Eucalyptus

Engkau menceritakan kepadaku tentang kotamu. Suatu lembah yang dikeruk lebih dalam. Menjadi telaga. Gedung-gedung bersama pohon tumbuh di sekitarnya. Di pagi hari dan menjelang senja kakaktua putih berjambul kuning bertengger di reranting eucalyptus. Di bawah pohon-pohon berbatang putih itu berlarian kelinci berwarna kelabu. 
Pada suatu hari, kataku, aku ingin ke kotamu. Berjalan di atas padang ilalang tempat hidup koala dan platypus. Melihat rerumput hijau kuning pembungkus bukit-bukit. Atau sekedar mencium aroma daun kayu putih yang di tangkainya melilit possum dengan mata menyala di malam hari. 
Tapi engkau melarangku. Katamu, kota itu tidak cocok untuk aku kunjungi. Udaranya terlampau panas di musim kering. Terlampau dingin di musim gigil. Aku yang sepanjang umur hidup di udara rata-rata tidak akan tahan. Kulit tropisku akan mengkerut di musim dingin, melepuh di musim panas, dan terkelupas di musim gugur. Adapun musim semi. Ia akan datang teramat singkat untuk penderitaanku sepanjang tahun. 

Baca lengkapnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s