Ayo Bantu Jakarta!

Diskusi : Ayo Bantu Jakarta! – Inspirasi.co.

Dari jauh, saya membaca berita soal Jakarta: banjir, macet, banjir, macet, banjir lagi. Berita tentang harapan bahwa pemerintah kota akan segera mengatasi pelbagai masalah itu. Berita tentang beberapa situs yang berhasil dipulihkan. Berita tentang rencana membangun moda transportasi massal yang modern. Berita tentang pembangunan saluran-saluran air. Berita tentang pembangunan taman-taman kota. Tapi juga berita tentang dana yang terbatas, dihambat, atau memang tidak cukup.

***

Jefrey D. Sachs melakukan rihlah prihatin ke Afrika. Ia bersama Bono. Dari jarak yang sangat dekat, mereka mengamati kemiskinan. Mencoba merasakannya. Berempati. Kemiskinan itu tidak baik, kata Amartya Sen. Ia tidak hanya tidak baik buat orang miskin, tapi juga untuk orang tidak miskin. Ia tidak baik untuk siapapun. Kemiskinan jauh lebih mengganggu dari suara musik yang diputar terlalu keras dari kamar tetangga. Harus dihentikan.

Maka mulailah mereka bekerja. Sachs bertugas meyakinkan para pengambil kebijakan tingkat dunia untuk serius memikirkan dan mencari solusi bagi penyelesaikan kemiskinan. Muncul banyak inisiatif yang melengkapi pelbagai kesepakatan tingkat global untuk mengakhiri kemiskinan. Salah satunya adalah Millenium Development Goals (MDGs). Gagasan utamanya adalah bahwa negara-negara maju harus menyisihkan minimal 0.7 persen pendapatannya untuk disalurkan pada negara-negara miskin.

Bono melobi para musisi, bintang film, para pesohor media di Amerika dan Eropa untuk ambil bagian dalam menanggulangi kemiskinan. Hasilnya, digelar pelbagai konser amal untuk membantu anak-anak miskin seluruh dunia. Muncul trend bagi para artis Hollywood mengadopsi anak-anak miskin Afrika. Para pesohor itu tampil terdepan dalam kampanye anti-kemiskinan. Bill Gates, orang paling kaya sejagad, menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk membantu orang miskin.

Buku Jeffrey Sachs, The End of Poverty, menjadi bacaan yang sangat populer di pelbagai negara. Semua orang mulai memikirkan kemiskinan. Negara-negara maju berlomba menjadi yang terdepan membantu negara-negara miskin. Bukan hanya Amerika dan Eropa, tapi juga Jepang, Cina, bahkan beberapa negara dari kawasan Arab. Lembaga-lembaga donor internasional terus menerus menempuh pelbagai cara untuk mengumpulkan dana. Maka tidak heran jika tiba-tiba, misalnya, muncul iklan pada televisi publik Canberra atau Munich tentang pengumpulan dana untuk bantu orang miskin di Nusa Tenggara Timur. Mereka membangun banyak sekali sekolah, rumah sakit, jalan-jalan raya, dan membiayai pendidikan anak-anak miskin.

Sidang pembaca. Melalui kampanye yang massif itu, penduduk dunia, terutama dari negara-negara maju ternyata bisa digerakkan untuk tujuan mulia menghapus kemiskinan dari muka bumi. Prosesnya sedang dan tentu akan terus berjalan.

Inisiatif untuk membantu negara-negara miskin tentu tidak berjalan dengan sangat mulus. Ada sejumlah kendala yang mengundang kritikan. Para ekonom dan aktivis, mulai dari yang berada di sayap kiri sampai yang ada di sayap kanan liberal melancarkan kritik tajam. Yang di kiri mencurigai bantuan luar negeri itu adalah upaya negara-negara kuat mengkooptasi negara-negara lemah. Sementara yang berada di kanan-liberal sangat skeptis: bantuan luar negeri itu bukan hanya tidak akan berhasil mengubah nasib si miskin, malah akan memperburuk keadaan. William Easterly, misalnya, menyatakan bahwa tidak ada negara yang beranjak maju hanya karena bantuan luar negeri. Sebaliknya, negara seperti Cina, justru menyongsong kemajuannya sendiri dalam sunyi bantuan luar negeri. Mereka yang relatif moderat, seperti Wolfensohn, coba menganalisis bahwa penyebab tidak efektifnya bantuan luar negeri adalah karena korupsi, kebijakan yang buruk, dan lemahnya pemerintahan negara-negara penerima bantuan. Debat ini ingin saya tulis pada bagian lain di forum terhormat ini.

Terlepas dari debat sengit itu, satu hal yang pasti: mobilisasi bantuan dari orang berpunya kepada kaum papa berhasil dilakukan. Orang-orang dari negeri-negeri makmur menyisihkan hartanya untuk membantu orang-orang miskin dari negara dan benua lain.

***

Saya membayangkan orang-orang Jakarta melakukan hal yang sama. Saya bayangkan ada gerakan di luar negara untuk mengatasi persoalan kota Jakarta. Saya membayangkan para pemusik, penyanyi, artis sinetron, pelawak, pengusaha, sastrawan, pemilik media, jurnalis, dan semua orang berduit Jakarta bergerak bersama mengatasi persoalan kotanya. Mereka mengumpulkan dana untuk membeli bus-bus, menutupi kekurangan bus Trans-Jakarta. Mereka patungan mendanai pembangunan MRT. Mereka bersatu padu mendanai pembangunan rumah-rumah susun bagi orang-orang miskin yang tergusur dari waduk-waduk yang dipulihkan. Saya bayangkan Dewa 19, Soneta, Iwan Fals, Gigi, Ayu Ting Ting, dan Agnes Monica menggelar konser-konser amal untuk Jakarta. Saya bayangkan konser-konser itu tidak hanya digelar di Jakarta, tapi juga di kota-kota dunia yang lain. Para musisi berkolaborasi dengan para ekonom melakukan kampanye internasional agar orang-orang kaya dunia tergerak hati membantu Jakarta. Para pengusaha sablon, konveksi, tukang jahit, pemilik percetakan bahu-membahu menyediakan tempat-tempat sampah di seluruh pinggir jalan dan sudut-sudut kota.

Biarkan para anggota DPRD dan pemerintah kota berdebat soal besaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Orang-orang Jakarta bergerak di luar pagar kekuasaan membantu kota. Ayo kita mulai!

“You may say I am a dreamer. But I am not the only one,” kata John Lennon.

Canberra, 31 Januari 2014

*Saidiman Ahmad, Mahasiswa Master of Public Policy, Crawford School of Public Policy, Australian National University.

– See more at: http://inspirasi.co/forum/post/3576/ayo_bantu_jakarta#sthash.Jqn6bKAY.dpuf

Advertisements

One thought on “Ayo Bantu Jakarta!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s