita sudah berada pada masa sistem demokratis. Mereka berharap demokrasi akan membawa kesejahteraan. Mereka risau pada nasib sebagian rakyat yang masih miskin. Mereka galau melihat praktik demokrasi yang memakan biaya sangat besar.

Tentu saja cita-cita masyarakat sejahtera dan makmur itu mulia adanya. Tapi bukan berarti cita-cita untuk mencapai kemakmuran bisa digunakan untuk memberangus kebebasan. Kemakmuran adalah satu hal, kebebasan politik adalah hal lain.

Sebuah percakapan dalam kitab Brihadaranyaka Upanishad cukup relavan untuk direnungkan. Percakapan ini terjadi antara seorang perempuan bernama Maitreyee dan suaminya, Yajnavalkya. Maitreyee bertanya bahwa jika semua kekayaan dunia ini ia miliki, apakah ia bisa mencapai keabadian? Yajnavalkya menjawab, “Tidak.” “Mungkin kamu akan hidup sebagai seorang yang kaya, tapi jangan berharap kamu akan abadi dengan itu,” tegas Yajnavalkya. “Lantas,” kata Maitreyee, “apa yang mesti aku lakukan dengan itu semua kalau ternyata tidak bisa membuatku abadi?”

Cerita ini dikutip oleh Amartya Sen dalam bukunya, Development as Freedom. Menurut Sen, percakapan itu sesungguhnya sedang membicarakan tentang sejauhmana kekayaan bisa menolong untuk memenuhi segala keinginan. Sen menegaskan bahwa apalah gunanya kekayaan kalau semua itu tidak bisa dinikmati? Apa gunannya kemakmuran kalau kebebasan politik dibatasi? Apa gunanya kesejahteraan kalau hak berekspresi dirampas?

Kekayaan, kemakmuran, dan kesejahteraan tentu sangat penting. Tapi kebebasan, terutama kebebasan politik, adalah sesuatu yang tak kalah pentingnya. Memang kebebasan politik atau demokrasi dibangun bukan untuk tujuan yang lain di luar dirinya. Tapi bila kita jeli, dengan mudah kita saksikan begitu banyak bukti masyarakat demokratis yang sekaligus juga adalah masyarakat yang sejahtera. Tapi, sekali lagi, pretensi awal demokrasi bukanlah kesejahteraan, melainkan kebebasan politik itu sendiri. Sebenarnya kemakmuran dan kesejahteraan bisa diraih di luar demokrasi. Cina dan Singapura adalah dua contoh negeri yang relatif makmur dan sejahtera tetapi tidak memiliki sistem kebebasan politik. Arab Saudi adalah contoh lain. Negara ini kaya akan minyak, tapi rakyatnya miskin kebebasan politik dan kebebasan berekspresi. Kalaupun ada implikasi kesejahteraan dari demokrasi, dan itu kerap terjadi, itu hanya berkah kebebasan politik saja.

Apa yang diusulkan oleh Yusuf Kalla sangat berbahaya. Alternatif di luar demokrasi untuk mencapai kesejahteraan bukan tidak ada, melainkan melimpah. Di luar demokrasi ada sistem monarkhi, diktator, teokrasi, dst. Semuanya otoriter, kalau bukan totaliter.

Namun yang lebih membingungkan, tentu saja, adalah bahwa wacana mengenai alternatif bagi demokrasi ini justru datang dari Yusuf Kalla, belum lama setelah ia kalah dalam pemilihan umum presiden demokratis. Dengan pandangan bahwa demokrasi adalah alat, apa jadinya kalau beliau terpilih menjadi presiden dan dengan enteng memberangus demokrasi karena kesejahteraan tak kunjung tiba? Yang akan tercipta barangkali bukanlah demokrasi melainkan Kallakrasi (demokrasi a la Yusuf Kalla)[]

Advertisements

4 thoughts on “Kritik atas Demokrasi a la Yusuf Kalla

  1. Karl Karnadi

    Sebenarnya kesejahteraan ataupun kemakmuran tidak bisa dicapai tanpa kebebasan politik (tanpa sistem demokrasi, tanpa adanya peranan suara rakyat dalam pemerintahan). Kemakmuran untuk segolongan kecil kroni2 pemerintah bisa saja, tetapi kemakmuran untuk rakyat secara keseluruhan tidak akan bisa dicapai tanpa demokrasi.

    Kuncinya di sini adalah ‘persaingan’. Tidak ada manusia yg sempurna, pemerintah pun jelas tidak sempurna, tetapi bila ada persaingan dan vote rakyat dalam pemilu yg transparan, maka pemerintah tidak akan bertindak ngawur, dan cenderung untuk tidak korup. Bila performa pemerintah buruk, maka pihak oposisi, pesaing2 dari partai pemerintah, akan menggunakan ini sbg alat kampanye mereka untuk merebut hati rakyat dan menggantikan pemerintahan. Pergantian ini bisa dilakukan bukan dengan revolusi melainkan dengan demokrasi, bukan dgn pertumpahan darah dan kehancuran ekonomi, melainkan dgn pemilu.

    Inilah pentingnya adanya demokrasi di Indonesia.

    Like

  2. dospi

    Menurut saya, Jusuf Kalla bukan bermaksud mengatakan demokrasi bisa diganti, tapi hanya sekadar menyampaikan kalau tanpa demokrasi akan sulit mencapai tujuan sebenarnya..

    Like

  3. Aries

    Jusuf Kalla menurut saya tidak salah mengatakan demokrasi hanyalah alat semata karena memang ia bisa saja diganti. Sedangkan persepsi kebebasan itu juga jangan dikaitkan dengan kebablasan karena segalanya ada rel dan etika serta nilai-nilai luhur moralitas baik bersifat universal maupun agama. Jadi saya sependapat dengan JK

    Like

  4. doek

    Penulis terlihat terlalu mendorong demokrasi seolah paling penting dalam bernegara. Tak perlu dukungan referensi yang segunung untuk melihat rusaknya negara ini karena iming iming kebebasan berpendapat, kebebasan politik dan kebebasan kebebasan lainnya. Sepakat dengan pak JK, demokrasi itu cuma alat yang belum tentu cocok diterapkan di segala negara /keadaan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s