Bila Risma ke DKI

Dimuat Media Indonesia, 12 Agustus 2016

Basuki Cahaya Purnama alias Ahok resmi maju dalam Pilkada DKI tahun 2017. Ia didukung oleh tiga partai: Partai Golongan Karya, Partai Nasional Demokrat, dan Partai Hati Nurani Rakyat. Sementara itu, spekulasi mengenai penantang Ahok masih berlangsung. Belum ada titik terang siapa penantangnya. Satu-satunya partai, di luar pendukung Ahok, yang sudah menyebutkan nama adalah Gerindra. Mereka akan mengusung pengusaha Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur DKI. Persoalannya, suara Gerindra di DPRD DKI tidak mencukupi untuk mengusung calon sendiri. Mereka membutuhkan dukungan partai lain.Karena itu, pencalonan Sandiaga Uno masih berada di wilayah remang-remang.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah satu-satunya partai yang memiliki peluang mendukung calon sendiri. Ada dua nama yang muncul ke permukaan. Pertama adalah Basuki Cahaya Purnama. Persoalannya, PDIP dan Ahok nampaknya masih sangat susah sampai pada satu titik kesepahaman.

Di satu sisi, PDIP adalah partai pemenang pemilu di DKI. Mereka berhak mengajukan satu nama calon tanpa koalisi dengan partai manapun. Karena itu, sulit bagi PDIP sebagai pemenang Pemilu melamar seorang calon dari luar partai.

Sebaliknya, Ahok sudah terlanjur muncul sebagai politikus dengan karakter yang tidak mau tunduk pada partai. Dia menawarkan kinerja dan platform sebagai bargaining politik. Dia berkukuh tidak ingin melamar di partai manapun. Dia memasang harga tinggi dengan mendorong relawan mengumpulkan KTP. Dia memberi pilihan yang tak bisa ditawar: didukung partai atau dia akan maju dengan sejuta KTP yang telah terkumpul.

Berbasis Kinerja

Bila PDIP dan Ahok tidak menemukan kata sepakat, maka alternatif terbesar untuk diusung adalah Tri Rismaharini. Risma adalah kader PDIP yang dinilai berhasil membangun Kota Surabaya. Sedikit banyak, PDIP menuai citra positif dari keberhasilan salah satu kadernya ini.

Profil Risma sebagai kepala daerah yang memperoleh apresiasi tinggi dari publik berdasarkan kinerja dianggap alternatif penantan Ahok yang setara. Menurut survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada akhir Juni 2016, elektabilitas Ahok di Ibukota didukung oleh tingkat kepuasan publik pada kinerjanya. Dari dua kali survei opini publik SMRC mengenai kinerja Gubernur DKI Jakarta, tingkat kepuasan publik pada Ahok meningkat dari 63% (Agustus 2015) ke 69,7% (Juni 2016. Apresiasi publik berdasarkan kinerja inilah yang membuat para penantang Ahok kesulitan mencari lawan tanding. Di antara sedikit pilihan itu, Risma adalah figur yang paling potensial.

Walaupun demikian, ada beberapa persoalan yang perlu dicermati bila Risma benar-benar maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Pertama, Risma nampaknya memiliki profil yang sama dengan petahana, Ahok. Dua tokoh ini memiliki kinerja yang baik di mata publik. Elektabilitas mereka berdasarkan kinerja. Keduanya tidak memiliki modal lain seperti kultur, darah, finansial, dan semacamnya.

Dengan modal yang relatif sama, Ahok diuntungkan sebagai petahana. Walaupun Risma begitu popular dan memiliki tingkat penerimaan yang tinggi di Surabaya, bukan hal yang mudah untuk mentransfer itu semua ke Jakarta. Pada Pilkada serentak tahun lalu, Risma menang telak di angka 86,22%. Tapi itu terjadi pada masyarakat di mana dia bekerja, tempat di mana hasil-hasil kerjanya menjadi alat-alat kampanye yang paling efektif. Di Jakarta, dia tidak memiliki kemewahan memamerkan hasil kerja semacam itu.

Sebaliknya, semua hasil pembangunan di Jakarta justru akan diklaim oleh Ahok sebagai petahana. Survei SMRC juga menemukan bahwa 57,4% alasan warga memilih Ahok adalah karena ia dinilai berhasil membuktikan hasil kerjanya.

Kedua, jika Risma maju dan mesin politik pendukungnya bekerja maksimal, sangat mungkin basis pendukung Ahoklah yang akan tergerogoti. Pada survei SMRC (Juni 2016) dengan simulasi tiga nama, elektabilitas Ahok berada di angka 55-58% suara. Mengingat bahwa belum ada satupun nama resmi penantang Ahok yang keluar, angka ini sebetulnya belum terlalu solid. Karena itu, mengingat Ahok dan Risma memiliki kesamaan karakter personal, kemungkinan mereka akan berbagi pendukung. Jangan lupa bahwa 81% pemilih PDIP sekarang ini mengaku akan menjatuhkan pilihan pada Ahok. Jika Risma maju, kemungkinan pendukung PDIP itu akan terbelah. Demikian pula dengan pendukung partai-partai lain.

Kelola Isu

Dalam situasi di mana Ahok dan Risma berebut ceruk suara yang sama, maka calon dengan karakter keunggulan lain bisa menarik manfaat. Katakanlah calon lain itu adalah seorang tokoh agama atau mereka yang menggunakan sentimen agama. Betatapapun rasionalnya pemilih ibu kota, sentimen agama masih memiliki basis pendukung. Jakarta sendiri sejak lama adalah basis partai-partai agama. Jika isu agama dan etnisitas berhasil dimaksimalkan, bukan tidak mungkin baik Ahok maupun Risma akan tumbang di Jakarta. Dan jika itu terjadi, Indonesia akan kehilangan dua pemimpin pekerja dalam satu waktu.

Akhir kata, kehendak untuk memajukan Risma pada Pilkada DKI Jakarta nampaknya perlu dipertimbangkan lebih matang dengan memperhatikan sebesar-besarnya kepentingan publik, baik publik Jakarta, Surabaya, maupun Indonesia secara lebih luas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s