Menarilah, Aceh!

Tes

Saidiman Ahmad

Dimuat di Deutsche Welle, 22 Juni 2013. Sumber: http://www.dw.de/menarilah-aceh/a-16898281

Bayangkan anda adalah perempuan yang sedang menikmati liburan di Aceh. Di suatu pagi anda terbangun dan mendapati beberapa polisi berdiri di depan kamar hotel anda. Mereka meringkus dan membawa anda ke kantor polisi. Anda ditahan. Di depan pengadilan anda bertanya kenapa. Mereka menjawab anda telah melanggar peraturan Bupati Aceh Utara tentang larangan menari di depan umum. What? Hukuman anda berlipat karena dalam catatan polisi ternyata satu hari sebelumnya anda duduk mengangkang ketika membonceng ojek di kota Lhokseumawe. Pemerintah kota itu melarang perempuan duduk mengangkang di atas motor. Hah, apa?

Aceh adalah cerita yang tidak selesai ketika perjanjian Helsinki ditandatangani pada 2005. Otonomi khusus yang diperoleh provinsi ujung barat Indonesia ini justru menjadi jendela keterbukaan bagi diterapkannya peraturan-peraturan berbasis syariah Islam atau qanun. Bukan hanya qanun zakat, larangan berjudi, larangan minuman keras dan khalwat, tapi juga sejumlah qanun menyangkut pakaian dan gerak-gerik…

View original post 536 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s