Anak-anak Rumah Susun

Dimuat Media Indonesia, 13 September 2016.

Lapangan itu tidak berumput. Permukaannya tanah merah semata. Belasan anak bermain bola di atasnya. Kaki-kaki telanjang mereka membuat tanah itu mengeras. Semakin kuat memantulkan bola yang jatuh dari tendangan lambung yang tidak sempat dihalau.

Persis di samping lapangan, sebuah taman tertata. Di dalam taman itu ada arena bermain yang dilengkapi perosotan dan ayunan. Warnanya beragam. Beberapa anak yang lebih kecil berlarian naik turun perosotan. Sebagian yang lain berayun-ayun. Ada pula yang sekadar duduk cekikikan.

Sebagian anak-anak itu adalah penghuni rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Pulo Gebang. Sebagian lainnya adalah anak-anak dari rumah susun lain di Jakarta. Bagaimana mereka bisa sampai ke situ? Warga rumah susun ternyata memanfaatkan fasilitas bus TransJakarta gratis yang berkeliling keluar-masuk Rusun. Banyak warga Rusun yang memanfaatkan fasilitas itu untuk jalan-jalan ke Rusun lain. Menikmati suasana baru di taman-taman gratis setiap Rusun.

29357832170_2c510c422a_o
Warga rumah susun memanfaatkan fasilitas bus transjakarta gratis.

Akses pada fasilitas untuk membantu mobilitas warga memang membuka segala kemungkinan. Barangkali pemerintah provinsi DKI Jakarta tidak menyadari bahwa warga akan menggunakan fasilitas bus gratis dengan cara itu. Bus yang awalnya mungkin dimaksudkan agar warga Rusun bisa mengakses tempat-tempat kerja mereka secara lebih mudah dan gratis ternyata bisa dimanfaatkan jauh dari perkiraan semula. Bahkan tidak sedikit warga yang menggunakan fasilitas bus gratis ini untuk sekedar jalan-jalan melihat wajah kota. Sesuatu yang sebelumnya mungkin begitu mahal untuk mereka yang papa.

Social Inclusion

Rusunawa Pulo Gebang terdiri dari blok A sampai H. Dua blok pertama dibangun pada masa pemerintahan Fauzi Bowo, selebihnya dibangun pada masa pemerintah Basuki Cahaya Purnama. Masing-masing blok berbentuk U. Di tengah blok ada ruang kosong. Di ruang kosong itulah dibangun taman, arena bermain, dan lapangan bola mini. Sementara celah antar masing-masing blok dibangun jalan lebar lengkap dengan trotoar yang juga lapang.

29648470935_9d4cc21689_o
Lapangan bola dan taman bermain di dalam Rusun.

Lokasi kompleks bangunan rumah susun ini tidak hanya terdiri dari bangunan, taman dan jalan. Di belakang blok A dan B, terdapat lahan kosong yang lumayan lebar. Kegiatan pertanian dan perikanan air tawar dilakukan di situ. Kacang tanah, kacang panjang, jagung dan tanaman jangka pendek lainnya terlihat tumbuh rindang. Di sepanjang batas kompleks bagian belakang nampak pohon pisang berdaun lebar berjejer. Di tengah lahan terdapat kolam-kolam ikan buatan berlapis terpal. Rapi.

Tidak semua warga mau bertani. Tapi hasil pertanian itu bisa dinikmati bersama. Pada setiap panen kacang atau jagung, warga akan berkumpul di sekitar kantor pengurus Rusun. Di situ, sukarelawan kacang rebus dan jagung bakar menggelar hidangan. Siapa saja boleh mampir. Pertanian di belakang rumah susun itu ternyata memiliki fungsi perekat solidaritas antar warga Rusun.

29567106481_dd18eed9ed_o
Bagian belakang Rusun sengaja dikosongkan untuk kegiatan bertani warga.

Pengurus rumah susun juga memperkenalkan metode pertanian hidroponik. Beberapa pelatih didatangkan. Di sudut kiri bagian depan kompleks rumah susun terdapat bangunan tani hidroponik. Paralon-paralon berdiameter besar disusun memanjang. Di atas paralon itu dibuat lubang-lubang dengan jarak yang sama. Di lubang-luang itu dipasang pot-pot ukuran sedang. Di atasnya tumbuh bibit-bibit bayam dan kangkung. Sudah beberapa kali warga memanen sayuran hidroponik sejak mereka dilatih. Banyak warga lain yang mulai mengembangkan metode pertanian hidroponik di unit masing-masing.

Di lantai-lantai dasar setiap blok, terdapat ruangan-ruangan yang dijadikan toko. Toko-toko itu dikelola sendiri oleh warga. Pelbagai kebutuhan ada di sana, mulai dari sembilan kebutuhan pokok sampai pakaian dan alat elektronik. Beberapa ruang juga dijadikan warung makan beragam rasa: mulai dari warung Tegal sampai warung Manado. Tidak mudah menemukan warung makan Manado di Jakarta, apalagi warung makan Manado yang dikelola langsung oleh orang Manado. Di rumah makan Manado Rusun Pulo Gebang, masakannya mengingatkan pada masakan di warung-warung makan di sepanjang jalan Boulevard atau pinggiran pantai di belakang Mega Mas Manado. Pisang gorengnya. Ah, sudahlah.

29613464726_e253a7e538_o
Potensial jadi sentra ekonomi daerah pinggiran Jakarta.

