Bintang Laut

Saidiman Ahmad

Koran Tempo, 13 Desember 2009

AKU kembali ke pantai ini. Mengingatmu, perempuan laut.

Akan selalu kuingat ketika di siang hari menjelang asar kita tidak pernah sabar menanti air surut ke tengah. Ketika garis pantai semakin menjauh, kita akan berlari ke tengah. Bergabung bersama anak-anak remaja yang mulai berkumpul. Ada yang memasang tiang gawang. Yang lain membagi diri menjadi dua regu. Seperti biasa, ketika permainan bola sore telah dimulai, kita akan berjalan mendekati pantai yang semakin jauh. Karang-karang aneka bentuk mulai muncul ditinggal laut yang menyusut. Kamu akan mulai mengumpulkan kerang-kerangan tak berpenghuni. Memungutinya. Membuntalnya di baju. Bajumu menjadi basah. Butiran-butiran pasir melekat di kulit perutmu yang tersingkap.

Pernah juga aku menemukan bintang laut yang tersesat. Dia terdampar dan tak sempat memburu air yang keburu surut. Aku memberikannya kepadamu. Kamu tak mau memegangnya. Kamu tidak suka kasar kulitnya. Sementara tentakelnya yang membuka-tutup menakutimu. Tapi aku suka. Bentuknya yang persegi lima dengan…

View original post 1,209 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s