Warga lain membuka usaha galon, playstation, kue, jual-beli elektronik, salon, rias wajah dan entah apa lagi. Seorang ibu perias wajah mengaku baru saja meningkatkan kemampuan meriasnya. Sebelumnya dia mengikuti kursus merias wajah yang difasilitasi pengurus Rusun. Kemampuan ini membawanya membuka sebuah salon dengan alat-alat perias yang cukup lengkap. Warga Rusun dan sekitar Rusun mulai menjadi pelanggannya. Pelatihan lanjutan yang difasilitasi pengurus Rusun membuatnya memiliki kemampuan baru, yakni merias karakter. Kemampuan ini membawanya memiliki akses untuk merias para artis. Dia mengaku pernah merias Mpok Ati.

Seorang warga lain yang masih muda sedang mencoba merintis usaha rekam video. Dia mulai dari merekam acara-acara pernikahan. Dia bercita-cita akan mengembangkan kemampuannya untuk bisa terlibat dalam produksi film. Dia sangat ingin memiliki kamera dengan spesifikasi dan kualitas tinggi. Dalam waktu yang mungkin tidak terlalu lama, tabungannya akan cukup untuk memberi kamera impiannya itu.

29024016903_54d7a01cd0_o
Perias wajah, salon dan pelanggannya.

 

Semua cerita ini saya hadirkan untuk menunjukkan kompleksitas kehidupan di salah satu Rusun terbesar yang dibangun pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menampung warga yang direlokasi. Kehidupan berjalan tak terprediksi di sana.

Rumah-rumah susun itu seperti ruang terbuka yang polos. Para penghuni yang datang dari pelbagai arah ibukota membawa warna yang berbeda-beda. Difasilitasi oleh pemerintah ibu kota, warga hasil relokasi itu menjalin hubungan dengan sesama warga, membangun kehidupan baru. Delapan ratus keluarga di rusun itu terkoneksi satu sama lain. Saling bergantung.

Bus-bus gratis yang keluar masuk antar Rusun membawa warga masuk ke dalam interkonektifitas yang lebih luas. Mereka terhubung dengan rumah-rumah susun lain. Mereka terhubung dengan ribuan bahkan puluhan ribu warga Rusun lain, warga yang memiliki pengalaman yang hampir serupa. Dari situ solidaritas terbangun. Solidaritas yang mula-mula terbangun karena kesamaan nasib. Selanjutnya pelan-pelan berubah menjadi solidaritas yang lebih organik berdasarkan kepentingan dan kebutuhan.

Namun begitu, pemerintah provinsi juga perlu lebih dalam membangun solidaritas ke luar, yakni dengan masyarakat sekitar. Memanfaatkan ruang-ruang lantai dasar sebagai pusat-pusat ekonomi baru adalah salah satu inisitif penting. Posisi rumah susun di pinggiran kota menjadikannya potensial mengisi kekosongan pusat belanja warga di pinggiran kota.

Kualitas Hidup

Tentu tidak semua kehidupan lama ditinggalkan. Sebagian besar mereka masih mengandalkan penghasilan yang lama. Rumah susun yang lapang itu memberi mereka peluang untuk mencari jalan penghidupan yang baru.

13055384_10154904655699546_3321706729948825351_n
Bus sekolah yang tiap pagi dan petang mengantar dan menjemput anak-anak sekolah warga Rusun.

Tanah lapang di rongga bangunan berbentuk U itu adalah ruang yang kosong. Taman dan arena bermain itu adalah bangunan-bangunan mati yang tak bergerak. Bus-bus transjakarta yang keluar masuk kompleks Rusun itu tidak punya hasrat. Lahan di belakang kompleks Rusun itu diam. Semuanya adalah ruang terbuka bagi para penghuni Rusun. Kegembiraan-kegembiraan yang muncul di taman, lapangan, bus, kamar-kamar rumah membuka peluang bagi warga untuk memunculkan kreatifitas dan inovasi untuk mempertahankan hidup.

Pelatihan, akses pada bank, dan akses pada perusahaan memaksimalkan potensi warga. Minimal mereka tidak lagi memikirkan tempat tinggal, transportasi, kesehatan, dan pendidikan. Semakin banyak warga yang memiliki alat pendingin ruangan (AC). Beberapa warga mengaku di tempat lama sebelum relokasi mereka tidak mungkin memiliki AC, terutama karena rumah yang mereka punya sebelumnya tidak tertutup rapat. Sekarang gedung yang mereka miliki memungkinkan udara AC bersirkulasi dengan baik. Udara dingin di kamar-kamar warga membantu mereka tidur lebih lelap. Mengumpulkan tenaga lebih banyak untuk aktivitas mencari nafkah.

29567140991_1fefa3f94c_o
Ruang dalam salah satu unit Rusun.

Pada dinding-dinding luar unit rumah susun itu juga nampak terpasang pelbagai antena televisi berbayar. Akses pada pendidikan, kesehatan, transportasi, ruang rumah, taman, dan lain-lain telah membawa mereka pada peningkatan kemampuan mengakses informasi. Akumulasi pada perbaikan kualitas standar hidup ini akan semakin membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan yang lebih cerah, terutama bagi anak-anak warga.

29537603302_eafb193ce5_o
Semakin banyak warga yang bisa memasang AC dan berlangganan televisi berbayar.

***

Seorang bocah tak berbaju menggiring bola. Cahaya matahari memantul pada titik-titik keringat di kulitnya yang coklat. Lincah ia lewati dua pemain. Seorang lawan dari samping gesit menghadang. Tapi sang bocah tak kalah cepat mengumpan ke kawan di sudut gawang. Gol.

Advertisements

3 thoughts on “Anak-anak Rumah Susun

  1. Dr. Lany Probojo

    Well done!! Seandainya ada tulisan-tulisan seperti ini untuk setiap rusunawa yang sudah berdiri dan dari berbagai aspek, alangkah baiknya bagi arsip working progress on Jakarta Baru! Thank you for taking me! Ever onward!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s